Jumat, 21 Februari 2020

Haruskah Meniadakan Festival Danau Toba?


Tulisanku Terbit di Harian Analisa 17 Januari 2020



Bapak Presiden Jokowi beberapa waktu yang lalu telah menyatakan bahwa Danau Toba adalah satu dari sepuluh Bali baru yang akan ditargetkan oleh pemerintah pusat siap untuk dikerjakan. Bahkan di akhir tahun 2020 Danau Toba sebagai Bali baru sudah akan di-launching. Dimana untuk penyiapan Danau Toba sebagai objek wisatawan meskipun bukan kelas super premium seperti  Labuan Bajo, Manggarai Barat, sudah betul-betul matang disiapkan oleh pemerintah.

Salah satunya akses jalan langsung jalan tol yang akan bisa menembus kawasan Danau Toba dari Medan. Dimana sudah betul-betul memangkas waktu perjalanan dari Medan ke sana setelah Medan-Tebing Tinggi sudah selesai dua tahun lalu. Kini tinggal meneruskan rute Tebing Tinggi ke kawasan Bali baru tersebut. Dan pengerjaannya ditarget selesai di tahun 2020 ini.

Tentu permasalahannya bukan hanya terletak kepada pembangunan infrastruktur yang baik saja, pemerintah juga harus menyiapkan banyak unsur lainnya, yang menarik para wisatawan untuk datang. Seperti budaya khas, makanan khasnya hingga produk cenderamata khas yang harus dipersiapkan.

Terkhusus untuk penyelenggaraan event-event budaya seperti halnya Festival Danau Toba (FDT) yang pelaksanaannya ternyata sudah puluhan tahun. Berdasarkan data dari situs Kemenpar jelas disebut bahwa Festival Danau Toba sudah ada sejak di tahun 1980. Dimana namanya waktu itu masih disebut dengan Pesta Danau Toba.

Itu berarti pelaksanaan Festival Danau Toba sudah berjalan atau sudah ada sejak 40 tahun yang lalu. Tapi pertanyaannya evaluasi tentang pengadaan event tahunan ini benarkah sudah berdampak bagi peningkatan kemakmuran warga Sumatera Utara itu sendiri? Apakah selalu sama acara demi acara yang digelar tanpa adanya kejutan-kejutan tersendiri setiap tahunnya yang mungkin harus dipertontonkan kepada para pengunjung?

Kemudian jelas dalam web kemenpar tersebut bahwa Festival Danau Toba merupakan event yang menggabungkan 3 unsur sekaligus, yakni budaya, pariwisata dan olahraga. Artinya memang tidak melulu hanya tertuju kepada pengembangan pariwisatanya. Festival danau toba juga sangat berperan di dalam peningkatan dua bidang lain, yakni memajukan sekaligus melestarikan budaya-budaya yang ada di Sumatera Utara juga prestasi olah raga kita.

Artinya jika di tahun 2020 ini, Bapak Gubernur Sumatera Utara mengaminkan rencana dari Kepala Dinas Pemprovsu, Ria Telaumbanua yakni meniadakan Festival Danau Toba tersebut, bukankah telah mengabaikan dua unsur lain selain unsur pariwisata tersebut?

Bahkan Bapak Edy juga menyebutkan FDT tersebut kurang bermanfaat. Karena berkaca pada pengalaman di tahun lalu, 2019, perhelatan festival tersebut ternyata tidak berjalan sukses. Festival Danau Toba yang direncanakan diadakan selama 4 hari  pada 9-12 Desember lalu ternyata sepi pengunjung.

Tapi pertanyanyaannya untuk pengalaman kegagalan pelaksananaan event akbar tersebut, sudahkan dilakukan evaluasi? Kenapa hal tersebut sampai bisa terjadi?

Tentu kegagalan tersebut tidak terlepas dari kasus besar yang sedang menimpa warga Sumut, yakni wabah babi yang menyebabkan banyaknya babi-babi warga yang mati mendadak. Akhirnya dikubur massal. Kemudian terjadinya hampir merata di seluruh kabupaten dan kota yang mengelilingi Danau Toba tersebut. Banyaknya babi yang mati telah membuat ekonomi warga Sumut turun drastis.

Kedua, pelaksanaan FDT sangat berdekatan dengan acara momen sakral orang-orang nasrani. Mengakibatkan tidak bisa lagi konsentrasi baik untuk menyiapkan kebutuhan yang sangat besar baik natalan maupun tahun baruan, apalagi untuk sekedar menyaksikan perhelatan festival tersebut.

Akibatnya kebutuhan akan baju baru, kue-kue untuk panganan, dan lainnya, warga Sumut lebih dominan untuk menahan dulu. Seperti yang dialami oleh salah satu rekan saya, seorang  penjual kue-kue kering. Dia bersama penjual kue-kue musiman tersebut mengaku sangat mengeluh di akhir tahun lalu. Pendapatannya merosot tajam, jualannya tak laku, akhirnya banting harga berharap modal bisa balik.

Untuk alasan yang kedua tersebut di atas, Kadis Pariwisata Pemprovsu hendak berencana menukar jadwal Festival Danau Toba tersebut jatuh pada liburan anak sekolah pada bulan-bulan Juni setiap tahunnya. Maka untuk penyiapan festival tersebut yang menurutnya sangat singkat, yakni berkisar kurang lebih 6 bulan kedepan, dipandang tidak efektif untuk penyelenggaraan FDT di tahun ini.

Oleh karena itu Gubernur dan seluruh jajarannya sepakat ambil keputusan meniadakan Festival Danau Toba di tahun 2020 dan akan kembali diadakan di tahun 2021. Rencana tersebutpun menimbulkan banyak polemik dan kritikan dari warga Sumut. Salah satunya Togu Simorangkir, pegiat literasi dari Yayasan Alusi Tao Toba, seperti yang dilansir oleh Tribunnews.com (10/1/2020), menyatakan sangat menyayangkan keputusan tersebut.

Pasalnya saat dirinya menginisiasi festival babi waktu lalu tak butuh waktu yang lama dan biaya yang besar. Tapi dampak dari festival yang ia buat pada Oktober 2019 lalu ternyata langsung diliput banyak pihak, bukan hanya media dari dalam negeri, media luar negeri juga sampai datang untuk meliput acara tersebut.

Festival tersebut memang disamping sebagai model penolakan terhadap rencana wisata halal di Danau Toba, juga di dalamnnya dikemas dengan acara literasi pengelolaan dan manajemen ternak babi yang baik. Festival tersebut juga berdampak pada peningkatan warga Muara, karena ternak mereka bisa dipastikan dibeli untuk pemenuhan rangkaian acara demi acara yang digelar waktu lalu.
Kemudian kembali lagi kepada pertanyaan judul di atas, haruskah meniadakan festival danau toba? Jika ternyata dampaknya untuk tahun lalu tidak begitu berdampak, apakah memang persiapan sudah betul-betul matang dikerjakan baik oleh pemerintah maupun panitia? Sudahkah mengajak seluruh stakeholder yang ada dan tentu bukan hanya mengajak pihak pemerintah yang ada di daerah-daerah yang ada di bawahnya, juga seluruh budayawan, tokoh masyarakat dari berbagai daerah apakah sudah dilibatkan kembali?

Sudahkah duduk bersama di dalam membahas, apakah yang harus dibuat, kegiatannya apa-apa saja yang harus dikerjakan? Atau mungkin tidak persiapan lagi karena berkaca pada pengalaman-pengalaman dulu yang mungkin sudah biasa dikerjakan sehingga tak perlu melakukan banyak persiapan lagi? 

Bisa disimpulkan untuk peniadaan festival danau toba ini adalah sebuah keputusan yang telalu cepat untuk diambil. Sebab sesungguhnya ada banyak inovasi atau jalan keluar untuk meningkatkan jumlah wisatawan datang ke Sumatera Utara. Dan jika festival danau toba ini betul-betul dimatangkan acaranya tentu ini adalah bagian dari upaya kita mengenalkan Danau Toba sebagai salah satu Bali baru yang akan bersinar dan maju pesat. Dan jika sudah maju bukankah akan menambah perekonomian masyarakat setempat?

Kemudian khusus untuk peningkatan prestasi olah raga kita lewat festival danau toba, kenapa tidak membuat pertandingan berjenjang dan dibuat kerjasamanya dengan pekan olah raga daerah (porda) ataupun porwil? Bahkan untuk pekan olah raga di tingkat pelajar maupun mahasiswa di tingkat Sumut tentunya akan bisa di-link-kan dengan FDT.

Dimana jika betul-betul ada kerjasama yang matang antara dinas pariwisata dan dinas olah raga pemrprovsu bukankah akan sangat meramaikan festival ini? Bahkan FDT bisa sebagai wadah atau ajang yang siap untuk mengangkat prestasi-prestasi olah raga terbaik di Sumatera Utara?
 
Penulis adalah pemerhati masalah sosial dan staf pelayan di Yayasan PESAT  

Rabu, 06 November 2019

5 Alasan ku Tak Bisa Berpaling dari Kompasiana



Tampilan Dashboar di Kompasiana, Foto Pribadi

Dalam catatan yang ada dalam notebook, tulisan-tulisan yang sudah kutorehkan sepanjang aku menulis selama kurang lebih tiga tahun yang lalu, bisa dibilang masih menyentuh angka ratusan jumlahnya. Dan kuakui sejak bersama dengan kompasiana tepatnya pada tanggal 20 Mei 2016 yang lalu, kompasiana adalah cinta pertamaku. Artinya diriku bisa menjadi seperti sekarang ini tak lepas dari andil kompasiana yang terus menginspirasi bahkan menghantui diriku, jauh sebelum diriku akhirnya memutuskan untuk menulis di blog yang satu ini.

Dimulai dari yang namanya coba-coba untuk mulai tulis apa saja, baik itu pengalaman, buku-buku yang baru dibaca hingga menggambarkan situasi sosial, ekonomi dan politik bangsa kita yang kekinian, semuanya itu adalah proses yang menolongku untuk terus bertumbuh dan bertumbuh dalam menulis.

Di tahun 2019 ini bisa dibilang tahun mulai menikmati yang namanya bonus-bonus setelah tulisan-ku ternyata mendapatkan hati di mata para pembaca. Khususnya di Kompasiana. Dan baru tahun lalu diriku sepertinya baru mendapatkan centang hijau. Setelah baru ngeh dengan aturan-aturan yang disebutkan oleh Kompasiana.

Dan berjalan seiringnya waktu, dan setelah melalui permenungan juga sih, maka ini alasanku tak bisa berpaling dari Kompasiana. Artinya 5 hal ini yang membuat aku semakin sayang sama Kompasiana.
Alasan pertama, Kompasiana adalah cinta pertamaku atau cinta mula-mula yang sering menghantuiku.

Sebab seperti yang sudah saya kemukakan di awal, jatuh hati kepada Kompasiana karena termotivasi oleh para penulis-penulis kompasiana. Dimana terus memperhatikan para penulis-penulis itu sebelum akhirnya memutuskan untuk menulis juga di media yang sama di tahun 2016 lalu.

Termotivasi karena bisa terkenal hanya lewat sebuah tulisan. Dimana waktu itu meskipun belum dapatkan keuntungan secara finansial, asal sudah terkenal saja, artinya tulisan-tulisan kita banyak dinantikan, adalah sebuah kebanggaan tersendiri.

Disamping termotivasi, dengan munculnya tulisan-tulisan di kompasiana apalagi saat-saat membuka gawai ataupun di depan komputer yang terkoneksi dengan internet, kompasiana seakan menghantui ku dan bertanya, kapan mulai nulis bung? Akhirnya karena gak tahan lagi, maka mulai mencoba menulis.

Kedua, karena Kompasiana selalu di hati, meskipun banyak media-media yang lain yang mungkin sama dan sejenis, kompasiana sebuah media yang tak tertinggalkan oleh jari-jariku ataupun pikiranku.      

Kuakui bahwa bukan hanya media kompasiana saja yang kuikuti. Ada sejumlah media-media yang lain, seperti Seword, Geotimes,Qureta hingga terakhir UC Media dari Alibaba. Bahkan media cetak seperti Harian Analisa yang menerima opini para pembaca, tak bisa membuatku untuk berpaling dan meninggalkan kompasiana. Karena memang nempel dan bahkan mungkin seperti lagu yang berjudul,  Salah Apa Aku, dengan liriknya, entah apa yang merasuki-mu? Maka jawabannya adalah Kompasiana.

Sehingga hampir setiap pagi dibangun tidurku, bisa dipastikan langsung mengecek dan mengakses kompasiana selalu. Artinya tak ada hari tanpa melihat Kompasiana.

Dok Pri

Alasanku ketiga, mengapa diri ini semakin greget dengan Kompasiana? Karena memang kompasiana mengajak para penulis bertumbuh lewat komunitas-komunitasnya. Dimana baru kali ini aku bisa kenalan dan baru bergabung dengan para komunitas penulis kompasiana yang ada di Medan.

Hal ini jarang dilakukan oleh media-media lain, bahkan bisa dibilang hampir tak ada media yang mau bersedia menolong para penulisnya bertumbuh lewat komunitas. Padahal dengan gerakan lewat komunitas, maka sesungguhnya perubahan sosial masyarakat kita dari pesimis ke optimis akan bisa terealisasi. Sebab kekuatan satu orang tentu tak akan terasa jika dibandingkan dengan kekuatan sesama komunitas melakukan sebuah gebrakan terjadi di masyarakat kita.


Lewat sebuah event yang dibuat oleh Kompasiana waktu itu diadakan di Kota Medan. Kompasiana kerjasama dengan Semen Padang, membuat sebuah event Indonesia #BicaraBaik #DariMedan #UntukIndonesia. Dengan mendatangkan pembicara-pembicara yang cakep supaya kita para warganet bisa menularkan atau menghasilkan postingan-postingan yang positif.

Sebab berita-berita hoaks dan negatif kerap lebih dominan menghiasi media sosial kita.Maka dengan hadirnya Kompasiana dan Sement Padang waktu itu, berharap para peserta yang hadir bisa menularkan atau berbicara baik dengan semua orang yang bisa kita jumpai dan semua orang yang mungkin bisa kita jangkau lewat sebuah tulisan ataupun postingan kita.

Setelah event itu selesai akhirnya bisa bergabung dengan Komed (Kompasianer Medan). Bahkan sampai sekarang terus komunikasi, bahkan sekali-kali ngopi bareng di rumah teman yang sedang ada hajatan atau di waktu-waktu tertentu.

kolase screenshot (dokpri)

Alasan keempat, bonus-bonus yang ditawarkan dan event-event yang diadakan cukup membuat hati dan kantong kita dipenuhi sukacita. Artinya sekalipun tidak menang dalam event tersebut, ada sebuah kesenangan yang tak terkatakan, bahwa ternyata kita bisa berkontribusi terhadap sebuah isu-isu penting yang sedang dihadapi.

Apalagi kalau menang, alhamdullilah pasti akan melompat-lompat kegirangan dan juga sujud syukur.  Dan khusus di tahun ini ternyata aku bisa merasakan apa itu arti sebuah kemenangan yang sesungguhnya. Setelah melalui banyak proses serta persiapan ketika akan menulis untuk ikutan lomba tersebut, ternyata akhirnya bisa terbayar seluruh keringat dan pengorbanan yang sudah keluar.  

Untuk event Kompasiana, diriku sudah dua kali di daulat sebagai pemenang. Pertama dari event lomba BCA sebagai finalis terbaik. Kedua dari Kemensos dalam program Harapan Kita sebagai juara pertama.

Gajian dari Kompasiana (dokpri)

Disamping itu juga, sejak Januari hingga Juli lalu, bisa merasakan gajian dari Kompasiana karena memang mendapatkan reward di 7 bulan waktu itu. Baru berhenti dapatkan gaji dari Kompasiana karena sedang ada mengerjakan proyek lain yang sedang kuimpikan juga.

Imbas dari tulisan saat ikut lomba atau event dari Kompasiana juga, yaitu tentang Milenial dan Pertanian Indonesia bekerja sama dengan Kementerian Pertanian waktu itu. Diriku memang tidak menang, tapi gara-gara tulisan itu, diriku akhirnya menemukan sebuah solusi atau cara bagaimana memajukan pertanian Indonesia, bagaimana mencukupi pangan Indonesia, dan bagaimana para milenial terlibat di dalamnya?  



Tak ada cara lain selain melibatkan diri ini terjun dalam pertanian. Sekaligus mempraktekkan apa yang sudah kita tulis, sebab memang kebanyakan para penulis sih kebanyakan bisa berteori lewat tulisan tapi kalau disuruh praktek mungkin agak sulit.

Sehingga ada kurang lebih tiga bulan vakum menulis karena sedang fokus mengembangkan pertanian secara hidroponik. Mulai dari merancang sistem pengairannya, memulung barang-barang bekas dan membersihkannya, hingga membeli bibit-bibitnya dan akhirnya  menanam. Semuanya itu memakan waktu yang tak sedikit. Pikiran, tenaga, perasaan bahkan uang-pun terkuras gara-gara mau mengeksekusi hasil tulisanku dalam bidang pertanian tersebut.

Panen Kankung (18 September 2019)

Dan baru bulan Oktober, bisa agak longgar waktunya untuk menulis kembali, karena semua yang kurancangkan bertani dengan sistem hidroponik sudah bisa berjalan bahkan menghasilkan. Sayuran-sayuran, seperti kankung, selada hingga sawi sudah diorder oleh tetangga-tetanggaku, kawan sekerja hingga rumah makan yang ada di daerahku.

Alasan kelima, kompasiana punya event spesial di tiap tahun-nya yakni konvasianaval. Event tersebut merupakan event akbar dimana memungkinkan para ribuan blogger bisa berkumpul bersama. Menghadiri acara tersebut akan ada banyak inspirasi yanga akan didapatkan, karena memang mengundang atau menghadirkan para pembicara atau tokoh-tokoh nasional yang penuh dengan segudang pengalaman dan solusi. Maka ketika sudah pulang dari sana akan ada sebuah api semangat baru  untuk bisa berkarya lebih.

Pengennya untuk tahun ini bisa pergi ke sana, tapi sepertinya masih terkendala diongkos. Padahal sudah regristrasi online dan sudah dapatkan QR code sebagai tiket bahwa kita sudah terdaftar. Untuk tahun ini sepertinya hanya bisa berharap saja, dan hanya satu doa ku, semoga ada donatur yang bisa talangin transportnya saja. Pasti akan sangat berterimakasih sekali dan bersyukur bangat.


Kemudian di event itu-pula akan diumumkan para kompasianer pilihan yang akan mendapatkan award atau pengghargaan spesial. Ada sekitar 7 penghargaan yang mungkin bisa kita dapatkan. Dan satu-satunya penghargaan yang mungkin kutunggu-tunggu dan namaku bisa diumumkan suatu saat nanti, adalah Kompasianer of the Year...

Dan ketika aku boleh mendapatkan itu, entah di tahun berapa-pun itu, tapi harapannya paling lama lima tahun lagi, maka itu adalah pencapaian terbesarku di dalam dunia kepenulisan. Semoga.

Terakhir, tak lupa untuk mengucapkan selamat ulang tahun di #11TahunKompasiana. Sungguh kompasiana menjadi satu-satunya flatform blogging yang #BeyondBlogging .   

#11TahunKompasian
#BeyondBlogging

        

Minggu, 09 Juni 2019

Benarkah Rp.20 juta per Unit Bus, Mudik DKI Murah, Cek Harga, Itu Bisa Sewa 1 Bulan?



Bersyukurnya juga ada banyak tersedia dari pemerintah kita untuk pengadaan layanan mudik gratis. Bahkan salah satu sang penguasa di DKI-pun yang katanya orang yang pertama mengadakan mudik gratis di lingkungan DKI, merasa begitu berbangga bisa memberangkatkan puluhan ribu orang pulang ke kampungnya.

Tapi di tengah-tengahnya ada banyak gunjingan karena sang penguasa DKI tersebut disinyalir permainkan jumlah besaran anggaran.

Inilah kekuatan dari media yang begitu ketat yang bisa menarik setiap isu-isu yang terpampang atau diambil oleh para pemerintah saat ini. Sehingga kalau tidak segera diklarifikasi oleh yang bersangkutan, maka isu yang disebarkan itu bisa jadi mengandung kebenaran yang masih akan terus dipegang.

Seandainya media tidak menyorot, entah kemana lah itu semua anggarannya. Dan para bawahannyapun  langsung klarifikasi pernyataan dari sang bosnya itu.

Dimana seperti yang dilansir oleh kompas.com (9/6/2019) bagaimana anggaran pemerintah provinsi DKI seakan menjadi pertanyaan dan gunjingan banyak pihak. Setelah menganggarkan untuk anggaran mudik mereka di tahun 2019 ini sebesar Rp.14 miliar tersebut, ternyata jika dibagi kepada para pemudik yang berjumlah 17.427 orang maka didapatkan per orangnya sebesar Rp.823.500,-.

Tentu hal ini mengundang banyak pertanyaan, terutama kepada sang Gubernur sendiri yang seakan memberikan angka yang terlalu besar untuk penanggaran biaya mudik gratis dari pemerintah. Sebab untuk melakukan mudik paling besar akan mencapai 500 ribuan per orang, dan tentu tidak bisa pukul rata dan akan disesuaikan juga berdasarkan jauhnya.

Tapi oleh Dinas Perhubungan DKI pun akhirnya membantah tentang anggaran isu tersebut. Bahwa khusus untuk sewa bus aja anggaran yang dikeluarkan hanya hampir Rp.11,5 miliar. Total Rp, 14 miliar tersebut karena ada anggaran untuk sewa truk untuk mengangkut motor para pemudik tersebut. Jadi jika dihitung-hitung, maka total angaran yang dikeluarkan oleh pemerintah provinsi DKI Jakarta, per orangnya anggarannya hanya Rp.358 ribu per orang.

Dengan perhitungan sewa per busnya anggarannya hampir Rp.20 juta pulang pergi. Dengan total armada bus yang disewa sebanyak 594 bus jumlahnya. Meskipun dinyatakan perbus-nya sebesar Rp.20 juta per tiap unitnya, hal ini pun disinyalir juga masih terlalu besar anggarannya.

Apalagi ini sekelas anggarannya pemerintah ibu kota Indonesia, Jakarta. Tentu akan ada harga-harga khusus yang bisa diberikan oleh jasa penyedia transportasi yang ada bagi kepentingan pemprov DKI khususnya.


Coba kita bisa mengecek harga dari tarif-tarif bus yang ada. Dimana untuk kategori dalam menjalankan program mudik gratis tersebut tentu bisa saja masuk dalam tarif bus pariwisata yang ada. Dimana bukan satu saja yang sanggup menyediakan anggaran di bawah 10 juta per busnya. Bahkan ada banyak penyedia jasa layanan bus tersebut yang juga memberikan harga tarif bus yang jauh lebih murah.

**Pertama web dari  Tunas.trans.web.id**    

Untuk tujuan yang paling jauh saja dengan durasi waktu selama 5 hari pulang pergi dengan jasa mereka, hanya berkisar Rp. 9,3 juta. Itu artinya bus tersebut-pun jika tetap distand-by kan di masing-masing poll tiap-tiap daerah yang dituju, anggaran segitu masih sangat cukup.

Sedangkan bagaimana yang dianggarkan pemprov DKI, yakni sebesar 19,3 juta per busnya? Maka kira-kira selisih harga dari kota tujuan terjauh saja, Pemprov DKI bisa mengantongi uang Rp.10 juta per busnya.

Tentu harga per busnya akan berkurang jika menuju kota yang tidak begitu jauh dari Surabaya, seperti Semarang, dan beberapa kota-kota besar lainnya di Jawa Tengah dan di Jawa Timur. Berapa potensi uang yang bisa ditilap?

**Kedua, Tarif dari Jayatransportindo.com**

Untuk bus ini jauh lebih ngeri jika anggaran yang dianggarakan DKI nilainya seperti di atas tadi Rp. 19.3 juta perbulan. Di penyedia jasa layanan transport tersebut anggaranya untuk wilayah dalam provinsi saja, sewa per busnya, 1 bulan hanya Rp. 25 juta saja.

Artinya dengan anggaran sebesar Rp.19 juta sekian, Pemprov DKI usai melakukan hajatan mudik gratis pada lebaran, uang yang tersedia masih cukup untuk lakukan jalan-jalan selama kurang lebih dua minggu lagi.

Jadi murahnya dimana, anggaran DKI Jakarta yang sebesar itu? Untuk urusan ini, harusnya KPK bisa mengawasi dengan betul pemakaian anggaran yang mencapai Rp.14 miliar tersebut. Benar gak nilai segitu yang dikeluarkan mereka? Atau upaya untuk masuk kantong pribadi.   

Selasa, 16 April 2019

Dibalik Viralnya Sexy Killers, dari Ramuan Hingga Data-datanya, Real Pojokkan Jokowi-Maruf

 
Entah maksud apa dari penayangan video Sexy Killer yang boleh dikatakan baru 3 hari saja tayang, di hari ketiga ini, tayangan per  dua jamnya traffic dari viewnya bisa meningkat 500 ribuan. Dimana jika kita cek peningkatan dari view-nya sungguh amat mencengangkan dan menggoyaang konstelasi dan kepercayaan dari para pemilih pemula yang akan mungkin-mungkin mengalihkan pilihannya.

Dimana total viewnya saja per hari ini Selasa (16/4) pada pukul 19.00 WIB sudah mencapai 7,9 juta. Padahal pukul 17.00 lalu angka trafficknya sekitar 7,4 juta. Maka kita tinggal melihat betapa angka dasyatnya nanti kira-kira hingga pada pukul 00.00 WIB. Apakah akan menyentuh angka 10 juta penonton?


Penulis sendiri melihat secara garis besar bahwa tayangan ini justru sangat memojokkan pihak Jokowi dan orang-orang yang ada di belakangnnya. Terutama amat sangat menyerang Bapak Luhut Binsar Panjaitan. Maka jika melihat film ini, mungkin kita harus memasang kecermatan mata kita di dalam melihat angka-angka ataupun data-data yang ditampilkan.

**Melihat Ramuannya**

Adapun ramuannya boleh dibilang sangat apik di dalam menyampaikan sejak dari awal atau di pembukaannya. Di awali dengan kisah seorang sepasang suami istri yang baru menikah dan bagaimana mereka menghabiskan item per item listrik yang dihabiskan dengan peralatan-peralatan yang ada di rumah tangga kita pada umumnya. Seperti laptop, TV, smartphone, kulkas dll.

Bahkan boleh dibilang pembukaannya sangat spektakuler merebut perhatian kita. Apakah akan bentuk drama atau tidak? Tapi akhirnya yang dimunculkan persis seperti omongannya Bapak Sandiaga Uno, Ibu ini, Ibu itu, Bapak ini dan Bapak itu. Sehingga dengan kesaksian satu, dua dan tiga orang saja maka akhirnya bisa menyimpulkan bahwa apa yang sudah dikerjakan oleh Pemerintah selama ini betul-betul menyengsarakan rakyat secara keseluruhan.


Kemudian pada isi atau kontentnya tentang upaya untuk menolong lingkungan kita dan bagaimana terganggunya si pembuat video akan PLTU dan bagaimana batubara di keruk oleh perusahaan-perusahaan besar yang didalamnya ada orang-orang pemerintahan. Bagaimana seolah-olah Bapak Luhut Panjaitan-lah yang berada di belakang seluruh perusahaan-perusahaan yang berkuasa di dalam merealisasikan mega proyek  listrik yang harus dikerjakan pada zamannya Jokowi.

Dan di bagian penutup bagaimana wanita-wanita seksi yang seolah ingin memanjakan mata kita seakan ingin menunjukkan bahwa the *sexy is the real killer.* Supaya judul sama isi sama nyambungnya.

**Melihat Data-Data yang ditampilkan**


Bagi yang sudah menonton, mungkin kita sama-sama mencoba melihat detil demi detil data-data yang ditampilkan di dalam video tersebut. Dimulai dengan skenario di menit 23 :05, PT yang dimiliki oleh Luhut Panjaitan yang perusahaan Induknya PT Toba Bara,yang mempunyai 3 anak perusahaan yakni PT Adimintra Baratma Nusantara (13 lokasi), PT Trisena Mineral Utama (14 lokasi) dan PT. Indomining (14 Lokasi). Serta satu anak perusahaan, yakni PT Kutai Energi (9 Lokasi). Dengan total lahan yang dikuasi hanya 14.000 HA.  


Kemudian di menit 38:57, ditunjukkan bagaimana akhirnya PT Saratoga Investma Sedaya yang dimiliki oleh Sandiaga akhirnya dijual  ke PT Toba Bara dengan nilai Rp.130 Miliar. Kemudian ada wawancara Aiman dengan Sandiaga yang mengakui sahamnya memang dijual di 3 hari berturut-turut bulan November 2018, 26,27, 28 November  dengan nilai : 10 juta, 39,4 juta dan 28 juta lembar saham. Seakan-akan PT Toba Baralah yang kini akhirnya menguasai saham yang dimiliki oleh PT Saratoga.

Lanjut tentang data PT Rakabu Sejahtera yang dimiliki oleh Jokowi, yang dinyatakan dalam menit 1:07:45, bahwa PT tersebut kini bukan hanya bisnis tentang mebel dan furniture, pengeÄ«lolaan kayu, pengangkutan hingga kebutuhan rumah tangga, juga sudah melebarkan bisnisnya  dalam bidang konstruksi, pembebasan lahan, real estate, properti, pengerjaan beton, instalasi mesin, jaringan telekomunikasi, multimedia, reklame dan perikalanan dan pengembangan wilayah transmigrasi.


Dimana dinyatakan bahwa PT Toba Bara yang dimiliki oleh Luhut bersama tim Bravo 5 pada tiga anak perusahaannya, telah memberikan modal awal untuk mengembangkan PT Rakabu Sejahtera sebesar Rp.31 miliar untuk bisa mengembangkan bisnis dari mebel ke seperti yang ditunjukkkan di atas, yakni ke berbagai sektor.

Bahkan dinyatakan lagi bagaimana Gibran Rakabuming sebelumnya menjadi direktur PT Rakabuming tapi sekarang digantikan oleh anak bungsunya Kaesang Pangerap. Padahal jika kita lihat bagaimana Kaesang sendiri, statusnya masih kuliah di Singapura, kemudian dia juga sibuk dengan bisnis pisangnya. Apakah sempat mengurus bisnis PT Rakabu Sejahtera? Apalagi Gibran, yang jelas-jelas punya bisnis martabak, dan kini sudah mulai mengelola di beberapa tempat lainnya juga.

Jadi untuk hal ini, kira-kira data-datanya semua ngibul alias masih butuh konfirmasi lebih lanjut lagi. Sebab kita lihat sendiri, Bapak Jokowi sendiri tidak memberikan kesempatan sama sekali kepada anak-anaknya untuk menggunakan kekuasaan yang dimiliki papanya dinikmati oleh anak-anaknya. Bahkan untuk jualan pisang atau martabak saja dilarang untuk menjualnya ke pemerintahan.

Kemudian di menit 1:14:03 mencoba menghubungkan ke Kyai Maruf Amin lewat bisnis syariah yang seolah-olah dikeluarkan olehnya melalui badan usaha syariah di MUI. Dimana pemberian label halal ke 6 perusahaan dari 10 penambang terbesar di Indonesia,  dicurigai ada upaya-upaya terselubung. Yakni ke PT Adaro Energy, Indika Energy, IndoTambangraya Mega (TMG), Harum Energy, Bayan Resources, Tambang Batu Bara Bukit Asam PT Toba Bara Sejahtera (TOBA).


Diduga 10 penambang ini akan menikmati kue usaha pengembangan 35 ribu Mega Watt listrik teralisasi di Indonesia. Sebab di samping pengembangan PT Penambangan tersebut juga berdiri PLTU yang diduga menjadi biang keladi perusak lingkungan terbesar di Indonesia ini.

Sehingga diduga besar hubungan dan adanya unsur kepentingan dari masing-masing pemerintahan yang sedang berkuasa saat ini dan bagaimana proses majunya mereka untuk kembali berkuasa.


Padah/al kita ketahui sendiri bagaimana Kyai Maruf Amin sudah tidak menjabat apa-apa lagi di MUI. Tapi di video tersebut jelas menunjukkan bahwa ada unsur kepentingan bisnis yang sedang terjadi.

Maka kesimpulannya apa yang bisa kita dapatkan dari viralnya video Sexy Killer di atas? Benar-benar ingin merusak bahwa jalannya pemerintahan sekarang-pun yang sudah baik saja, dirusak oleh data-data yang dimunculkan sekarang ini. Ingin menyatakan bahwa pemerintah bukan hanya turut ambil bagian didalam merusak lingkungan alam kita, juga ada unsur kepentingan bisnis dari masing-masing politikus yang sedang berkuasa ingin mengamankan usahanya yang kini sedang berkembang.

Oleh karena itu, mungkin ada baiknya dari pihak TKN segera mengkonfirmasi dari viralnya video movie ini. Sebab kita masyarakat ingin tahu data dan fakta kebenaran sebenarnya bagaimana?
   

4 Aspek Ancaman di Hidup Kita dan Covid 19

(Hizkia Bagian satu- Yesaya 36) Siapa yang tidak pernah mendengarkan kata-kata ancaman dalam tiap kehidupan kita? Bisa dipastika...