Tampilkan postingan dengan label Peristiwa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Peristiwa. Tampilkan semua postingan

Selasa, 13 Maret 2018

Menjadi Menkeu Terbaik Dunia Kemudian Gelar Kehormatan Tidore Hingga Penghargaan DPR, Fadli Zon Bisa Apa?





Orang berprestasi bisa dipastikan akan terus berprestasi. Dari mendapatkan satu penghargaan hingga ke penghargaan yang lain. Karya dan prestasi itu ternyata selalu ditunjukkan Ibu Menteri Keuangan kita, Ibu Sri Mulyani. 

Dimana setelah dunia mendaulat Ibu Sri menjadi Menteri Keuangan terbaik di dunia, yang hanya diberikan kepada satu orang saja setiap tahunnya. Kemudian pada waktu lalu, 8 Maret 2018, ternyata masih mendapatkan lagi penghargaan dari kesultanan  Tidore.

Sewaktu beliau berkunjung ke Tidore, seperti yang dilansir Kompas.com (12/3/2018), mendapatkan kembali gelar kehormatan dari Kesultanan Tidore.

“Sultan Tidore mewakili kesultanan Tidore memberikan kepada saya anugerah gelar kehormatan adat Kesultanan Tidore sebagai 'Ngofa Bangsa Ma Guraci' atau Putri Bangsawan Terbaik Saya secara pribadi dan institusi mewakili Kementerian Keuangan, menerima penghargaan yang diberikan Sultan Tidore sebagai suatu bentuk harapan yang dititipkan kepada pundak kami semua" ujar Sri Mulyani.

Dengan rendah hati Ibu Sri Mulyani menerima penghargaan itu. Selalu membawa pemerintahan Jokowi atas segala kinerja baik yang terus dikerjakan, maka beliau didaulat untuk mendapatkan pengharggan tersebut. Tidak pernah membawa penghargaan tersebut sebagai ranah pribadi atau pencapaian yang ia terima bukanlah hanya sekedar pencapaian pribadi semata saja. Ia tahu dan sadar bahwa kinerja baik dan gemilang yang ia kerjakan, merupakan bagian dari kinerja baik dari pemerintahan secara keseluruhan.

Besar harapan Sultan Tidore dan seluruh rakyatnya, melalui penghargaan tersebut bahwa hal itu merupakan amanah yang harus diemban. Ibu Sri Mulyani yakin apabila semua unsur bangsa Indonesia terus kerja keras, maka Indonesia bisa menciptakan Baldatun Thayyibatun wa rabbun Ghafur, sebuah negara yang memiliki kesejahteraan yang dapat dinikmati secara adil oleh seluruh rakyat, bahkan diberikan juga kepada negara-negara lain.

Mengenai penghargaan ini, belum terdengar kabar nyinyir dari seorang Fadli Zon, yang biasanya kerap selalu nyindir ketika Ibu Sri mendapatkan penghargaan. 

Tapi ketika institusinya sendiripun akhirnya berencana juga untuk memberikan penghargaan juga kepada Ibu Sri Mulyani, Fadli Zon protes akan hal itu. Dimana hal itu dikonfirmasi langsung oleh Ketua DPR sendiri, yaitu Bambang Soesatyo, seperti yang dilansir oleh Kompas.com (9/3/2018).

Rencana pemberian penghargaan tersebut akan diberikan secara kelembagaan, dimana hal itu diinisiasi langsung oleh Badan Kerja Sama Antar Parlemen (BKSAP) DPR dalam memperingati Hari Perempuan Internasional pada 8 Maret lalu.

Ketua DPR sendiripun akan mengundang beberapa perwakilan parlemen dari sejumlah negara untuk bisa menghadiri pemberian penghargaan tersebut kepada seluruh menteri perempuan yang berprestasi menurut penilaian BKSAP. Dimana rencananya acara tersebut akan digelar pada Rabu depan (14/3/2018).

Bapak Jokowi sendiripun akan mendapatkan penghargaan juga pada acara itu nantinya. Karena berdasarkan  sejarah bahwa  zaman kabinetnya Jokowilah  yang paling banyak mengangkat perempuan sebagai menterinya.

Ketika akan digelar pemberian penghargaan tersebut kepada sejumlah menteri perempuan, terutama kepada Ibu Sri Mulyani, Fadli Zon langsung bersuara dan keberatan akan rencana DPR tersebut. Meminta supaya dalam pemberian penghargaan tersebut dilakukan setelah adanya paripurna dulu di DPR. Sebab pemberian penghargaan atas nama DPR. Dan juga berdasarkan pendapat pribadinya sendiri, bahwa Sri Mulyani tidak pantas untuk menerima penghargaan tersebut.

“Kalau atas nama DPR ya harus dibawa dan disetujui paripurna. Ekonomi kita terpuruk. Rupiah kita melemah termasuk yang paling rentan di asia. Kemudian utang juga melonjak tinggi, lalu juga pecapaian target-target pertumbuhan tidak tercapai," kata Fadli di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (8/3/2018).

Akan pernyataan tersebut, yakni tentang pelemahan rupiah, Ibu Sri Mulyani menanggapi langsung akan pernyataan Bapak Fadli Zon tersebut. Seperti yang dilansir oleh Kompas.com (6/3/2018), bahwa penurunan nilai mata uang kita dikarenakan sentimen dari negara Amerika sendiri. Dimana negara tersebut menarik kembali mata uang mereka, sehingga itu menimbulkan ekses negatif kepada banyak negara. Dan bukan hanya negara Indonesia sendiri.

Akibat dari persediaan mata uang kurs dollar berkurang di suatu negara, hal itu akan melemahkan mata uang negara setempat. Tapi hal itu sebaliknya akan menguatkan mata uang dollar. Hal itu dilakukan oleh pemerintah Amerika untuk memperkuat mata uang mereka di dunia.

Dengan kondisi seperti itu, Fadli menilai bahwa upaya pemerintah kurang optimal dalam menguatkan nilai tukar mata uang rupiah. Padahal sudah ada intervensi dari Bank Indonesia.

Melihat sekilas bahwa kritikan ataupun nyinyiran dari seorang Fadli Zon kepada Sri Mulyani, tampaknya masuk akal. Tapi ketika hanya dia seorang saja yang berkeberatan tentang pemberian penghargaan tersebut, dan tidak ada orang lain yang bersama-sama dengan dia, tampaknya kritikan tersebut hanyalah sentimen pribadi seorang Fadli Zon saja.

Penghargaan yang didapatkan bukan hanya dari dunia internasional, juga mendapatkannya  dari kesultanan Tidore. Dan bahkan lembaga negara seperti DPR, berencana memberikan penghargaan kepada seorang Sri Mulyani.

Banjirnya penghargaan kepada beliau, bukankah menunjukkan bahwa kinerja seorang Sri Mulyani memang bagus dan berdampak bagi pemerintahan Indonesia. Hal itu akan menafikan segala kritikan dan nyinyiran seorang Fadli Zon.

Penilaian Anda bagaimana dengan Fadli Zon, pantaskah?             


  

Saat Jokowi Lomba Burung dalam Weekend kali ini, Anies Promo Becak Listriknya




Hari Minggu merupakan hari weekend bagi semua orang, hari yang baik untuk memanjakan diri kita. Hari yang bisa menambah pundi-pundi antusias maupun semangat kita dalam menghadapi hari esok yang mungkin oleh sebagian orang menyebutnya dengan sebutan, “I Hate Monday”.

Tak terkecuali para pemangku kepentingan di bangsa kita ini. Teristimewa bagi Jokowi sendiri. Bisa menghabiskan masa weekend ini dengan ikut lomba burung. Meskipun akhirnya kalah dalam Lomba Burung Berkicau Piala Presiden hari ini (11/3/2018), seperti yang dilansir Tempo.co., beliau tidak kecil hati. Malah kehadirannya pada event tersebut bisa mendatangkan semangat dan antusias bagi para peserta lainnya.

Burung Jokowi yang ikut disertakan dalam lomba burung berkicau tersebut seperti yang dilansir oleh Tempo.co, bernomor 36, dan hanya bisa masuk nominasi 10 besar saja. Beliau sudah bangga dengan prestasi burung murai batu miliknya. Ada sekitar 72 orang yang ikut dalam festival burung kali ini dan memperlombakan 3000 burung. Bahkan beliau berniat untuk memiliki burung murai batu yang juara satu, tapi oleh si pemilik tidak berniat untuk menjualnya.

Disamping kegiatan itu, ternyata Kebun Raya Bogor sudah mencapai usia genap dua abad. Dimana pada 18 Mei 2017 lalu, Kebun Raya Bogor (KRB) merayakan 200 tahun berdirinya pusat penelitian dan konservasi tumbuhan terbesar di Indonesia itu. Presiden mencoba mengingatkan kita bahwa peran Kebun Raya Bogor sangatlah besar sekali. Sebagai benteng terakhir di dalam penyelamatan flora di negeri kita ini.

Jokowi turut membubuhkan tanda tangannya pada Prasasti 2 Abad Kebun Raya Bogor, yang sudah diresmikan oleh Bu Megawati waktu lalu. Hal ini penting sebab tanda tangan beliau akan menjadi bagian perjalanan penting dari sejarah Kebun Raya Bogor.  

Beliaupun meminta supaya Kebun Raya Bogor, seperti yang dilansir oleh Kompas.com (11/3/2018) bisa dikelola seperti Singapura Botanic Garden. Yang memiliki area atau spot tematik yang bisa dijadikan tempat selfie. Juga untuk bisa meningkatkan jumlah para pengunjung, bisa dibangun banyak bangunan futuristik.

Bapak Aniespun tidak ketinggalan dalam mengisi weekend kali ini. Beliau ternyata tidak tanggung-tanggung dalam perencanaannya untuk bisa membawa kembali becak berdaulat di DKI Jakarta. Dimana oleh para pendahulunya dulu,yang sudah berusaha untuk meniadakan becak digunakan sebagai sarana transportasi untuk umum, tapi kali ini beda oleh penerusnya, Anies Baswedan. Hanafi membawa becak modifikasinya ke Anies Baswedan hari ini (11/3/2018), seperti yang dilansir oleh Kompas.com.

Bahkan ternyata oleh pengakuan anaknya Amien Rais, Hanafi Rais  yang juga merupakan Anggota Komisi I DPR RI, sudah melakukan riset untuk mengembangkan becak ini dari tahun 2012 lalu. Artinya becak ini sudah mengalami banyak modifikasi supaya semakin ramah dengan pengayuh becak supaya tidak mengeluarkan tenaga ekstra. Juga katanya akan berdampak bagi lingkungan, sebab tidak memberikan polusi udara.

Becak kayuh yang dimodifikasi dengan tenaga listrik ini diberi nama HAN. Hanafi mengakui bahwa becaknya ini bisa menempuh 40 km untuk sekali pengisian daya. Dan bisa bolak balik ke Ciputat jika berangkat dari Balaikota.

Becak modifikasi buatan Anggota Komisi I ini, seperti yang dilansir oleh Kompas.com (7/3/2018) sudah dilengkapi dengan mesin, baterai dan dinamo. Biaya yang dihabiskan berkisar 18-20 juta untuk memodifikasi becak konvensional menjadi becak listrik. Diperkirakan becaknya bisa membawa 250 kilogram dan kecepatan maksimalnya bisa mencapai 25 km/jam.

Dengan pengenalan becak ini kepada Anies Baswedan, akhirnya tercapailah keinginan dari Sang Punggawa DKI Jakarta. Kita lihat saja bagaimana aksi dari becak listrik ini? Mungkin akan membutuhkan keahlian mengayuh yang baik atau training mengayuh becak yang terampil. Dan hal itu akan difasilitasi sepenuhnya oleh Balai Kota. Mari para abang-abang tukang becak, manfaatkan dengan semaksimal mungkin fasilitas dan training intensif ini. Jangan sampai terlewat sedikitpun.

Itu sedikit inspirasi dari para pejabat publik kita yang sudah mengisi hari-hari weekendnya dengan sejumlah kegiatan yang bermanfaat. Mulai dari Pak Jokowi yang bisa menghabiskan weekendnya dengan ikut festival lomba kicau burung sedangkan Pak Anies yang mencoba untuk menepati janjinya dalam melestarikan becak di DKI Jakarta, Kota Mega Metropolitan sekaligus Kota Vintage dan klasik.

Berharap Jakarta bisa semakin berbenah atau semakin apa yah? Juga berharap Indonesia semakin lebih baik lagi, dengan segudang kegiatan weekend yang bisa menginpirasi kita bersama.

Kamis, 22 Februari 2018

Bencana Longsor Brebes Ingatkan Kita Untuk Bijak Mengelola Hutan




Masih ingat dulu pelajaran waktu di SD, dikatakan bahwa hutan itu adalah paru-paru dunia. Ketika hutan dirusak bisa dipastikan lingkungan sekitar bisa rusak dan mati. Di dalam konsep pemikiranku dulu yang masih kanak-kanak, sungguh hebat peran hutan ini di dalam dunia ini. Artinya ketika hutan rusak, paru-paru dunia juga rusak. Itu sama dengan kita akan sulit untuk bernafas.

Dan ketika itu Aku akan sangat tertarik sewaktu guruku bisa menyampaikan tentang konsep dan pembelajaran mengenai hutan. Bisa dipastikan tidak mengantuk dan selalu memperhatikan disetiap informasi yang diberikan.

Namun sekarang diriku paling sedih ketika melihat banyak pohon-pohon ditebangi. Apalagi di sekitar tempat tinggal ku, Sibolangit, pusat mata air untuk sebagian kebutuhan orang Medan dan wilayah sekitar, sudah sering sekali melihat barisan pohon-pohon yang ditebang. Sehingga makin hari tambah panas wilayah kami disini. Dulunya adem ayem, tidak terdengar polusi suara mesin pemotongan, sekarang sudah terdengar.

Ingin diri ini melaporkan, tapi apa daya mengingat hal itu adalah juga untuk pemenuhan ekonomi suatu keluarga. Jadi merasa serba salah. Faktor ekonomi yang juga menyebabkan banyak warga akhirnya untuk lebih memilih menebang pohon yang besar dan kemudian dijadikan papan dengan berbagai ukuran.

Beruntung masih ada lembaga kehutanan yang berada di daerah sini, kalau tidak, jangan harap pohon-pohon di kawasan hutan lindung pemerintah bisa aman dari penjarahan warga. Tapi meskipun demikian, ketika diriku pergi kunjungan ke suatu desa yang melewati kawasan hutan lindung, tak jarang melihat di sisi jalan ada seonggok batang pohon tersusun rapi. Hanya tinggal mengangkut saja.
Sebab kalau semakin banyak pohon-pohon yang ditebangi, mungkin peristiwa yang di Brebes kemarin (22/2/2018) bisa dipastikan akan terjadi di daerah sini. Sebab memang posisi daerah Sibolangit, berada di ketinggian kurang lebih 500 meter dari permukaan laut.

Padahal berdasarkan laporan Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral di dalam situs resmi di vsi.esdm.go.id (5/4/2017) lalu telah terjadi bencana gerakan tanah di Sibolangit. Dimana dalam laporan tersebut, berdasarkan Peta Prakiraan Potensi Terjadi Gerakan Tanah pada bulan Maret 2017, ada tujuh kecamatan di Kabupaten Deli Serdang, termasuk Sibolangit yang punya potensi terjadinya bahaya longsor. Artinya ketika terjadinya hujan deras lama diatas normal, maka potensi pergerakan tanah bisa aktif kembali. Itu artinya longsor yang akan mengakibatkan bencana kematian bagi warga sekitar sini.

Menyikapi Longsor di Brebes.

Korban Brebes

Kita tidak ingin melihat korban akibat longsor ini semakin banyak lagi. Cukuplah itu. Sebab kondisinya ketika hal itu terjadi sangatlah mengerikan. Seperti yang di saksikan oleh Tarso, warga desa Bentarsari, Kecamatan Salem, Kabupaten Brebes (liputan6.com, 23/2/2018), bahwa longsor yang terjadi di daerahnya tak sampai 20 menit sudah meluluhlantahkan jalan provinsi dan hutan pinus di daerahnya. Diperkirakan pasti ada kendaraan yang melintasi jalan tersebut.

Berdasarkan laporan, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, seperti yang dilansir tribunnews.com (23/2/2018), dimana ada 18 orang hilang, sebagian besar dari mereka sudah bisa diidentifikasi. Sedang korban yang meninggal ada sebanyak 5 orang dan orang-orang yang terluka ada sebanyak 14 orang. Hari ini juga (23/2/2018) seperti yang disampaikan oleh MetroTv pada headlines pukul 11.00 Wib,  sudah dilakukan evakuasi oleh tim sebanyak 550 orang personel, karena kondisi yang sedang cerah tidak hujan. Tim tersebut berasal dari tim gabungan baik dari kepolisian, BNPB, Tim Sar, Banser NU dan masyarakat.

kondisi jalan raya diatasnya

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan hingga di awal Februari, seperti yang dilansir detik.news.com (8/2/2018) sudah terjadi 275  kali bencana, 30 orang meninggal,  66 korban luka, 153.183 orang mengungsi, 10 ribu unit rumah rusak. Dan pasti data ini belum memasukkan bencana di Brebes. Kemudian bencana longsor adalah bencana yang paling banyak mengakibatkan kematian.

Sedangkan di tahun lalu, tahun 2017, seperti yang dilansir oleh Kompas.com (5/12/2017), BNPB mencatat bahwa ada 2.175 kejadian bencana. Dimana bencana banjir (737 kejadian), puting beliung (651 kejadian), tanah longsor (577 kejadian), kebakaran hutan dan lahan (96 kejadian), banjir dan tanah longsor (67 kejadian), kekeringan (19 kejadian), gempa bumi (18 kejadian), gelombang pasang/abrasi (8 kejadian), serta letusan gunung api (2 kejadian).

Dan oleh karena mengingat bahwa musim hujan akan terus sampai di bulan Maret 2018, dan puncaknya adalah Februari ini, diharapkan supaya masyarakat semakin hati-hati dan tetap waspada. Dimana beberapa tandanya yaitu, adanya tanah yang amblas, retakan tanah, pohon maupun tiang listrik miring, tiba-tiba air keluar dari sisi tebing, dan banyak tanda lainnya.

Terakhir, berharap supaya masyarakat Indonesia, terutama masyarakat daerah Sibolangit dan sekitarnya,supaya bijak mengelola hutan yang ada di sekitar lingkungan kita. Jangan hanya untuk memenuhi kebutuhan perut yang hanya sebentar saja masanya, kita harus mengorbankan kepentingan dan hidup orang banyak yang berdiam didalamnya.

Bahaya longsor dan bahaya banjir tidak lain tidak bukan, penyebabnya adalah kita sendiri. Sebab kalau kita bisa menjaga alam sekitar kita, maka alampun akan menjaga dan melindungi kita. Tapi demikian juga sebaliknya ketika kita tidak bisa merawat dan menjaga alam lingkungan kita, merekapun angkat menunjukkan murkanya yang sangat hebat. 
   

Senin, 19 Februari 2018

PR dan Optimisme Para Parpol Kekinian dan Realita DPR Sekarang




Sungguh menarik tahapan pemilu di hari ini (18/2/2018) oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU). Dimana di pagi harinya, adanya deklarasi damai oleh masing-masing calon kandidat untuk pilgub, pilkot dan pilbup. Sedangkan di malam harinya adanya pengundian atau pencabutan nomor oleh masing-masing parpol di Kantor KPU Pusat.
 
Dimana sebelumnya, telah ditetapkan ada 14 parpol yang telah dinyatakan lolos verifikasi faktual, dan dua partai politik yang telah bertarung di periode yang lalu, dinyatakan gagal. Yaitu Partai Bulan Bintang (PBB) dan Partai Kesatuan dan Persatuan Indonesia (PKPI). Alasan KPU, seperti yang dilansir oleh Temp.co (17/2/2018), bahwa kepengurusan dan keanggotaan masing-masing di beberapa daerah tidak memenuhi syarat. PBB bermasalah di kepengurusan yang ada di Manokwari, sedangkan PKPI bermasalah di Jawa. 

Melihat proses yang digelar KPU hari ini, seperti yang ditayangkan oleh Metro-TV di dalam live eventnya, semuanya bisa berjalan dengan lancar dan baik. Sempat ada masalah di dalam pengambilan nomor antri. Bahwa KPU sepertinya kurang siap di dalam membedakan antara nomor 6 dan 9. Sehingga Ketua Bawaslu harus segera mengecek kembali dan memastikan mengenai nomor-nomor undian yang ada di dalam wadah pengundian. Sehingga tampak kekurangsigapan para panitia di dalam menyelenggarakan event di malam ini (18/2/2018).

Ada beberapa hal yang menarik yang sempat diutarakan para ketua-ketua umum parpol ataupun para petingginya. Disela-sela sebelum pengundian dimulai. Yakni Ketua Umum PKB, Cak Imin, yang ingin nomor urut parpolnya nomor satu, ternyata sesuai dengan harapannya. Dan  beberapa petinggi parpol lainnya tidak mematok nomor khusus yang diinginkan oleh mereka. Jadi apa yang didapat, yah, berarti itulah nomor urut yang harus terus mereka sosialisasikan di masa-masa kampanye ke depannya. 

Seperti yang diumumkan oleh KPU malam ini, bahwa ada 14 parpol yang secara sah dan sudah memiliki nomor-nomor urut parpol mereka. Yakni 1. PKB, 2. Gerindra, 3. PDIP, 4.  Golkar, 5. Nasdem, 6. Garuda, 7. Berkarya, 8. PKS, 9. Perindo, 10. PPP, 11. PSI, 12. PAN, 13. Hanura, 14. Demokrat.


Sesuai dengan pengalaman-pengalaman yang lalu bahwa biasanya perjuangan partai baru akan jauh lebih berat ketimbang dengan parpol lama. Minimal strategi ke-empat partai baru tersebut, yakni Partai Garuda, Partai Berkarya (partai besutan Anak Suharto,Tommy Suharto), Perindo dan PSI, haruslah bisa mencapai minimal ambang batas treshold parlemen, dimana tahun ini sudah dinaikkan menjadi 4 persen. Naik sebesar 0,5 persen dari pemilu periode lalu 2014.

Ketika para parpol baik yang baru maupun yang lama tidak bisa memenuhi ambang batas parlemen sebesar 4 persen dari jumlah suara yang sah, jangan mimpi untuk bisa masuk ke senayan. Artinya mereka harus rela menjadi partai pelengkap dan bukan partai yang bisa mengambil atau memegang keputusan.

Kemudian para parpol yang lama, khususnya Nasdem, dan PPP, seperti yang disampaikan oleh petinggi-petinggi partai tersebut, mimimal mereka bisa mencapai seratus orang dewan yang bisa duduk di parlemen. Artinya Nasdem harus mencapai tiga kali lipat dari hasil pemilihan tahun lalu. Dan mereka menyatakan sudah siap untuk hal itu.

Artinya segala perjuangan akan dikerahkan oleh masing-masing parpol untuk bisa menembus gedung Senayan, tempat dimana orang-orang hebat kumpul. Tetapi seperti yang sudah-sudah, yakni ketika mereka sudah masuk, tidak menunjukkan kinerja yang baik selama menjabat di kedewanan. Seperti mulai memasang jarak dari masyarakat dengan memasung hak rakyat dengan tidak boleh mengkritisi mereka. Membuat UU yang bisa memproses secara hukum baik perorangan atau lembaga yang mulai kritis terhadap kehormatan sang dewan tersebut.

Kemudian, melihat kinerja para parpol yang ada sekarang ini sungguhlah ironis. Ketika ada maunya barulah pura-pura mendekat ke rakyat. Tapi ketika sudah duduk di bangku yang empuk di parlemen, tidak pernah sekalipun mengunjungi daerah pemilihan (dapil) dimana dia terpilih. Mungkin di dalam lima tahun itu, paling banyak dia berkungjung hanya dua kali saja. Yakni ketika sebelum masa pemilihan hingga ke akan berakhirnya masa jabatan.

Sejumlah masalah untuk mengutus atau menunjuk para kandidat calon. Dimana para pengurus atau pimpinan parpol yang harus menagih atau menarik sejumlah uang untuk bisa menghidupi partai. Karena memang pada kenyataannya, sumber pendapatan partai tidak ada kecuali mendapatkan jatah anggaran dari yang sudah ditetapkan pemerintah. Dan nyata-nyata sudah jelas terjadi sewaktu pencalonan Pilgug untuk Jatim, tapi oleh Bawaslu tidak lagi bisa memprosesnya, sebab orang yang mengumbar-umbar adanya biaya mahar politik di dalam pencalonannya, tidak berani melapor ke Bawaslu.

Adanya ongkos politik yang mahal, sehingga para parpol yang ada sekarang ini, harus memutar kepalanya dengan keras-keras, bagaimana supaya operasional partai sehari-hari bisa berjalan. Sehingga ketika kandidat yang sudah diusung tersebut bisa menang, tak ayal dirinya atau pejabat pemerintah tersebut harus melakukan praktek korupsi dengan mencoba modus-modus baru supaya tidak bisa dideteksi atau diendus oleh KPK.

Terutama untuk parpol yang baru, tidak bisa kita bayangkan sejumlah uang yang harus mereka keluarkan di dalam mendirikan partai mereka. Harus melakukan sosialisasi kemana-mana bahkan harus pergi ke seluruh daerah wilayah Indonesia, dimana biaya operasionalnya belum tentu sedikit untuk bisa pergi kesana. Mengajak orang untuk mau bersedia menjadi pengurus daerah, dan banyak hal-hal lainnya. Padahal partainya belum tentu bisa menang. Dan kalaupun bisa menang, para pengurus kembali akan memutar otak supaya modal  yang dikeluarkan bisa balek ke dirinya lagi. Sehingga arus perputaran korupsi tidak akan pernah hilang dari tanah kita ini.

Selanjutnya, banyak cara-cara curang yang dilakukan oleh para parpol yang ada, hanya untuk bisa mendapatkan simpati dari masyarakat kita. Isu-isu SARA, berita-berita bohong, dan politik uang, selalu menjadi senjata utama dari para parpol yang ada maupun para kandidat yang ada untuk bisa menang di dalam pemilihan ini. Sehingga hal ini bisa menimbulkan perpecahan bagi bangsa dan tanah air kita.

Bukan juga perjuangan yang dilakukan ketika ada maunya saja, yakni di masa-masa pemilhan kembali, barulah berupaya menunjukkan kesungguhan hatinya.Tapi jauh dari itu yang ada hanyalah sebuah kebohongan belaka, dan tentunya tidak disukai oleh masyarakat.    

Dan tentunya masih banyak pekerjaan-pekerjaan rumah lainnya, dimana para parpol, para kandidat pejabat,maupun pejabat yang sudah duduk di pemerintahan, harus benar-benar memikirkan solusi untuk bisa menciptakan kesejahteraan dan kemakmuran bagi rakyat Indonesia. Menciptakan negara yang betul-betul berdaulat, baik pangannya, papannya, tanahnya, lautnya, udaranya, maupun manusianya betul-betul dikembangkan dengan semaksimal mungkin. Sehingga akhirnya tercapailah cita-cita bangsa kita.

Penulis adalah pemerhati masalah sosial dan pengajar di STAK Terpadu PESAT



Minggu, 18 Februari 2018

Benarkah Insiden Penghalangan Paspampres Membuat Elektabilitas Anies Langsung Moncer



 

Ternyata di hari kemenangan Persija di Piala Presiden, ada insiden sang tuan rumah tidak diijinkan oleh Pasukan pengaman Presiden untuk ambil panggung bersama dengan rombongan presiden. Kemudian pihak Istana akhirnya angkat bicara terkait beredarnya video pendek usai pertandingan final Piala Presiden 2018. 

Bey Machmudi, Deputi Bidang Protokol, Pers, dan Media Sekretariat Presiden, seperti yang dilansir oleh Kompas.com (18/2/2018), bahwa hal itu merupakan prosedur pengamanan karena Paspampres berpegang pada daftar nama pendamping Presiden yang disiapkan panitia. 

“Paspampres hanya mempersilahkan nama-nama yang disebutkan oleh pembawa acara untuk turut mendampingi Presiden Jokowi Widodo,” ujar Bey melalui pesan tertulisnya.

Kemudian Bey menuturkan bahwa karena acara itu bukan acara kenegaraan maka tidak mengikuti prosedur protokoler kenegaraan mengenai tata cara pendampingan Presiden oleh Kepala Negara. Selanjutnya beliau kembali menegaskan bahwa tidak ada sama sekali arahan dari Bapak Presiden kepada Paspampres untuk mencegah Anies.

Video singkat yang diunggah pertama kali oleh Ali Ghuraisah, menjadi viral, tapi kemudian beliau menghapus video postingannya. Karena tidak ingin postingannya menimbulkan polemik baru di tengah-tengah pesta kemenangan Persija yang sudah lama dirindukan Jakmania. Tentu hal ini merupakan tindakan yang bijak. Sebab tahun-tahun ini merupakan tahun politik.

Tapi di dalam keterangan sebelum video tersebut dihapus, dinyatakan melalui tulisannya, bahwa,
”Sportivitas itu masih ada di tengah-tengah panasnya politik Indonesia. Meski ditekan dan ditenggelamkan, jiwa kesatria masih ada di dada pemain Persija. Mereka tahu siapa sebenarnya yang pantas diberi tepuk tangan. Pemain Persija tahu, bahwa Bapak Asuhnya adalah “musuh politik”dengan pihak penguasa panggung, maka mereka mendatanginya. Mungkin mereka tahu, kalau disebut nama Anies  maka elektabilitasnya bisa makin moncer. Maka mereka maklum kenapa panitia meminggirkan Anies. Persija pantas untuk menang, namun Anies tak pantas untuk dipinggirkan.”



Banyak komentar sejak peristiwa ini, baik yang senang maupun yang kurang senang. Seperti Fadli Zon angkat suara, supaya menanyakan kepada pihak istana negara, kenapa protokolernya seperti itu. Dan jangan karena tidak didukung, jadi diabaikan.  Dan PDIP pun juga langsung protes, yang diwakili oleh Bapak Hasto, dan dilansir oleh Kompas.com (18/8/2018), bahwa hal itu tidak pantas dilakukan oleh Paspampres dan mengingatkan mereka supaya ke depan Paspampres lebih bijak dalam melihat hal apapun.

Benarkah dengan peristiwa ketidaksengajaan ini, bisa mengangkat elektabilitasnya Anies. Seperti yang ditulis oleh pengunggah video, elektabilitasnya bisa makin moncer (cemerlang)? Kemudian adanya surat terbuka dari Dhani Firdaus, The Jak, seperti yang dilansir oleh fajar.co.id (18/2/2018), bahwa Anies adalah ancaman serius bagi Jokowi di tahun 2019. 

Seperti yang diumumkan oleh Indo Barometer setelah mereka melakukan survey konstelasi umum capres 2019, bahwa Anies berpotensi sebagai kuda hitam, dan paling berpeluang jadi capres alternatif. Hal itu disampaikan oleh Direktur Eksekutif Indo Barometer Muhammad Qodari, seperti yang dilansir oleh detik.news.com, di Hotel Atlet Century Park, Senayan, Jakarta, Kamis (15/2).
Adapun faktor yang bisa menyebabkan Anies mengungguli nama lainnya adalah karena saat ini ia memegang jabatan strategis di Ibu kota negara. Dan segala kebijakan Anies di DKI Jakarta selalu mendapat sorotan. 

Selanjutnya lagi bahwa berdasarkan hasil survey Poltracking, yang dirilis oleh merdeka.com (18/2/2018), untuk elektabilitas cawapres, Anies berada diurutan kedua setelah AHY. Dimana AHY berkisar 12,4 %, Anies 12,1%.

Kembali ke judul saya, benarkah dengan kejadian kemarin (17/2/2018) bisa mengakibatkan elektabilitas Anies meningkat lagi. Untuk bisa menjawab dengan lebih tepat, haruslah lembaga-lembaga survey yang kredibel yang terlebih dahulu menemukannya. Untuk bisa mengetahui peningkatan elektabilitas seorang calon kandidat baik untuk capres maupun cawapres.

Tapi berdasarkan pengamatan saya, hal itu bisa terjadi. Sebab seperti pengalaman yang sudah-sudah bahwa  ketika seorang mendapat semacam bully, hal itu bisa meningkatkan simpati kepada yang bersangkutan. Apalagi ketika hal itu dipakai oleh lawan-lawan politik Jokowi untuk diblow up, maka bisa dipastikan perubahan signifikan dalam elektabilitasnya. Bukan hanya saja bisa mengalahkan AHY sebagai cawapres, bahkan prediksi Indo Barometerpun, kemungkinan akan semakin cepat terwujud, bahwa Anies akan benar-benar menjadi kuda hitam.

Jadi penting untuk menyikapi hal-hal yang kecil dengan cepat dan tepat. Seperti masalah penghadangan Anies. Padahal Jokowi sangatlah ramah kepada Anies juga satu panggung dengan beliau. Bahkan oleh Anies sendiripun menyaksikan, ketika Persija mencetak gol, hampir selalu Jokowi memberikan selamat kepada dia sewaktu menonton pertandingan tersebut. Tapi oleh peristiwa yang tidak perlu ini, bisa jadi langkah-langkah ke depannya bisa akan semakin lebih sulit.

Opini-opini negatif akan selalu diutarakan ke publlik untuk bisa menggerus tingkat keterpilihan seseorang kandidat. Seperti yang dikuatirkan oleh Politisi PDI-P, Andreas Hugo Pareira, bahwa lawan terberat Jokowi ke depan adalah opini negatif yang cenderung imajinatif serta kampanye hitam untuk men-down grade  tingkat kesukaan dan tingkat keterpilihannya pada Pilpres 2019 yang akan datang. Hal ini dilansir oleh Kompas.com (31/1/2018).

Dari peristiwa ini, marilah kita bisa menyikapi dengan benar dan tidak terlalu berlebihan. Paspampres dalam pengakuannya, bahwa tindakannya sudah sesuai dengan prosedur pengamanan maupun pengambilan tindakan. Dan Panitia penyelenggara, Maruarar Sirait-pun menyatakan bahwa tidak semua pejabat diminta naik ke podium Piala Presiden. Dimana ada desakan dari politisi, supaya panitia pelaksana meminta maaf atas hal itu.   

Terakhir, meskipun peningkatan elektabilitas Anies boleh semakin meningkat, seperti yang pernah terjadi di Pilkada DKI sebelumnya, dari yang tidak diunggulkan ternyata bisa memenangkan kontestasi pemilukada. Maka pilpres di tahun mendatang akan semakin lebih seru lagi. Sebab sudah bosan ketika hanya melihat duel Jokowi-Prabowo di pilpres mendatang.

Tetapi aku, akan tetap memilih Jokowi sebagai Presiden. Tidak ingin memilih Prabowo apalagi Anies Baswedan. Sebab tidak ingin melihat peristiwa di Jakarta seperti yang sudah kita saksikan bersama, terjadi di scope yang lebih besar  lagi. Yakni Indonesia akan mengalami kemunduran lagi. Segala hal yang sudah dibangun oleh Jokowi tidak ingin dihancur leburkan lagi dengan program-program yang terkadang terlalu muluk-muluk didalam pelaksanaannya. Karena kebanyakan teori dan kata dibandingkan praktek.   


Kamis, 15 Februari 2018

Perayaan Imlek Ahok Kali ini di Mako Brimob (Ramalan dan Nilai yang Paling Berharga)



 

Memang tak ada habis-habisnya membahas figur yang satu ini. Seorang figur yang berani, tegas, kuat, dan terkadang ngomong memang agak keras. Di tahun baru Imlek 2569, tepat di Tahun Anjing Tanah ini, Ahok yang memiliki nama Tionghoa, Zhong Wan Xie,tidak bisa berkumpul secara normal bersama dengan keluarga besarnya. Apalagi kalau mau pulang kampung, hal itu dipastikan mustahil. Sebab masih harus menjalani masa tahanan pada kasus penistaan agama kemarin.

Juga perayaan imlek kali ini, tidak akan seseru perayaan natal di akhir tahun 2017 lalu. Sebab meskipun kondisi di dalam penjara, masih bisa ketemu dengan Istri, anak-anak dan keluarga lainnya. Karena mereka melakukan kunjungan ke Mako Brimob langsung. Seperti yang dilansir oleh Kompas.com (25/12/2017). Tapi kali ini, perayaannya tidak akan biasa lagi, sebab minus istri didalamnya atau ketiadaan seorang istri yang biasanya selalu mendampingi di saat suka maupun duka.

Tipe keluarga Ahok memang bukan tipe keluarga yang suka perayaan yang berlebihan, seperti yang dilansir detik.news.com (14/2/2018). Cukup dengan merayakannya dengan berdoa dan ucapan syukur, bagi-bagi angpau, kemudian makan-makan. Dan biasanya akan selalu makan masakan ibunya, Buniarti. Adapun masakan favorit beliau saat perayaan tahun baru Imlek yaitu bebek atau ayam dengan bumbu nenas.

‘Dia (Ahok) suka semua makanan masakan mama (Buniarti) saya. Tapi ada satu masakan khas melayu yang Pak Ahok suka, yaitu bebek atau ayam dimasak nanas, “ ujar adik Ahok, Fifi Lety Indra, di Pengadilan Jakarta Utara, (14/2/2018). Keluarga berencana akan mengirim makanan favoritnya Pak Ahok.

Perayaan Imlek Tahun lalu (28/1/2017), beliau juga tidak pulang ke kampung halaman yang ada di Belitung. Karena harus mengikuti debat publik kedua yang digelar Komisi Pemilihan Umum (KPU) DKI Jakarta pada Jumat (27/1/2017). Kali ini juga akan sama, karena harus menjalani masa-masa hukuman di Mako  Brimob.

Kebiasaan orang-orang Tionghoa di masa-masa menyambut tahun baru Cina, akan selalu melihat sejumlah ramalan-ramalan. Berbagai prediksi ramalan keberuntungan akan dicari banyak orang. Salah satunya, yakni ramalan peruntungan berdasarkan shio. Seperti yang dilansir Tribun Pekanbaru (15/2/2018), bahwa shio yang beruntung di tahun Anjing Tanah ini adalah Shio Kelinci (paling beruntung), Shio Kuda (Tahun Positif) dan Shio Kambing (Berlimpah rezeki).

Terlepas kita mau percaya atau tidak akan ramalan-ramalan seperti itu, tapi itulah kebiasan yang sudah melekat sejak turun temurun. Bagaimana dengan Pak Ahok si pemilik shio Kuda Api, kelahiran 1966. Apakah dia tidak beruntung di tahun anjing tanah ini, sebab berdasarkan prediksi bahwa Kuda Api tidak masuk dalam peruntungan shio anjing tanah.

Ahli ramalan Tiongkok, Alex Lie, seperti yang dilansir oleh wartakota.tribunnews.com(12/2/2017), tahun lalu, mengatakan bahwa Basuki Thahaya Purnama, alias Ahok punya keberuntungan besar di tahun ayam api (2017) berdasarkan ramalan Tiongkok. Sebab “Kuda api dan ayam api itu tak ciong (apes). Makanya ini akan lancar bagi pak Ahok”, kata Alex. Tapi sepertinya ramalan ini tidak tepat terjadi. Sebab Pak Ahok pada faktanya di tahun lalu, kalah dalam pilkada, juga kalah dalam vonis hakim, yang menyatakan dia bersalah pada kasus 2016 yang lalu.  

Bagaimana dengan sekarang, apakah ramalan akan membuktikan bahwa memang di tahun anjing tanah (2018) ini tidak ada keberuntungan bagi si pemilik tahun kuda api? Seperti yang dilansir oleh ramalanshio.com. Dan memang di awal tahun baru cina ini, ada babak baru di dalam fase kehidupan Pak Ahok, yakni proses bergulirnya persidangan perceraian Pak Ahok dengan sang Istri, Ibu Veronica Tan.

Apakah itu akan menjadi bukti bahwa Pak Ahok tidak akan sama sekali punya keberuntungan di tahun 2018 ini? Saya kira tidak. Sebab keberuntungan ataupun kesuksesan bagi orang seperti Pak Ahok, bukanlah berdasarkan apa yang boleh hilang dalam hidupnya. Tapi berdasarkan kepada apa yang boleh dipertahankannya di dalam hidupnya. Dan hal itulah yang paling penting, dan tidak boleh hilang sama sekali, yakni karakter yang penuh dengan integritas dan kebaikan hati.

Yakni berusaha untuk tidak kompromi terhadap dosa, entah itu dosa atau kesalahan sekecil apapun. Berani menyatakan kebenaran di tengah-tengah kehidupan yang semakin lama semakin penuh dengan kompromistis. Dan selalu melakukan kebaikan bagi banyak orang. Dengan memberikan bantuan kepada orang yang membutuhkannya.

Meskipun di dalam penjara, ternyata Pak Ahok, masih bisa menolong orang lain. Seperti pernah menyumbang sampai dua milyar, hasil dari penjualan bukunya, untuk disumbangkan ke Mako Brimob, membalas surat dengan sejumlah motivasi-motivasi yang bisa menguatkan orang yang berkirim surat kepadanya, pernah membantu anak sekolahan ketika akan mengurus ijazahnya yang sudah lama tidak keluar, karena terkendala dana, dan banyak segudang kebaikan lainnya yang terus dikerjakan oleh Pak Ahok.  

Terakhir, kami tetap dan akan selalu mendukungmu, Pak Ahok. Gong Xi Fat Chai Pak Ahok, Gong Xi Fat Chai buat rekan-rekan dan sesamaku yang sedang merayakan tahun baru di tahun Anjing Tanah ini.

Banjir Lagi Pak Anies, tapi Kali ini Agak Genit Katanya


Banjir di Kelapa Gading



Seumur-umur, kayaknya baru kali ini mendengarkan istilah, banjir dikatakan agak genit. Seperti yang dilansir oleh Kompas.com (15/2/2018), istilah ini diungkapkan oleh Sekretaris Daerah DKI Jakarta, bawahan Anda Pak Anies, Bapak Saefullah. 

“Jadi kali ini banjirnya agak genit. Dia (banjir) dari selatan pindah ke utara, terutama di Kelapa Gading, Tanjung Priok, Sunter,” ujar Saefullah di kawasan Gator Soebroto, Jakarta Selatan, Kamis sore.

Hujan deras yang hanya sebentar saja sejak pukul 10.00 WIB pagi, sudah mengakibatkan banjir di kawasan Utara Jakarta. Bersyukur laut bersahabat, tidak menunjukkan laut pasang, kalau tidak, entah semakin berapa lama lagi Kota Jakarta akan semakin direndam oleh banjir.

Banjir di sekitar kawasan monas

Seperti kata petugas PPSU, Karyadi kepada Kompas.com, “Ini sudah lumayan surut. Sekarang ketinggian 30 sentimeter, puncaknya tadi jam 12 siang sampai 60 sentimeter. Sekarang cansteen sudah kelihatan, tadi kan belum,”

Artinya dalam waktu dua jam saja hujan deras, dari pukul 10.00 hingga pukul 12.00, banjir sudah mencapai ketinggian lebih dari setengah meter. Akibatnya macet dimana-mana, semua kendaraan berlomba berebut menaiki Flyover supaya bisa terhindar dari banjir, banyak bus transjakarta akhirnya berhenti dan tidak beroperasi lebih dari 30 menit.

Kemudian berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada pukul 13.00, hampir tiap wilayah di Jakarta terendam banjir. Mulai dari Jakarta Pusat, Jakarta Timur, Jakarta Barat, dan Jakarta Utara semuanya terendam banjir. Total ada 53 RW dan 18 kelurahan di Jakarta yang terendam banjir.

Jadi paslah perkataannya Bapak Sekda, banjir kali ini, agak genit. Suka pindah-pindah. Gak mau bertahan disatu tempat saja. Coba bertahan disatu tempat saja, kan tidak repot mengatasinya. Apa harus diajak bicara dulu yah, biar mengerti ini banjir?

Maaf Pak Anies, kami warga nitizen, terus menyoroti kinerja Anda. Bahkan mungkin terkesan mem-bully. Meskipun kami bukan warga Jakarta, tapi kami peduli dengan Ibu Kota negara kami. Dan ketahuilah, maksud kami baik, supaya Bapak bisa lebih bijak bersikap dalam mengatasi setiap permasalahan yang timbul di DKI Jakarta.

Dan banyak ketidakkonsistenan Bapak. Salah satunya mengenai masalah penanganan banjir. Seperti yang terjadi sekarang ini (15/2/2018). Dan juga yang sudah terjadi pada waktu yang lalu (5/2/2018). Dimana banjir lalu, hampir seluruh Ibukota Jakarta terkena musibah banjir. Dan mungkin banjir itu tidak genit (seperti kata Bapak Saefullah), karena ada di semua tempat.  

Dulu waktu kampanye, Anda sangat menyoroti kinerja pendahulu Anda, bahwa banjir itu tidak harus langsung dialirkan ke laut melalui gorong-gorong raksasa. Dan Anda menegaskan bahwa itu telah melanggar Shunatullah. Serta menyatakan bahwa Jakarta selama ini telah melakukan kesalahan yang fatal. Di dalam video kampanye Anda tersebut, yang sudah tersebar ke warganet, Anda menjelaskan, bahwa air yang dari langit itu harus dimasukkan kembali lagi ke tanah dan bukan malah dialirkan langsung ke laut.

Tapi pada kenyataannya, kebijakan  yang Bapak keluarkan, ternyata melanjutkan apa yang  Bapak salahkan selama ini. Melalui laporan breaking news dari CNN (15/2/2018) bahwa,

“Pompa-pompa statusnya siaga, begitu juga di Bina Marga. Pompa-pompa yang di bawah yang biasa disebut under pass, itu dalam posisi on.Pompa kita di Jakarta ini ada lebih dari 450, semuanya posisi siap, lebih dari 200 ada di Muara, dan semuanya juga  posisi siap. Nanti ketika air  sampai di muara, maka siap dipompa ke laut,” Kata Anies ketika mengunjungi langsung di lokasi banjir.

Okelah, mungkin karena Bapak masih belum setahun dalam memimpin Jakarta, sehingga masih menggunakan sistem yang lama dulu. Yakni masih menggunakan pompa-pompa dalam mengurai banjir yang terus melanda Jakarta.

Dan untuk bisa menghindarkan Bapak dari sikap yang tidak konsisten tersebut, seharusnya Bapak sudah bisa mulai melirik lokasi tanah mana yang akan dijadikan tempat penampungan air hujan tersebut. Mencoba merealisasikan konsep pemikiran Anda yang brilian tersebut. Sehingga Anda juga bisa terhindar dari omongan warganet selama ini, bahwa Anda dikatakan hanya jago berkata-kata tapi miskin dalam realisasinya.    

4 Aspek Ancaman di Hidup Kita dan Covid 19

(Hizkia Bagian satu- Yesaya 36) Siapa yang tidak pernah mendengarkan kata-kata ancaman dalam tiap kehidupan kita? Bisa dipastika...