Tampilkan postingan dengan label Umum. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Umum. Tampilkan semua postingan

Selasa, 13 Maret 2018

Percayalah Merusak Gereja Tindakan Sia-Sia


 
Entah apa di dalam pemikiran enam orang pemuda yang merusak gereja Katolik Santo Zakharia yang terletak di Dusun III Desa Mekar Sari Kecamatan Rantau Alai Kabupaten Ogan Ilir pada Kamis (8/3/2018) sekitar pukul 00.30 WIB, seperti yang dilansir TribunMedan.com (9/3/2018). Meskipun dirusak tidak akan menguntungkan siapapun juga. Selain hanyalah kesia-siaan, yang ada setelahnya adalah proses hukum yang akan menanti Anda semuanya.

Meskipun dalam unsur keisengan, ataupun dalam unsur kesengajaan serta sudah direncanakan sebelumnya untuk merusak gereja yang ada, semua hal itu akan mendapatkan hukuman yang jelas di bangsa kita. Polisi akan terus memburu dan mencari pelakunya sampai dapat.

Kenapa hal tersebut menjadi kesia-siaan? Lihat sendiri kejadian yang kemarin, seperti yang dilansir Kompas.com (12/2/2018). Yakni penyerangan ke Gereja Lidwina ketika sedang melaksanakan misa, yang ada di Bedog, Sleman,Yogyakarta, pada Minggu (11/2/2018). Setelah penyerangan yang ada bukanlah ketakutan, melainkan malah mendatangkan banyak simpati warga sekitar. Dan bukan hanya dari pihak nasrani saja, warga non nasranipun malah berdatangan untuk bisa membersihkan sisa-sisa dari pengerusakan gereja.


Hal itu disaksikan oleh sepasang suami istri non nasrani, yakni Bapak Ahmad Muttaqin (37)  dan istrinya Jirhas Rani (30), warga Nogotirto, Kecamatan Gamping, Sleman. Mereka sengaja datang untuk bisa memberikan simpati kepada orang-orang yang sedang mengalami musibah. Mungkin seumur-umur mereka belum pernah membersihkan gereja, tapi dengan peristiwa itu ada suatu hal yang beda yang mereka lakukan.

“Kita ini sesama manusia dan anak Indonesia, sudah selayaknya untuk saling membantu, Kita ini sesama manusia, anak Indonesia yang beragama. Sebagai sesama umat beragama harus saling membantu dan menunjukkan simpati,” Kata Ibu Rani. Dimana mereka sejak pagi bersama dengan umat gereja menyapu dan mengepel bercak darah yang berceceran di lantai gereja.(Kompas.com, 12/2/2018).
Kemudian bisa lihat juga pada penutupan gereja-gereja yang ada di Bogor, yakni Gereja Yasmin. Serta penutupan gereja di Bekasi,yakni Gereja HKBP Filadelphia tujuh tahun yang lalu, yakni tahun 2011. Seperti yang dilansir oleh Kompas.com (14/3/2011.) Meskipun ditutup gerejanya, karena satu dan banyak hal alasan untuk menutupnya, toh mereka juga tidak pernah berhenti untuk bisa beribadah kepada Tuhannya. Sambil beribadah sambil terus berjuang dalam menyuarakan hak mereka. Terus menagih janji pemerintah setempat untuk bisa membuka kembali gereja mereka. 
Memang disitu tampak ketidakadilan pemerintah maupun aparat setempat, dimana seakan-akan tidak berdaya menolak tuntutan sekelompok orang tertentu.Tapi warga gereja bersama dengan para pemimpin gereja tetap berjuang untuk bisa menegakkan keadilan seadil-adilnya.

“Kita mulai kehilangan fondasi hukum dengan Pemkot yang tidak mengindahkan putusan MA. Selain itu, kita juga kehilangan rasionalisme, semua diselesaikan dengan kekerasan dan tidak manusiawi. Kami menuntut Presiden SBY untuk dapat tegas menegakkan hukum atas masalah ini," ungkap Pendeta Albertus Patty di kantor PGI, Senin (14/3/2011).     

Sudah mau tiga periode kepresidenan kita, hal ini ternyata belum selesai, dan umat nasrani tak henti-hentinya untuk selalu menanti keadilan yang bisa diberikan oleh Pemerintah. Masih tetap berupaya melalui pendekatan hukum dan pendekatan kemasyarakatan supaya kita bisa saling menjaga toleransi antar umat beragama. Berharap masalah dan kasus ini bisa segera cepat selesai dan ada win-win solution’.

Dalam pikiran orang Nasrani dan memang hal itu sudah diajarkan, bahwa tidak baik untuk membalas kejahatan dengan kejahatan. Jadi ketika pun diserang, ataupun dianiaya, yakinlah bahwa Gereja tidak akan menuntut balas akan perbuatan itu.

Hal itu sudah dibuktikan oleh Paus Yohanes Paulus ke II, seperti yang dilansir oleh Tirto.id (27/12.2016). Seorang pembunuh yang sudah terlatih dengan terorisme, bahkan sudah bergabung dengan organisasi sayap kanan bernama Serigala Abu Abu, sebuah organisasi yang berusaha untuk menjatuhkan pemerintahan Turki,  bernama Mehmet Ali Agca, berusaha untuk membunuh Sang Paus sendiri pada 13 Mei 1981 lalu.

Dia menembak sang Paus ketika sedang berada di alun-alun Santo Petrus Vatikan, dan mengenai perut dan tangan beliau, tapi beruntung hal itu tidak membawa kematian baginya. Dan tidak butuh waktu lama dalam mengampuni Mehmet sendiri.

Ketika sudah pulih, beliau langsung berkunjung ke penjara dimana dia ditahan, kemudian mengampuni perbuatannya. Tidak ada kata-kata kutukan tentang hal itu, dan bahkan meminta umat supaya mendoakan Mehmet.


Tahu akhir kisah hidupnya, seperti yang dilansir oleh Tirto.id (27/11/2016), bahwa si Mehmet tersebut berpindah agama dari Islam menjadi umat Katolik. Dia kembali ke Roma pada Desember 2014, dan meletakkan mawar putih ke pusara sang Paus yang pernah dia habisi waktu lalu.

Jadi, kita adalah warga negara Indonesia yang terdiri dari banyak agama, suku dan budaya. Mari kita menjaga keberagaman kita. Mari kita saling menghormati satu sama lain. Mari kita tunjukkan bahwa kita adalah warga negara yang santun, beradab dan tentunya berharap menjadi warga yang bisa mencerminkan Tuhan ada di dalam hidupnya.

Tindakan merusak, menganiaya, dan bahkan membunuh sekalipun, hal itu tidak akan berdampak apa-apa bagi gereja. Sama sekali tidak akan berdampak. Lihat fakta-fakta di atas. Semakinpun dirusak yang ada hanyalah simpati. Semakinpun dilarang, yang adalah tetap menunjukkan rasa sukacitanya di dalam beribadah. Dan bahkan semakinpun dianiya ataupun berusaha untuk dibunuh, yang ada hanyalah pengampunan yang keluar. Tidak ada dendam sama sekali.

Sabtu, 24 Februari 2018

Meniru Spirit Sosok Bang Novel Ikon Pembasmi Koruptor




Kedatangan penyidik KPK yang satu ini waktu lalu (22/2/2018) memang luar biasa sambutannya. Bukan karena apa, tapi memang beliau sangat garang dan profesional di dalam mengemban tugas maupun amanat yang diberikan kepadanya. Bahkan mantan seorang Ketua DPR-pun, Setya Novanto mengakuinya seperti yang dilansir oleh pemberitaan MetroTV dua hari lalu, sewaktu dia pernah disidik oleh Bang Novel Baswedan.

Orang yang punya kualitas tinggi kemanapun akan tetap laku. Tidak pernah kuatir terhadap masalah yang akan datang menghampirinya.Bahkan dalam penghidupannya sehari-haripun tidak akan merasa kuatir. Sebab dia yakin bahwa segalanya akan dicukupkan ketika dia mau berserah.

Memang betul Bang Novel Baswedan, sosok orang yang tiada punya rasa takut. Seperti yang dilansir oleh detiknews.com (24/2/2018), ketika baru saja sampai ke rumah Kamis (22/2/2018), esok pagi, Jumat subuh sudah ikutan lagi sholat berjamaah ke mesjid yang dekat dengan rumahnya. Dimana pada subuh 11 April 2017, sewaktu pulang sholat, tiba-tiba orang-orang yang tidak dikenal menyiramkan air keras ke mukanya. Sehingga mengakibatan mata kirinya mengalami kebutaan. Sedangkan mata kanannya tidak mengalami kerusakan yang begitu berarti.


Bahkan ketika dengan kondisi mata yang rusak,bukan berarti tidak bisa melakukan hal yang lain.Tetap mengupayakan pengobatan untuk memulihkan matanya kembali. Sudah sepuluh bulan lebih berada di Singapura, meskipun hasilnya tidak begitu bagus untuk perbaikan matanya. Ternyata Tuhan tidak buta, dan sudah mengirimkan orang-orang yang mau dan bersedia untuk mendonorkan matanya.

Seperti yang dilansir oleh detiknews.com (23/2/2018), Kusumo Hartanto (50) warga Sukabumi dan seorang juruparkir, akhirnya menyatakan dirinya rela menjadi donator untuk matanya Bang Novel Baswedan. Dia menyatakan dengan mantap keinginan hatinya dan bahkan sudah minta ijin dengan istri dan keluarga besarnya yang lain.

Bapak Kusumo Sang Pendonor

Dengan adanya pemberian mata tersebut, dia berharap KPK bisa semakin powerfull lagi di dalam membasmi para koruptor. Dan sosok seorang Novel pantas untuk mendapatkan hal itu. Tidak tahu, apakah Bang Novel ini akan menerima sumbangan mata tersebut. Sebab ternyata beliau adalah orang yang tidak suka meminta-minta apalagi merasa dikasihani.

Hal itu terbukti dari, ketika ada rekan-rekannya yang mengumpulkan aksi bantuan yang mencapai angka 120 jutaan rupiah untuk disumbangkan kepada Bang Novel, beliau dengan tegas menolak pemberian tersebut. Dan menyatakan bahwa,

“itu hanya boleh diterima orang miskin. Dan saya tidak ingin menjadi miskin karena itu. Insya Allah saya masih mampu. Tolong sampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada teman-teman”.

Suatu sikap yang patut ditiru oleh kita semua. Meskipun di dalam kondisi ekonomi yang begitu sulit, pendapatan yang terus berkurang selama pengobatan di Singapura, juga  harus menjual beberapa asetnya, yakni rumah maupun mobil,  di dalam membantu ibunya maupun untuk kecukupan pemenuhan kebutuhan keluarga besarnya.

Adapun prestasi yang sudah ditorehkannya di dalam memberantas kasus korupsi, seperti yang dilansir oleh Viva.co.id (24/2/2018), yakni menyeret Muhammad Nazaruddin dari pelariannya di Kolombia atas  kasus wisma atlet yang juga ternyata melibatkan Angelina Sondakh, memenjarakan Nunun Nurbaiti dalam kasus pemililhan deputi gubernur senior Bank Indonesia lalu, membongkar kasus simulator SIM sehingga ada lagi pertikaian antara KPK maupun Polri. Kemudian beliau kembali diseret-seret mengenai kasus dugaan penembakan oleh beliau di tahun 2004 lalu di Bengkulu, namun hal itu tidak terbukti.

Mengingat fakta yang sedang terjadi di lapangan, bahwa Indonesia seperti kekurangan orang-orang yang berintegritas dan jujur di dalam hidupnya atau di dalam jabatan yang ia emban. Terbukti dari di awal tahun ini saja sudah ada lebih kurang 6 orang kepala daerah yang sudah ditangkap oleh KPK.


Sosok seorang Novel Baswedan yang ternyata sepupu dari Gubernur DKI sekarang, menjadi anomali tersendiri bagi bangsa kita. Ketika berani menindak para koruptor dan mengungkap segala motivasi yang mendasarinya  dan akhirnya bertindak melakukan korupsi, bisa dengan begitu mendalam diinvestigasi oleh beliau.

Dan tidak sedikit teror atau ancaman yang datang silih berganti yang datang kepadanya,ketika dia dengan tegas bertindak untuk melawan para koruptor. Bapak Novel Baswedan, engkau tidak sendirian saja. Ada kami masyarakat pendukungmu. Berjuang bersamamu di dalam membasmi tikus-tikus berdasi yang doyan merampok uang rakyat. Semangatmu dan patriotisme yang abang tunjukkan telah menyadarkan kami bahwa masih ada orang-orang yang peduli dengan nasib bangsa ini.

Satu lagi ada info menarik bang. Ketika mata abang belum bisa pulih, ada loh mata palsu yang sedang gencar dikembangkan oleh anak-anak bangsa sendiri. Ada banyak okularis yang handal dan sudah lama beroperasi di negara kita. Hal itu akan bisa menolong Abang di dalam mengerjakan tugas-tugas di KPK. Ketika Abang memiliki mata palsupun hal itupun tidak akan membuat hatinya abang ikut palsu.

               



Hebatnya Jokowi, Penyertifikatan Tanah Seharusnya 140 Tahun Tuntas di Dua Periode Beliau Memimpin




Inilah langkah keyakinan seorang Jokowi di dalam memimpin bangsa ini. Beliau betul-betul peduli akan nasib bangsa ini. Tiada yang terluput dari perhatian beliau. Meskipun dijadikan sasaran tembak oleh lawan politiknya termasuk jadi sumber inspirasi pembuatan puisi oleh Bapak Zon, dijadikan banyak meme yang menghina beliau, bahkan keluarganya juga, beliau tidak gentar sedikitpun. Tidak urung niatnya dan hatinya di dalam menata, membangun, menyejahterahkan dan memakmurkan bangsa ini.


Bayangkan saja, berapa lama penyelesaian pemberian sertifikat tanah untuk 70 juta sertifikat tanah. Ketika target BPN (Badan Pertanahan Nasional) hanya 500 ribu sertifikat per tahunnya,  bisa sampai 140 tahun itu baru selesai. Hal itu disampaikan oleh Bapak Jokowi ketika dia menyerahkan sertifikat tanah ke masyarakat Bali hari ini (23/2/2018), seperti yang dilansir oleh Tribunnews.com.
Itu artinya ada 28 periode pilpres (pemilihan presiden) ataupun pergantian presiden, baru masalah mengenai tanah baru kelar. Dan juga ada enam pergantian generasi. Jika kebanyakan generasi yang memimpin saat ini adalah generasi X, sedangkan Pak Jokowi adalah generasi Baby Boomers, dan tahun 2010 ke atas adalah generasi Alpha. Coba bayangkan ada berapa generasi yang ditolong Bapak Jokowi.


Tapi pada faktanya bukan 70 juta lagi sertifikat tanah yang harus diberikan oleh BPN, melainkan 80 juga lagi. Seperti yang dilansir dari liputan6.com (10/1/2018), oleh Kementerian Agraria dan Tata Ruang (ATR) ataupun Badan Pertanahan Nasional, bahwa total ada 126 juta bidang tanah yang harus disertifikasi. Per tahun 2016, sertifikat tanah yang sudah dimiliki oleh masyarakat baru mencapai angka 46 juta bidang tanah yang disertifikasi. Ditambah tahun kemarin (2017) sudah selesai 4,2 juta.

"Masih ada sisa 80 juta tanah lagi yang kita harus capai. Tapi saya pikir angkanya akan lebih banyak karena warisan dipecah buat anaknya. ‎Di 2018 kami harapkan 7 juta bidang, ini akan mudah dicapai. Dan di 2019 ditargetkan 9 juta bidang.‎ Di 2023 semua tanah sudah terdaftar dan berserfitikat," ujar dia dalam Rakernas Kementerian ATR/BPN di Jakarta, Rabu (10/1/2018).

Lihat prestasi yang sudah dikerjakan oleh kementerian kita yang satu ini. Dan itu tidak terlepas dari target atau tantangan yang ditetapkan oleh Bapak Jokowi kepada Kementerian tersebut yang harus segera dicapai. Kalau tidak tercapai, maka siap-siap untuk dicopot jabatannya. Demikian juga Bapak Menteri, menantang setiap kepala kanwilnya, kalau tidak tercapai, maka siap-siap kena copot juga. Begitulah tantangan yang diberikan, untuk bisa memotivasi dan menantang orang-orang di BPN supaya bisa berprestasi dan mencapai target.

Jokowi hanya menetapkan di tahun 2018 ini bisa selesai 7 juta saja. Tapi oleh Kementrian ATR/BPN, mencoba memberikan lebih dari target yang ditetapkan, yakni 8 juta sertifikat bidang tanah. Inilah contoh kinerja maupun performa yang baik yang harus bisa ditiru, bukan hanya oleh pejabat  yang terkait, pemimpin daerah ataupun juga masyarakat harus segera meniru pola kinerja yang seperti ini. Kalau tidak, kita hanya menjadi orang-orang yang hidup dengan kebiasaan atau kebanyakan orang.

Menurut Bapak Sofyan seperti yang dilansir liputan6.com (11/1/2018), bahwa di dalam mencapai target di tahun 2018 ini, di 31 provinsi yang ada, kegiatan redistribusi tanah di masing-masing provinsi ditargetkan bisa selesai 350 ribu bidang tanah. Itu artinya potensi yang bisa dicapai di tahun ini  bisa mencapai angka 10 jutaan lebih. Dimana tanah itu bisa berasal dari lahan transmigrasi, lahan Hak Guna Usaha (HGU) yang habis masa berlakunya, lahan terlantar, maupun dari pelepasan kawasan hutan. 

Jadi kementerian tersebut harus berkoordinasi dengan seluruh pejabat atau instansi yang terkait. Dimulai dari kelurahan, Kabupaten, Dispenda, Kantor Pelayanan Pajak, hingga unsur aparat keamanan pun harus terlibat di dalam mencapai target yang sudah ditetapkan.

Bahkan realisasi terwujudnya angka 8 juta sertifikat tanah tersebut tidak harus sampai setahun, cukup setengah tahun. Seperti yang disampaikan oleh Sekretaris Jenderal Kementerian ATR/BPN, M.Noor Marzuki.

“Pemetaan tanah akan dimulai Februari, dan prosesnya itu sekitar 95 hari, atau 4 bulan lah, jadi selesainya bisa pada Juni. Untuk penyelesaian sertifikat tanah, itu Insya Allah pada Oktober," ungkap dia.

Itu adalah langkah-langkah optimis yang bukan hanya dimiliki oleh Bapak Jokowi seorang, seluruh jajarannya juga adalah orang-orang yang punya optimis dan harapan yang tinggi. Seperti yang juga disampaikan oleh beliau, bahwa ketika ada kemauan bukan tidak mungkin hal itu bisa tercapai. Meskipun awalnya dianggap mustahil.

“(Itu) Realistis, dulu hanya 500 ribu (bidang tanah), saya beri target 5 juta, dapat. Saya minta 7 juta tahun ini, tadi sudah dijawab Pak Menteri sebelum akhir tahun rampung. Kenyataannya kalau kita punya tekad yang kuat,niat yang bener, rampung. Yang optimis lah, dulu juga banyak yang pesimis dari 500 ribu ke 5 juta loncat sampai 10 kali," ungkap Bapak Jokowi kepada Kementrian ATR/BPN.
Akhirnya, ketika Bapak Jokowi tidak diberi kesempatan lagi untuk periode kedua, mustahil hal-hal kecil ini bisa dikerjakan oleh orang lain. Sebab pasti orientasi maupun visi misinya sudah beda. Maukah kita memberikan amanat ini kepada orang lain, yang masih hanya sekedar memberikan janji, dan bukannya bukti? Sebab seperti yang sudah kita lihat sendiri, bahwa seluruh orang-orang yang kontra Jokowi, bisanya hanya nyinyir doang. Bukankah itu tidak menutup kemungkinan dimiliki oleh pemimpinnya. Silahkan jawab sendiri.
   

Rabu, 07 Februari 2018

Melihat Peran Tiga Generasi, Zaavit Versus Duo Silaban (Tigor, dan Friedrich)



 
Zaavit seharusnya berkaca dulu sebelum melayangkan kartu kuning kepada Bapak Jokowi pada saat Dies Natalis BEM UI kemarin di Depok.Disamping karena kebutaannya akan kondisi lapangan di Papua, kedua sebagai seorang mahasiswa itu, seharusnya lebih banyak belajar, menggali fakta-fakta dan sejumlah informasi. Sebelum akhirnya Anda mendapatkan perundungan dari banyak warganet.

Memang tak menampik, gara-gara itu, Anda menjadi sangat terkenal di kalangan dunia maya Indonesia. Tiada media yang tidak memuat berita tentang gaya sok herois konyol yang Anda kerjakan lalu. Peristiwa yang mencoreng almamater UI dan segenap warga kampus UI.

Mungkin dirimu tak mengenal siapa itu Tigor Silaban apalagi ayahnya, yang jauh lebih tua dari usiamu sekarang ini. Mari belajar dari pendahulumu, masih satu almamater dengan dirimu, yakni  Bapak Tigor Silaban. Kemudian tunggu dulu, untuk perkenalan kepada Bapak atau Ayahnya Tigor Silaban. Niscaya kalau dirimu bisa search sejenak untuk memastikannya, maka kemungkinan dirimu akan berpikir dua kali untuk memberikan kartu kuning kepada orang nomor satu di Indonesia ini.

Bapak Tigor Silaban, seorang dokter tamatan UI, lahir pada  1 April 1953, sudah mengantungi 38 tanda jasa di  bidang kesehatan. Sebab karena kepiawaiannya dalam menjalankan praktek kesehatan dan akan terus mengabdi di Papua. Sudah berpuluh-puluh tahun mengabdi menjadi dokter orang Papua, dirinya tidak pernah mengeluh sedikitpun tentang kondisi yang begitu amat berat disana. Bayangkan saja, ketika baru menapakkan kaki di tanah Papua, mendengar kabar bahwa ada dokter yang telah dibunuh, tepatnya di Oksibil, seperti yang dilansir oleh newsdetik.com (7/2/2018), beliau tidak menyurutkan hatinya untuk tetap berada disana. Menjadi dokter satu-satunya yang menangani masalah kesehatan disana.

Bukan hanya itu, tugas pelayanan kesehatan yang dimintakan kepadanya melebihi dari profesi kedokteran yang sudah diselesaikan sebelumnya, yakni dokter umum. Beliau juga terkadang diminta untuk melakukan banyak operasi-operasi pembedahan, dan berbagai pelayanan kesehatan lainnya sesuai dengan kondisi lapangan. Hal itu dilakukan sebab ketika pergi ke rumah sakit yang ada di Kabupaten, kemungkinan hal tersebut bisa membuat si pasien akan semakin buruk. Makanya terkadang dirujuk ke puskesmas dimana Bapak Tigor sendirilah yang menjadi dokter kepalanya disana.

Kalau dirimu ditanyakan Zaadit, akankah dirimu sanggup untuk pergi kesana? Secara dirimu adalah orang kota, kulit keputihan dan tambun, apakah dirimu akan mampu berjalan berpuluh-puluh kilometer untuk mencapai lokasi? Timbul keraguan dalam diri ini.

Kemudian mari lihat papanya Tigor Silaban, Friedrich Silaban, yang hanya seorang tamatan SMK, sudah memiliki karya arsitek yang mumpuni, dan sekarang gedung-gedung buatannya tersebut sudah menjadi ikon bersejarah bagi bangsa kita.
Sebagai bangsa yang baru membangun dan baru merdeka, Friedrich menyumbang sketsa bangunan cemerlang. Hingga kini kita masih dapat melihat bangunan rancangan Friedrich di Jakarta seperti Gedung Bank Indonesia (1958), Gedung Pola (1960-1961), Gedung BNI (1960-1961), Departemen Kejaksaan (1961), Monumen Pembebasan Irian Barat (1962), dan Markas Besar Angkatan Udara (1964).
Dan karyanya yang paling fenomenal, seperti yang dilansir Kompas.com (22.2/2016)  sekaligus melejitkan kariernya adalah Masjid Istiqlal (1955). Masjid yang memiliki arti nama "merdeka" ini sampai sekarang masih menjadi yang terbesar di Asia Tenggara sekaligus menjadi lambang kerukunan antar umat beragama di Indonesia. Nanti pada tanggal 22 Februari 2018, Masjid Istiqlal akan berulang tahun yang ke-40.
Bagaimana mungkin anak seorang pendeta, bisa mendesain dan menyelesaikan pembangunan mesjid terbesar tersebut. Hal ini menjadi fakta sejarah, bahwa keberagaman dan perbedaan diantara kita, bukanlah menjadi pemecah di NKRI ini. Kualitas kepribadian yang menonjol berbanding lurus dengan apa yang dihasilkan. Bukannya dengan orang yang hobinya suka nyinyir, protes tapi tidak tahu apa yang sedang dikerjakan sekarang.
Apalagi Bapak Jokowi. Orang nomor satu di Indonesia yang telah giat berjuang membangun Indonesia dari Barat hingga ke Timur, selalu membangun dari daerah-daerah terluar di Indonesia. Ada terjadi banyak pembangunan yang dikerjakan, apalagi yang namanya jalan tol, dari Sumatera hingga Papua, yang telah banyak yang diresmikan beliau pembukaannya, hanya supaya tercipta konnektivitas antara satu wilayah dengan wilayah yang lain, antara satu desa dengan desa terpencil yang lainnya.
Tapi oleh Anda dan sejenis Anda, yakni yang kegemarannya adalah ngomong hal-hal negatif,  menjelek-jelekkan, merasa pembangunan yang dikerjakan itu adalah sebuah kesia-siaan, sebab lupa membangun orangnya. Benarkah demikian. Sekarang coba kita lihat orang yang sama dengan Anda,yang memegang peranan kendali memimpin suatu daerah.  Apa yang sedang beliau kerjakan. Terutama hari-hari terakhir ini. Awal sebelum banjir, tampaknya persiapannya sudahlah matang sekali dengan segala bla…bla….bla..dan bla…Kemudian ketika kita mendengar omongan yang hebat itu, dalam pikiran kita, oh…. banjirnya pasti dalam waktu sekejap hilang. Tapi ternyata, jauh panggang dari api, banjirnya perhari ini(8/2/2018) pun belumlah surut. Hanya mencoba membandingkan saja.
Kembali ke topik yang saya kemukakan diatas. Ada tiga generasi tokoh yang coba saya bandingkan. Kalau bisa kita istilahkan, ketiga tokoh tersebut, yakni Zaavit (generasi Z), Bapak Tigor (Generasi Y), dan Bapak Friedrich (Generasi Baby Boomers). Maka tampak perbedaan kualitasnya. Yang satu, bisanya hanya komentar doang, protes. Tapi yang duo Silaban, bukanlah tipe orang yang demikian. Mari lihat prestasinya diatas dan coba bandingkan, serta simpulkan sendiri. Tampak perbedaannya bukan.
Dalam diri seorang Bapak, yang suka membangun dan memberikan hasil kerja nyata bagi bangsa ini. Akan menular ke anaknya sikap kepribadian yang demikian juga. Oleh karena itu, saudaraku Zaavit, mari belajar kembali dulu deh. Kemudian setelah menyelesaikan studi dengan baik, bangunlah bangsa kita ini dengan keahlian yang kamu punya. Mari tunjukkan prestasimu yang pada akhirnya bisa membanggakan ibu pertiwi.  



Selasa, 06 Februari 2018

Satu Lagi Karya Pak Ahok, Tetap Diteruskan Pak Anies, I-Jakarta


Tampilan Pak Anies Sandi dan Pak Ahok di IJakarta




Pak Ahok memang the best dalam merancang sebuah program. Program yang dikerjakannya memang betul-betul matang. Meskipun tidak memimpin lagi, ada banyak legacy atau warisan yang ditinggalkan beliau. Termasuk program aplikasi I-Jakarta. Sebuah aplikasi pinjam buku sepertii perpustakaan. 

Berikut pernyataan beliau dalam profil yang terpasang di fitur e-Pustaka. Menjadi pelayan publik bukan pekerjaan mudah. Masyarakat perlu mendapat perhatian lebih. Masyarakat perlu pelayan dan pemimpin yang melayani. Salah satu cita-cita Gubernur DKI, Ir. Basuki Thahaja Purnama,M.M,biasa disapa Ahok, adalah memberi fasilitas umum gratis untuk membaca tanpa dibatasi ruang dan waktu. Cita-cita tersebut terwujud untuk warga Jakarta dengan hadirnya aplikasi perpustakaan digital bernama Ijakarta sebagai gagasannya yang sekarang ada dihadapan Anda.

Perpustakaan digital (ePustaka) miliknya ini berisi buku-buku koleksi belia yang dapat dibaca oleh siapa saja dan kapan saja. Anda pun dapat mengikutinya sebagai follower di ePustaka ini. Memberikan komentar terhadap buku yang Anda baca di laman ePustakanya. Perpustakaan digital Pak Ahok ini memperpendek jarak komunikasi warga Jakarta untuk mengenal beliau lebih dekat melalui koleksi buku digital yang dimiliki.

Program ePustaka ini menjadi karya yang tak terbantahkan, bahwa kualitas Pak Ahok memang benar-benar beda. Ijakarta yang sudah berjalan sejak tiga tahun lalu, seperti yang dilansir oleh liputan6.com (19/5/2016), dilounching bertepatan dengan Hari Buku Nasional, Senin (17/5/2016). Dan aku sudah memakai aplikasi ini sejak November tahun 2016 lalu. Merasakan dampaknya secara langsung, meskipun aku bukanlah warga Jakarta. Bisa mengakses banyak buku gratis yang berbobot yang kalau kita beli buku fisiknya diluar belum tentu mampu. 

Ijakarta sebagai salah satu pelopor aplikasi perpustakaan digital berbasis media sosial di Indonesia. Memadukan potensi serta kegemaran warga Jakarta di media sosial dengan pemenuhan kebutuhan warga akan informasi serta ilmu pengetahuan melalui buku yang berkualitas. Dimana menurut Tike Priatnakusumah, penyiar radio dan bintang televisi, “Ijakarta menjadi solusi yang tepat  bagi para “digital native” dan bagi mereka yang butuh medium tanpa batas untuk mengekspresikan dirinya melalui tulisan atau untuk meningkatkan pengetahuan.

Wandi S.Brata, Direktus Pelaksana Yayasan Nusa Membaca, kemudian mengatakan bahwa apa yang dilakukan di dalam iJakarta dapat menjadi model bisnis baru bagi dunia buku. Dimana penulis dan penerbit terlindungi dengan adanya hak cipta digital yang jelas. Kemudian adanya kesempatan langsung  maupun ruang yang lebih luas ketika mau berinteraksi dengan pembaca dan komunitas.
Penggunaannya aplikasi ini juga cukup mudah. Bisa digunakan di berbagai platform, seperti iOS, Android maupun PC.  Dengan hanya mendownload aplikasi tersebut, masuk dan mendaftarkan diri dengan menggunakan akun Facebook kita ataupun email yang kita miliki.

Adapun keuntungan untuk menjadi membershipnya,yakni jangka waktu keanggotaan selama satu tahun, bisa meminjam buku hingga 1000 buku, maksimal pinjam buku 3 judul perhari, dan satu buku aktif selama 7 hari. 

Berdasarkan pantauan saya hari ini (6/2/2018), awalnya saya terkejut melihat sosok Gubernur baru DKI H.Anies Rasyid Baswedan, Ph.D, dan Wakilnya Sandiaga Salahuddin Uno, B.B.A., M.B.A ada di fitur ePustaka paling atas. Itu artinya beliau baru bergabung dalam aplikasi Ijakarta ini. Tidak tahu kapan tepatnya bergabung di dalam wadah perpustakaan digital Jakarta. 

Bapak Anies sudah menyumbangkan lima buku, lima salinan judul buku dan ada 131 anggota kepustakaannya, dengan jumlah followers baru 59 orang. Dengan kondisi sekarang, 4 buku diantaranya sudah habis salinannya. Itu artinya kita tidak bisa lagi meminjam buku-buku itu.

Sedangkan Bapak Sandiaga Uno juga memiliki 5 buku, 5 salinan buku, jumlah keanggotaan pustakanya sebanyak 77 anggota. Sedangkan jumlah followernya baru 55 orang. Dengan kondisi bukunya, 3 salinan copy nya sudah habis.  

Bagaimana dengan Pak Ahok. Berdasarkan penelusuran saya, beliau mempunyai 43 buku, tapi jumlah salinannya sebanyak 88 buku. Itu artinya masing-masing judul buku memiliki minimal dua salinan. Ketika buku yang satu dipinjam, berarti masih ada stok satu lagi yang bisa kita pinjam. Jumlah keanggotaan pustakanya mencapai 676 anggota. Sedangkan jumlah followernya sudah mencapai 3.669 orang. 

Sedangkan Bapak Drs. DJarot Saiful Hidayat, M.Si., meskipun dalam Profil  beliau di Ijakarta, masih ‘Trial Version’, beliau memiliki 17 judul buku, dengan jumlah salinannya sebanyak 950 salinan, keanggotannya mencapai 74 orang. Jumlah followersnya baru 340 orang. 

Terakhir, bersyukur buat Bapak Anies ternyata masih meneruskan aplikasi ini. Seandainya kalau tidak, kita tidak bisa lagi mengakses buku gratis berkualitas. Bahkan buku-buku yang baru terbitpun ada disitu. Ketika tidak punya uang untuk membeli buku baru, kalau mau yang gratisan, yah mari gunakan aplikasi tersebut.

Pernah berpikir, kenapa sewaktu menjabat dulu sebagai Menteri Pendidikan, tidak mencoba memulai aplikasi yang seperti ini. Padahal ketika kita didaulat sebagai seorang menteri yang menangani seluruh pendidikan yang ada di Indonesia ini, tugasnya yakni membuat bangsa ini semakin cerdas dan berwawasan luas. Tapi ya, sudahlah, beliau memang tidak memiliki mimpi seperti mimpinya Ahok. Bisanya hanya untuk mengikuti ajalah. Itupun sudah baik. 

Bagaimana jika kebijakan baik lainnya, tapi akhirnya tidak diteruskan atau artinya dihentikan. Kita mau bilang apa. Kita sebagai hanya warga masyarakat hanya bisa berkata, ya sudahlah. 



Sekali lagi, thanks buat Pak Anies yang masih melanjutkan aplikasi Perpustakaan Digital gratis ini. Selamat buat kebijakan baik Bapak.

4 Aspek Ancaman di Hidup Kita dan Covid 19

(Hizkia Bagian satu- Yesaya 36) Siapa yang tidak pernah mendengarkan kata-kata ancaman dalam tiap kehidupan kita? Bisa dipastika...