Rabu, 01 Agustus 2018

Media di Mata dan Tangan Para Penguasa


 
Kata demokrasi sesungguhnya menjadi kata yang sangat pentng di dalam menentukan arah dan perjuangan suatu bangsa akan menuju kemana. Sebab dengan demokrasi kita bisa menentukan siapa penguasa ataupun pemimpin kita, siapa orang yang akan bisa membuat perubahan dengan segala keputusan-keputusannya. 

Meskipun demokrasi bukanlah segala-galanya bagi negara yang memang menganut sistem monarki atau kerajaan. Dimana bagi negara yang menganut sistem kerajaan, maka demokrasi tidak dibutuhkan, sebab masyarakat sudah tahu siapa yang menjadi pemimpin selanjutnya, yakni sang pangeran dari raja tersebut.  

Dengan sistem demokrasi, bagi sebagian besar negara-negara yang tidak menganut sistem monarki, bisa dengan cepat menentukan siapa yang akan menjadi pemimpin di dalam suatu bangsa.  
Penguasa ataupun pemimpin tentu menjadi alat bagi demokrasi tersebut di dalam mencapai tujuan dari cita-cita yang sudah ditetapkan jauh sebelumnya oleh para founding father negara tersebut. Di negara Indonesia, maka Soekarno-Hatta bersama para pejuang lainnya tentu menjadi para pendiri dari negara kita.

Olehnya  juga maka masyarakat seharusnya menjadi subjek atau pelaku dari demokrasi tersebut.Tetapi untuk bisa menjembatani antara penguasa dan rakyat perlu adanya media. Dengan media maka pemerintah bisa mensosialisasikan segala pencapaian yang sudah dihasilkan atau diperoleh selama ini.

Dan dengan pemberitaan dari media tersebut tentunya masyarakat bisa mengetahui dan menilai apakah pemimpin mereka berhasil atau tidak.  Apakah pemmpin mereka sudah berjalan di dalam track atau jalur yang telah ditetapkan atau tidak?

Ketika gagal ataupun berhasil, maka dengan itu masyarakat bisa memutuskan apakah melanjutkan atau memberhentikan si penguasa tersebut memimpin dan berkuasa. Maka peran media sesungguhnya menjadi sangat sentral di dalam proses demokrasi di suatu bangsa.

Mari melihat sejenak media di mata dan tangan para penguasa berikut. Berkaca dan mencoba membandingkan apakah media di tangan mereka menjadi mitra atau malah menjadi musuh. Kemudian apakah menjadi alat untuk memanipulasi atau alat untuk menyampaikan data atau fakta yang sebenarnya?
A.    
  Media pada Masa Soeharto

Tentu kita tidak lupa bagaimana Soeharto begitu dan sangat menguasai Media komunikasi. Bahkan untuk memfasilitasi media atau lebih tepatnya mengontrol dengan sedemikian rupa, Soeharto membentuk sebuah kementerian yang bernama Kementerian Penerangan, yang waktu itu dijabat oleh Harmoko.

Dimana dengan kuasa di tangan mereka, segala informasi dan segala berita yang berkembang di masyarakat tidak boleh lepas dari kontrol kementerian tersebut. Segalanya harus dikomunikasikan kepada mereka.

Bahkan ketika mengetahui adanya penyimpangan sekalipun, berita-berita yang dimuat pastinya sudah dimanipulasi. Olehnya media menjadi alat bagi Soeharto di dalam mengkampanyekan keberhasilannya yang tampak semu seolah-olah menjadi realita yang sebenarnya.

Meskipun ada riak-riak yang memperjuangkan bahwa media tidak boleh dikontrol sepenuhnya oleh pemerintah, tapi para pejuang tersebut mendapatkan banyak tekanan dan bahkan dipenjarakan tanpa adanya pembelaan sedikitpun.

Pemerintah tampak begitu sangat represif di dalam mengkomunikasikan dan menjalankan sistem pemerintahannya. Tentunya masa ini menjadi masa kelam bagi media. Dan sudah menjadi bahagian dari sejarah bangsa kita. 

B.      Media pada Masa SBY- Jokowi (Masa Reformasi)

Media pada masa SBY-Jokowi, menjadi masa yang baru bagi media. Sebab media sudah lepas dari kungkungan para penguasa. Media bisa merayakan hari kebebasan pers. Bebas untuk menyampaikan kritik ataupun pujian yang tentunya berdasarkan realita yang ada.

Bahkan pada masa SBY, media menjadi alat kampanye bagi SBY di dalam pencitraan keberhasilan pemerintahannya pada waktu lalu. Di awal-awal pemerintahan SBY, media seakan-akan menjadi media darling bagi SBY.

Kemudian media terus menunjukkan perkembangan yang sangat signifikan. Media mulai mendapatkan perlindungan dengan payung hukum yang jelas supaya para awak media bisa tenang di dalam mengerjakan tugas jurnalistik mereka.

Pada masa Jokowi, media juga mendapatkan perlakuan yang sama seperti pada masanya SBY dulu. Bahkan lebih berkembang lagi. Sebab masyarakat bukan hanya bisa menikmati media-media cetak, sekarang akses untuk mendapatkan informasi jauh lebih cepat dan jauh lebih massif.

Meskipun akhirnya memunculkan dampak negatif. Seperti perkembangan berita-berita bohong atau hoax yang begitu cepatnya juga beredar. Masyarakat sekarang menjadi sulit untuk membedakan mana berita yang palsu atau fake mana berita yang asli.

Jadi masyarakat bertambah tugasnya, bukan hanya sekedar membaca berita, tapi juga harus bisa menyaring dan mengkroscek kebenarannya.    

C.      Media pada Masa Trump  

Perkembangan media di tanah air kita tentu sudah sangat baik, meskipun dengan segudang tantangannya. Tapi ketika kita menyaksikan media di negara Paman Sam, media memasuki fase baru lagi.

Dimana ketika media akhirnya seperti dimusuhi oleh pemerintahnya sendiri. Donald Trump menyulut dan bahkan menyatakan media sebagai musuh masyarakat. Tentu pada masa canggih dan modern sekarang ini, pemerintah sulit untuk memonopoli atau menguasai kembali media-media yang ada. Seperti yang terjadi pada masa kelamnya media-media dulu.

Oleh karena tidak bisa lagi menguasai, maka strategi pemerintah yang bisa diambil adalah dengan membuat strategi permusuhan. Media diklaim menjadi sumber pemberitaan bohong bagi masyarakat. Akhirnya dimasyarakat terjadi polarisasi yang cukup signifikan. Yakni diantara pendukung Trump dan yang bukan. Dimana para pendukung Trump akan lebih mengakomodir kepentingan Trump. Dan turut mengklaim bahwa media adalah sumber masalah dan sumber bencana bagi negara mereka.

Padahal jelas-jelas media-media pemberitaan di Amerika tersebut, seperti CNN, The New York Times, dan beberapa media internasional lainnya, sudah sering mendapatkan penghargaan tingkat dunia. Artinya media-media tersebut menjadi media yang paling terpercaya.

Masak pada pemerintahan Trump, dengan media yang sama, akhirnya mendapatkan cap “fake news”. Sedangkan pada pemerintahan sebelumnya, media-media tersebut justru menjadi jembatan bagi sang penguasa untuk memberitakan keberhasilan ataupun kegagalan mereka.

Dari itu semua, apa yang dapat kita simpulkan? Media dan proses demokrasi tentunya harus bisa berjalan berbarengan. Supaya bisa mencapai tujuan negara, maka peran media tentu menjadi sangat sentral.

Dan bagaimana perubahan demi perubahan yang terjadi pada media, tentunya bisa membuat kita semakin paham bahwa media di tangan pemerintah, apakah menjadi teman atau malah menjadi musuh dari sang penguasa. 

Penulis adalah pegiat sosial dan pelayan bagi kemajuan di desa dalam komunitas PESAT

Minggu, 08 Juli 2018

Flash Back Moment PMKP ke-8 Sebuah Perenungan dan Pembelajaran PESAT di 30 Tahun Mendatang




Perlu untuk mengingat-ingat, merenungkan dan bahkan mengevaluasi apa yang sudah dilewati secara bersama-sama. Satu yang terutama pesan apa yang di dapatkan dalam event akbar tersebut. Sebab kalau hanya sekedar say hallo dengan teman lama, bertegur sapa dan meluapkan hasrat yang sudah lama tidak bertemu, tentu event semacam itu akan berujung kepada itu saja. Alhasil tujuan pertemuan yah hanya sekedar itu saja.

Tapi ada satu hal yang harus dicapai, sebab akan percuma dana yang hingga puluhan miliar yang sudah habis, jika tidak mencapai tujuan tersebut. Yakni mengerti akan kata “pemuridan” tersebut. Pemuridan yang sudah diteladankan oleh tokoh-tokoh di Alkitab, maupun pemuridan yang sudah diteladankan oleh para pemimpin kita.

Bukan bermaksud untuk merangkum semua apa yang sudah dilewati bersama melalui pesta rohani terbesar di keluarga besar PESAT, sebab akan percuma dan membutuhkan daya yang lebih untuk bisa merangkum hal tersebut menjadi sebuah rangkaian yang bisa kita mengerti bersama. Sebab masing-masing kita memiliki keterbatasan.

Dan dengan keterbatasan tersebut, jika seandainya seluruh komunitas PESAT bisa menuliskannya apa yang sudah didapatkan, tentu menjadi sebuah harmoni catatan perjalanan rohani yang sangat indah, bersama dengan perahu besar yang bertujuan menciptakan generasi pemimpin pemurid berikutnya, yang bernama PESAT.

Masing-masing kita tentunya akan memiliki pergumulan tersendiri dan berbeda-beda dengan orang lain. Baik sebelum menuju lokasi, kemudian ketika berada di lokasi, dan akhirnya kembali lagi ke tempat dimana kita sudah melayani.

Mungkin salah satunya dana untuk bisa mencukupi selama kita dalam perjalanan. Tapi secara khusus, diriku ternyata harus memilih dua pilihan besar yang saling bertentangan satu sama lain. Dimana ketika harus memilih yang satu maka akan mengorbankan yang satunya lagi. Sebab event kedua hal tersebut bersamaan, dan harus dipilih mana yang jadi prioritas dalam hidup kita. Dan akhirnya langkah itu sudah kuambil, dan kini menerima segala konsekuensinya. Tapi aku tidak menyesali apa yang sudah kupilih. Sebab hal ini jauh lebih berharga dibandingkan dengan hal ITU.

Tidak menyesali sebab ada begitu banyak pelajaran yang sangat berharga yang sayang untuk dilewatkan begitu saja. Menyaksikan secara langsung apa yang terjadi kepada pemimpin-pemimpin kita, rekan-rekan kita, berbagi dan saling menguatkan satu dengan yang lain. Belajar dari setiap keputusan yang mereka sudah ambil.

Contohnya saja, salah satu mentorku, yang telah memperkenalkan PESAT kepadaku terlebih dahulu, dan mengurus segala sesuatunya hingga sampai detik ini, yakni sudah berjalan selama 10 tahun lebih diriku ada di pelayanan ini, tapi di PMKP kali ini di tahun 2018, diriku tidak lagi ketemu dengannya. Semua karena hanya sebuah pilihan. 

Beliau lebih memilih untuk melakukan pelayanan yang lain, karena sepertinya tidak siap dengan segala perubahan yang sedang terjadi di yayasan ini.

Pemimpin dan Perubahan
 
Setiap kita atau setiap hal bisa dipastikan akan berubah. Sebab perubahan itu pasti, jika tidak berubah bisa dipastikan akan stagnan dan akhirnya bisa berujung kepada kematian. Tinggal kita yang harus begitu cermat mengamati, mengawal, dan bahkan menghadapi setiap perubahan tersebut. Butuh strategi, butuh daya, dan butuh pemikiran serta hati yang teguh di dalam menyongsong perubahan tersebut.

Dan perubahan-perubahan ini-lah yang sedang dipelajari oleh tiap-tiap element yang ada di dalam unsur pelayanan PESAT. Supaya setiap elemen atau bidang masing-masing bisa bekerja dan melayani sesuai dengan visi yang sudah Tuhan taruh kepada pemimpin kita. Bekerja dan melayani dengan hati hamba, dan pemikiran seorang Bangsawan, seperti yang sudah disampaikan oleh Ps. Philip Mantofa. Yakni punya hati hamba tapi bermental raja.

Untuk membangun mental seperti ini, tentu akan sangat sulit sekali. Sebab akan melalui banyak tahapan proses yang harus dilewati terlebih dahulu. Kedepannya topik ini akan kubahas dalam beberapa tulisan lainnya.

Pemimpin, Buku Bacaan dan Delegasi
Kemudian Papi Daniel Alexander mengemukakan, bahwa pentingnya membaca buku-buku. Disamping memang selalu membaca buku Alkitab, seharusnya kita para pelayan untuk rajin membaca buku-buku yang bermutu. Melihat pada kenyataannya, bahwa minat membaca orang Indonesia sangatlah jelek. Maka hal ini-pun berimbas kepada seluruh pelayan-pelayan di PESAT juga.

Bahkan buku yang dibagikan oleh Bapak Bambang Budijanto yang berjudul Contemplating Leadership yang baru saja terbit di bulan April 2018, sebenarnya harus kita baca masing-masing. Meskipun aku baru sampai pada bab ke-4, tapi makna yang tertulis di dalamnya, amatlah sangat kena dengan kondisi pelayanan kita di lapangan.

Apalagi mengenai tokoh Kaleb, pada bab 3, Seperti yang Dijanjikan. Saya kira inilah yang menjadi motto penggerak pelayanan PESAT di 30 tahun mendatang. Dimana sudah ada tokoh yang pernah menghidupi janji Tuhan. Bukan hanya sekedar percaya saja kepada janji tersebut, melainkan juga ada persiapan matang yang dilakukan untuk mempersiapkan generasi baru. Yakni pemimpin baru di tahun ke-40 tahun kemudian. Sebab para orang tua maupun orang dewasa, sudah diperintahkan Tuhan untuk tidak masuk ke tanah Kanaan.
Bahkan Bapak Bambang langsung mencatat dalam sebuah Caption di WA grup PESAT Ministry. Foto sekaligus “Pernyataan Harapan” dari pemimpin-pemimpin muda PESAT di 30 tahun mendatang. Dan tentu hal ini menjadi sebuah batu loncatan untuk melakukan gebrakan yang luar biasa di tahun-tahun mendatang dalam pelayanan PESAT.

Dimana tentunya dengan hal ini, Pak Bambang Budijanto, sedang menyatakan dan mendelegasikan tugas kepemimpinan PESAT akan dilakukan oleh para pemimpin muda ini. Dimana tugasnya adalah mempersiapkan generasi pemimpin pemurid berikutnya. Seperti yang sudah dilakukan oleh Kaleb, demikianlah Bapak Bambang sedang mempersiapkan penatalayanan berikutnya yang bisa mempersiapkan generasi baru bukan hanya bagi Indonesia tapi juga bagi bangsa-bangsa lainnya.

PESAT 30 Tahun ke Depan

PESAT di-30 tahun ke depannya, akan melakukan hal yang serupa bagi generasi di bangsa ini. Yakni mempersiapkan generasi tangguh yang siap berperang melawan pembodohan, melawan kemalasan, melawan siasat-siasat iblis yang akan bisa merusak bangsa ini.

Dan kedepannya, Visi yang sudah tertuang di dalam Vision Statement PESAT, yakni PESAT sebagai pelaku utama di dalam program pengembangan kepemimpinan anak PESAT paling diminati di Asia, tentunya bukanlah omong kosong semata. Ini bisa kita buktikan bersama-sama.

Pesan berikutnya yang datang adalah ketika berdiskusi bersama membahas tentang MISI VISI PESAT 30 tahun ke depannya, bersama dengan Bapak Edy. Ketemu dengan frasa berikut, yakni “keberanian yang menular” yang merupakan salah satu nilai PESAT, yakni Courage atau berani. Selanjutnya dengan frasa, bahwa “Anak adalah Solusi”.

Dimana frasa ini begitu mengguncang pemikiranku dan kedepannya juga akan membahas topik ini ke dalam tulisan berikutnya di masa-masa mendatang. Dan selanjunya, bahwa ada begitu banyak pesan-pesan yang menarik perhatian untuk dikupas lebih mendalam lagi.

Semoga berkenan.  
   

Jumat, 22 Juni 2018

Trigger KM Sinar Bangun dan Pengembangan Wisata Kawasan Kaldera Toba Kedepannya

 
Tentu kita masih mengingat kejadian tenggelamnya Kereta Motor (KM) Kapal Sinar Bangun dua hari setelah kita merayakan Tahun Baru Idul Fitri 1440 Hijriah. Betapa karena dengan momen spesial tersebut, bisa dipastikan akan banyak para wisatawan yang akan berkunjung atau melakukan perjalanan ke daerah tersebut.

Hal itulah yang dimanfaatkan oleh pemilik atau pengusaha penyeberangan kapal di Danau Toba. Ketika di kala banyak bingung bagaimana penyediaan sarana prasarana penyeberangan. Apalagi ketika para pengunjung sedikit, bisa dipastikan para pengusaha maupun pemerintah malah tambah bingung.

Dimana seakan-akan uang-lah yang  menjadi motor penggerak majunya suatu usaha kepariwisataan di daerah.  Baik oleh penyedia layanan wisata melalui pemerintah maupun oleh masyarakat setempat yang bermukim disana. Ujung-ujungnya yang dirugikan adalah para pengunjung yang melakukan wisata tersebut.

Dan kita memang tidak bisa menafikan fungsi uang ditangan. Dimana uang seakan-akan menjadi kapital atau modal yang paling utama di dalam  menggerakkan industri pariwisata. Padahal ada begitu banyak modal atau kapital yang bisa diberdayakan oleh pemerintah untuk  bisa mengembangkan industri pariwisata ini.

Maka tak heran ketika melihat Presiden kita, Bapak Jokowi, yang begitu getolnya memulai, mengawasi, dan akhirnya bisa menyelesaikan proyek pembangunan baik infrastruktur dalam mewujudkan konektivitas atau keterhubungan seluruh wilayah-wilayah di Indonesia. Yang memang wilayah kenegaraan kita lebih luas lautnya dibandingkan daratannya. Bahkan ada ribuan pulau di dalamnya.


Dengan kondisi yang demikian tentu itu menjadi modal yang sangat penting di dalam mendatangkan banyak devisa bagi negara. Jika memang hal tersebut bisa dikelola dengan sangat baik. Dan  ketika sudah terwujudnya konektivitas diantara seluruh pulau-pulau tersebut di darat, di perairan bahkan udara.

Bayangkan ketika jalan darat di seluruh pulau-pulau sudah teraspal dengan sangat baik bahkan memiliki akses jalan tol,  pelabuhan kapal dan kapal-kapal  untuk penyebarangan orang maupun barang sudah tertata dengan sangat rapi bahkan mudah untuk pengaksesannya. Kemudian ketika fasiltas bandara udara dan pesawat sudah tersedia dengan segala kecanggihan fasilitas yang disuguhkan dan ditawarkan.

Maka kenapa tidak, kita akan segera menyusul negara-negara maju seperti China bahkan Amerika? Bahkan kemungkinan kita bisa meninggalkan jauh posisi kekuatan Cina maupun Amerika seperti yang ada saat ini.


Dengan peristiwa naas yang menimpa saudara-saudara kita dalam tenggelamnya kapal Sinar Bangun tersebut, seharusnya menjadi awal atau trigger/pelecut untuk segera membenahi secara serius kawasan objek wisata Danau Toba, yang juga merupakan kawasan kaldera yang amat sangat terkenal itu.

Membangun suatu kawasan wisata entah di manapun sebenarnya tidak terlepas dari peran aktif masyarakatnya. Masyarakat sebagai ujung tombak dari adanya kegiatan kepariwisataan sebenarnya adalah faktor yang paling penting untuk meningkatkan jumlah tingkat pengunjung. Ketika hanya pemerintah yang terus gencar menggiatkan suatu objek wisata maka yakinlah hal itu hanyalah sementara.

Mengapa objek wisata Bali sangat terkenal hingga bahkan ke mancanegara? Ternyata ada kerjasama yang sangat baik diantara warganya dengan pemerintah Bali. Dimana karena begitu banyaknya kegiatan kebudayaan masyarakat Bali. Seperti Upacara Ngaben, Ngarek, Melasti, dan banyak upacara adat lainnya. Maka pemerintah Bali memanfaatkan budaya setempat tersebut dan mengkemasnya sedemikian rupa untuk bisa menjadi pemikat yang lebih di dalam menarik banyak wisatawan untuk berkunjung kesana. Jadi bukan hanya sekedar memanfaatkan kekayaan maupun keindahan Bali semata yang memang sudah sangat indah dan bagus.

Tradisi Ngurek di Bali

Bagaimana pengembangan yang sudah dilakukan oleh Pemerintah Pusat maupun pemerintah Daerah di Danau Toba? Apa mungkin karena terjadinya peristiwa tenggelamnya kapal Sinar Bangun, seakan-akan kita seolah-olah dicelikkan kembali bahwa ternyata pengembangan wisata Danau Toba sudah berjalan dengan stagnan?

Bapak Jokowi di dalam agendanya untuk memajukan wisata di Danau Toba,entah sudah berapa kali melakukan kunjungan langsung. Bahkan dengan usahanya, beliau sudah meningkatkan status bahkan seluruh fasilitas serta kapasitas yang ada di bandara Silangit, yang berada di dekat Danau Toba. Dimana dulu hanya melayani penerbangan regional, sekarang sudah melayani penerbangan Internasional. Artinya dengan itu bisa mempermudah arus wisatawan ketika akan melakukan kunjungan kesana.

Peresmian Bandara Silangit Internasional

Tapi bagaimana perkembangan atau usaha yang dilakukan oleh pemimpin daerah? Para pemda setempat, yakni para Bupati yang memang memiliki wilayah yang bersinggungan langsung dengan kawasan Danau Kaldera tersebut, seakan-akan hanya memiliki agenda masing-masing untuk mengembangan kawasan tersebut. Bahkan pemerintah setingkat Gubernur-pun seakan tidak berdaya di dalam mengembangkan objek wisata tersebut.

Ketidakberdayaan itu ditunjukkan dengan tidak adanya kebijakan-kebijakan yang berpihak di dalam mengembangkan objek wisata Toba semakin lebih baik. Contohnya membiarkan para pengelola langsung, seperti para pengusaha kapal, para pedagang, maupun para pelaku objek dari wisata tersebut, berjalan sendirian, tanpa adanya pendampingan yang berkelanjutan kepada mereka.

Bagi para pemilik atau pengusaha kapal, ternyata membiarkan managemen penyeberangannya amburadul. Dimana para calon wisatawan ketika baru akan melakukan penyeberangan dengan kapal, maka baru akan ikut dalam penyebarangan tersebut. Tidak adanya data penumpang yang jelas di dalam kapal, karena baru akan membayar biaya kapal ketika sudah ada berada di dalam kapal.

Makanya ketika peristiwa Kapal Sinar Bangun tersebut terjadi, maka sudah bisa dipastikan kesulitan di dalam mengakses siapa-siapa saja yang jadi penumpang dari kapal tersebut yang telah menjadi korban.

Kenapa pemerintah tidak membenahi sistem penyeberangan kapalnya dulu. Dengan meregister seluruh kapal-kapal penyeberangan yang ada. Dengan adanya sistem register yang terekam dengan baik, tentunya menjadi data awal baik di dalam mengawasi kelayakan kapal, ijin kapal, dan banyak hal lainnya.

Bukankah mereka punya hak dan akses langsung di dalam pengelolaan yang semakin lebih baik? Bukankah dengan teknologi informasi yang sudah sangat berkembang saat ini, dapat membantu dalam memudahkan para pelancong atau wisatawan untuk melakukan perjalanan ataupun penyeberangan ketika mereka akan melakukan kegiatan wisata di Toba?

Apakah sulit untuk melakukan ini? Tentu tidak. Hanya tinggal menunggu komitmen pemerintah yang ada sekarang di dalam melakukan perbaikan-perbaikan tersebut. Tentunya momen-momen pilkada ini apalagi pemilihan Gubernur Sumatera Utara, kenapa tidak untuk memilih pemimpin yang benar-benar berpihak kepada masyarakat dan yang mempunyai spirit membangun yang jelas dengan hati dan kejujuran? Bukan hanya memilih pemimpin yang bisanya berjanji tapi sulit untuk menepatinya.

Dan sepanjang pengamatan saya sebagai penulis, spirit tersebut hanya ada pada pasangan calon Djoss (Djarot-Sihar). Pemimpin yang sudah memberikan bukti atas kepemimpinannya di daerah lain. Mari manfaatkan momen ini untuk memilih pemimpin yang baik.   

Kedua, hal yang mungkin bisa dilakukan pemerintah adalah mencoba kembali menggali kebudayaan luhur yang ada di kawasan Danau Toba, yang sudah lama kita tinggalkan. Tentu kita masih punya banyak kebudayaan-kebudayaan yang bisa dikembangkan yang tentunya tidak kalah dengan kebudayaan Bali.


Jadi bukan karena adanya agenda rutin yang diselanggarakan oleh Pemerintah, seperti adanya Festival Danau Toba, tapi yang dipertontokan disana bukannya kebudayaan setempat. Yang ada malah pertandingan atau perlombaan yang tidak punya hubungan langsung dengan kebudayaan setempat, seperti adanya perlombaan Olah Tubuh Binaraga. Apa itu?

Maka kedepannya berharap kita segera bisa memiliki objek wisata Danau Toba, yang kehadirannya bukan hanya bisa menyamai industri pariwisata Bali tapi tentunya juga akan bisa mengalahkan potensi Bali. Menjadikan Danau Toba menjadi pusat utama bagi pengembangan wisata di Indonesia.   

Senin, 28 Mei 2018

Tips Praktis Membangun Bangsa yang Dimulai Dari Membangun Keluarga

 
Keluargaku Bersama Keluarga Mentor kami



Bangsa yang besar adalah bangsa yang memiliki budaya baik di dalamnya segala interaksinya.Kemudian sifat ataupun karakter yang ditunjukkan dari setiap anak bangsa adalah karakter yang kuat atau tangguh, tidak suka memaksa, apalagi merasa paling benar diantara semuanya. 

Sebab kalau merasa sudah paling benar dengan keyakinan yang ada bisa dipastikan akan menimbulkan banyak polemik, dan tidak menutup kemungkinan akan terjadi kekerasan dan menganggap biasa peristiwa dari bom bunuh diri yang terjadi beberapa waktu yang lalu.

Peristiwa bom kemarin, bukan hanya mengejutkan kita, tapi juga membuat kita geleng-geleng kepala. Kok bisa dari sebuah keluarga yang tampaknya harmonis, berkecupan bahkan tampak mewah rumah yang mereka tinggalin,tapi kemudian akhirnya memiliih untuk mengakhiri bukan saja nyawa dari si Kepala keluarga, bahkan istri hingga anak-anaknya juga harus dikorbankan dengan ideologi rusak seperti itu?

Apa yang salah dengan sistem kekeluargaan di masing-masing keluarga kita? Perlu mencermati supaya kita tidak terjatuh di dalam jurang yang sama.

Tidak bisa dipungkiri lagi, bahwa posisi keluarga memegang peranan yang penting di dalam kemajuan bangsa ini. Artinya ketika keluarga dan anggota keluarga semuanya sehat, kuat, dan cerdas, umur  atau harapan hidup yang panjang, tidak terjadinya giji buruk, apalagi ada anak yang stunting,, maka hal itu jugalah yang akan mencerminkan kondisi bangsanya sedang berada dimana.

Sebab kualitas keluarga yang baik akan menjukkan kualitas suatu bangsa yang baik. Dan hal itu tidak terlepas di dalam kita membangun keluarga kita masing-masing.

Berikut mungkin yang dapat kita lakukan untuk bisa membangun keluarga kita, yang tentunya akan memberikan sumbangsih di dalam membangun bangsa ini.

Pertama, memiliki visi atau tujuan keluarga ini terbentuk untuk apa? Apakah hanya untuk sekedar supaya dibilang tidak laku? Atau memang ketika memutuskan berkeluarga untuk suatu hal yang besar yang akan direngkuh bersama ketika keluarga ini terbentuk. Tentu hal ini tak terlepas juga dari nilai-nilai apa yang akan coba dikembangkan di dalam keluarga. Miliki nilai inti atau core value  tersebut, maka niscaya nilai itu yang akan memimpin keluarga kita akan mengarah kemana.

Contohnya, visi atau nilai yang boleh ditempelkan di dalam rumah, yakni jujur, disiplin, kerja smart, setia, dan tidak lupa bahagia. Maka ketika nilai-nilai tersebut terpampang, dan setiap hari kita saksikan maka lambat laun nilai-nilai tersebut akan merasuk ke pikiran dan hati kita. Sehingga akhirnya nilai tersebut bisa kita miliki. Dan yang lebih utama adalah memastikan bahwa nilai keluarga kita, tidak mengikuti nilai keluarga semacam nilai yang dimiliki oleh keluarga yang memilliki paham radikal atau semacam paham terorisme.Seperti kasus keluarga yang diatas.

Kedua, ciptakan momen-momen yang bisa mendorong kita maupun anak-anak kita, untuk bisa memiliki visi atau nilai inti yang ada dalam keluarga kita. Yakni ketika anak mulai tampak tidak jujur, dan banyak alasan, tentunya bisa membuat semacam treatment atau cara supaya dia  mengakui apa yang sedang dilakukannya. Tentunya tidak dengan intimidasi, melainkan mencoba menjadi seperti mereka sehingga mereka akhirnya bisa terbuka.

Tapi yang paling efektif untuk momen ini, adalah dengan menjadikan diri kita teladan yang baik dulu. Sebab anak-anak kita lebih banyak belajar dari apa yang kita perbuat, dibandingkan dengan apa yang kita katakan.

Ketiga, selalu melakukan evaluasi. Baik terhadap segala tindakan, ucapan, dan kalau bisa pikiran kita. Bersama-sama dengan istri dan anak-anak. Kalau bisa jangan terlalu kaku momen evaluasinya, supaya tidak merasa terintimidasi apalagi menjadi tambahan beban baru. Cari suasana atau tempat yang santai. Mungkin bisa kita lakukan setiap hari, seminggu sekali dan bahkan sebulan sekali.

Fungsi evaluasi tersebut yakni untuk bisa menilai apakah kita sudah berada di jalur atau track yang benar tentang nilai-nilai yang sudah kita tetapkan sebelumnya bersama dengan anak.

Keempat, yang mungkin tak kalah pentingnya adalah miliki mentor atau keluarga yang bisa menegor, atau menilai keluarga kita sudah sampai sejauh mana perjalanan keluarga kita. Ini penting sebab ketika seandainya suami dan istri cekcok atau berselisih, maka keluarga inilah tentunya yang akan bisa menolong kita. Sehingga permasalahannya tidak tambah semakin runyam, tapi bisa terselesaikan dengan baik.

Caranya cari orang atau keluarga yang bisa memontori keluarga kita dan tentunya keluarga tersebut dekat dengan kita. Tidak merasa segan apalagi canggung ketika kita bisa share ke beliau. Cirinya adalah tentunya keluarganya juga merupakan keluarga dengan kondisi dan memiliki jiwa, kerohanian, maupun pikirannya yang jauh berada diatas kita. Dan kita menyerahkan kontrol yang penuh bagi mereka untuk menilai dan menolong kita.

Demikianlah sedikit tips praktis yang boleh kita cermati bersama. Meskipun sedikit, semoga bisa bermanfaat bagi kita semua.

4 Aspek Ancaman di Hidup Kita dan Covid 19

(Hizkia Bagian satu- Yesaya 36) Siapa yang tidak pernah mendengarkan kata-kata ancaman dalam tiap kehidupan kita? Bisa dipastika...