Rabu, 13 Desember 2017

Nyanyian Untuk Ahok-Bukti Perjuanganmu Bagi Bangsa Tidak Gagal


Pak Ahok Menjadi Gubernur Terbaik dan Pemikir Dunia

Akan ada begitu banyak lagu yang tercipta ketika ada satu sosok yang begitu bisa menginspirasi. Dan sudah banyak lagu yang sudah tercipta karenanya. Nyanyian yang bukan hanya saja dipakai ketika akan menghadapi pilkada, tapi ketika sudah usaipun lagu dan nyanyian tersebut terus tercipta dan mengalir mengisi dunia permusikan bangsa ini. Lagu dan nyanyian tersebut diharapkan bisa menggugah hati para pendengarnya. Sosok tersebut tak lain dan tak bukan, yakni Ahok.
 
Seperti lagu yang diciptakan oleh saudara Salomo Pasaribu, yang berjudul “Ahok”. Lagu ini dinyatakannya sebagai hadiah Natal dan doa kepada Pak Ahok. Supaya sehat selalu dan tetap dalam perlindungan Tuhan. Dia menyebutkan di dalam channel youtube-nya, yang diunggah dan dipublikasikan tanggal 11 Desember lalu, bahwa Bapak Ahok adalah Bapak Hati Nurani yang sanggup berdiri teguh di tengah badai karena nurani.

Berikut syair lagu yang dituliskannya dalam sebuah lagu, Ahok.

Namamu lebih harum dari narwastu
Berkumandang dari Sabang sampai Merauke
Kau menjadi inspirasi dunia, Memimpin dengan hati nurani
Kau simbol kejujuran yang tegar dan Tak Gentar
Kau bagai batu karang berdiri teguh di tengah badai
Reff :
Ahok... Kami disini, dipersatukan cinta
Cinta akan negeri ini
Ahok...Kami disini, kami generasi muda..
Generasi Nurani
Bridge :
Kami disini...Berjuang untukmu
Kami disini...Berjuang bersamu
Kita harus bersatu..dalam kebhinekaan
Menuju Indonesi Jaya
Yang kita nikmati Bersama..


Mari mencermati sosok Ahok dalam lagu tersebut. Kalau dtelaah bahwa ada kata narwastu dalam pemilihan katanya. Kita ketahui bersama bahwa Narwastu adalah minyak termahal dan sangat harum. Untuk mendapatkan dengan ukuran isi buli standard buatan Israel, harus mengeluarkan biaya 300 dinar. Artinya satu dinar merupakan upah pekerja satu hari. Jadi harga untuk mendapatkan minyak narwastu tersebut, harus bekerja kurang lebih selama setahun. Dikatakan lebih harum dari minyak narwastu, dimana aromanya tidak lekas hilang dan harumnya semerbak dan tidak tengik.

Namanya berkumandang dari Sabang sampai Merauke. Dan memang benar, sejak ketika dipaksa untuk menjadi terpida kasus Al Madiah, ada begitu banyak daerah-daerah yang menyuarakan untuk membebaskan Ahok. Melalui digelarnya 1000 lilin untuk Ahok. Ada banyak masyarakat yang terus berjuang menyuarakan kebebasan dan keadilan.

Meskipun akhirnya kalah dan di penjara, dia dengan tegar dan berdiri dengan tegap dalam menghadapi putusan hakim yang ditimpakan kepadanya. Dia tetap memberikan yang terbaik. Bahkan kehadirannyapun dipenjara, selalu mendatangkan berkah bagi orang yang berada di sekelilingnya. Mulai dari membantu petugas-petugas yang ada di Mako Brimob dengan hasil penjulan bukunya yang fantastis, bahkan masih bisa menyurati orang-orang untuk memberikan kata-kata semangat dan motivasi. Dan banyak orang yang tersentuh dengan isi suratnya.

Juga ada begitu banyak kenangan dari orang-orang yang sempat bekerja bagi dia. Selalu memberikan kesan-kesan yang begitu positif dan membangun. Sehingga orang yang mendengarkan kisah-kisah yang mereka tuturkan, ada begitu banyak orang diberkati dan akhirnya dikuatkan.

Menyimpulkan bahwa di bangsa ini masih ada orang yang berani, jujur, dan tegas dalam menghadapi orang-orang yang mau merongrong uang rakyat. Ketika dipercayakan menjadi pemimpin rakyat, niatannya adalah untuk melayani masyarakat. Bekerja bagi rakyat, dan membuat banyak program yang akhirnya bisa menyesejahterahkan rakyat. Terbukti melalui indeks kepuasan masyarakat waktu itu kepada kinerjanya mencapai 70% lebih.

Kembali menata sistem pemerintahan yang bersih dan transparan. Yang dulunya awut-awutan, kemudian dibenahi. Sungai-sungai  dan danau-danau dinormalisasi dengan secepat mungkin. Membuat banyak daerah resapan serta membangun RPTRA (Ruang Publik Terbuka Ramah Anak). Sehingga ketika datang hujan yang lebat, tidak mengakibatkan luapan banjir sebab airnya surut dengan segera. Dan ruang-ruang publik yang didirikan bisa mendorong masyarakat warga Jakarta untuk selalu bersosialisasi dengan orang-orang yang ada di sekitarnya. Bahkan tak jarang, RPTRA-RPTRA tersebut menjadi objek wisata baru.

Memaknai lagu yang tercipta memberikan kesan tersendiri bagi sang pencipta lagu. Dan bahkan bagi orang yang menjadi sasaran dari lagu tersebut, yakni  Pak Ahok.  Baik itu tujuannya untuk menyemangati beliau, supaya tetap berpegang teguh kepada prinsip yang diyakininya. Demikian juga bagi orang-orang yang mendengarkan lagu tersebut tentunya akan bisa dibangunkan kembali. Supaya tetap kembali kepada prinsip-prinsip kebenaran dan keadilan yang kita junjung bersama.

Bukan seperti yang ditunjukkan oleh Bapak Setia Novanto baru-baru ini. Mencoba menghindari upaya hukum yang akan mengenainya sendiri akibat dari perbuatannya di masa lampau. Perbuatan korupsi pada proyek E-KTP yang mengakibatkan kerugian negara mencapai 2,3 trilyun rupiah. Mulai dari upaya melarikan diri dengan menabrak tiang listrik, hingga sekarang, menampilkan ke muka publik, dan dihadapan sidang perdananya bahwa dia sedang mengalami sakit. Padahal tim dokter menyatakan bahwa dia sehat-sehat saja.

Sikapnya dan perbuatannya menjadi preseden yang buruk bagi kehidupan keberbangsaan kita kedepannya. Sebab hal itu akan menjadi contoh yang mungkin-mungkin saja ditiru oleh generasi ini atau generasi selanjutnya. Sikap kepengecutannya dan tidak ada sikap kenegarawan yang dimilikinya, yang ditampilkannya di depan rakyat Indonesia, seakan-akan menunjukkan bahwa beliau sudah muka tembok dan tidak tahu malu lagi.

Dan bagaimana mungkin bisa tercipta lagu untuk bisa mengenang sosok Bapak Setnov tersebut. Lagu sindiran yah mungkin bisa jadi. Tapi yang akan lebih banyak muncul kedepannya adalah meme-meme atau gambar yang mengejek dan menyindir beliau.

meme Setnov (Sumber : Tribun.news)

Jadi, mari kita menjadi generasi yang bisa menginspirasi banyak orang. Melalui perbuatan-perbuatan yang terbaik, dan bertanggung jawab. Mengisi hari-hari bangsa ini dengan banyak karya-karya inspirasi dan inovatif yang bisa mengguncang dunia. Meninggalkan perbuatan-perbuatan tercela, seperti berbohong, mencela, memfitnah, apalagi korupsi. Sehingga kita bisa menjadi Ahok-ahok berikutnya yang menjadi sumber  insipirasi bagi para penggubah lagu.





Minggu, 10 Desember 2017

Jasa Raharja Zaman Now-Thanks Pak Jokowi


Kunjungan Petugas Jasa Raharja (Dok.Pribadi)



Seorang pemimpin yang baik dan tentunya berkualitas adalah seorang pemimpin yang mau memikirkan tentang orang-orang yang dipimpinnya. Tak terkecuali adalah seorang kepala daerah, maupun kepala negara. Mereka-mereka ini adalah seorang pemimpin.

Wujud seorang pemimpin yang mau bekerja tanpa mengenal lelah dan waktu adalah ciri seorang yang diidamkan oleh masyarakat. Ditambah lagi selalu membuat kebijakan-kebijakan yang arahnya adalah demi kebaikan dan kesejahteraan masyarakat itu yang selalu dinanti-nantikan.

Yang arah pembangunannya atau kebijakan programnya bukan hanya semata  untuk mengamankan suaranya ketika masa-masa pemilu, sehingga mengejar dan bahkan jor-joran selalu mengarahkan pembangunan yang serba jawa sentris. Sehingga lupa ternyata dia juga punya pekerjaan untuk  membangun pulau-pulau terluar, yang penduduknya selalu kurang mendapatkan perhatian dari pemerintahnya.

Berani untuk tidak populer di kalangan Jawa, meskipun pembangunan di Jawa juga tidak diabaikan.  Terbukti dari banyaknya pembangunan tol yang dimulai dari DKI hingga ke sebelah timur Jawa. Yang fokus perhatiannya dan selalu menjadi mimpinya supaya konektivitas itu benar-benar terwujud di bangsa ini. Mulai dari Aceh hingga Papua, baik melalui darat, laut dan bahkan udara. Semua pulau-pulau yang ada di Indonesia ini harus benar-benar terhubung satu dengan yang lain sehingga terjadi sinergitas, perekonomian yang meningkat, adanya kesamarataan dan pada akhirnya terwujud keadilan dan kesejahteraan di tengah-tengah bangsa ini.

Meskipun dampak pembangunan yang sedang gencar-gencarnya dikerjakan dan diupayakan tepat waktu, belum bisa dirasakan dampaknya secara langsung  oleh masyarakat, tapi hal ini menunjukkan bahwa bangsa kita sedang menuju titik perbaikan demi perbaikan. Sehingga bangsa kita bisa didaulat menjadi negara maju yang tidak kalah dengan negara-negara yang ada di Eropa maupun Amerika, serta tidak kalah juga dari negara-negara seperti Singapura, Jepang, Cina dan bahkan India.

Selain program pembangunan, hal-hal atau kebijakan teknis yang bersentuhan langsung dengan masyarakat juga perlu diperhatikan. Mulai dari kebijakan perbaikan pendidikan, dengan Kartu Indonesia Pintar; kebijakan perbaikan masalah kesehatan-menggagas program pembiayaan urungan dari masyarakat, dengan Kartu Indonesia Sehat. Hingga kebijakan pemberian santunan kepada orang-orang yang sedang mengalami musibah, seperti kecelakaan lalu lintas.

Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 15 dan Nomor 16 tahun 2017, bahwa PT Jasa Raharja (Persero) akan menaikkan jumlah santunan kecelakaan hingga 100 persen. Dan kenaikan tesebut berlaku sejak 1 Juni 2017 yang lalu. Dan kenaikan santunan ini, ternyata tidak dibarengi dengan adanya kenaikan iuran wajib (IW) dan sumbangan wajib (SW) oleh Perusahaan Asuransi Badan Usah Milik Negara (BUMN). Hal ini dimuat di berita Tempo (12/5).

Rincian kenaikan santunan kepada korban kecelakaan meninggal dunia dari Rp 25 juta menjadi Rp 50 juta. Adanya biaya perawatan dan pengobatan meningkat dari Rp 10 juta menjadi Rp 20 juta. Penggantian biaya penguburan dari Rp 2 juta  menjadi Rp 4 juta. Kemudian ada kebijakan baru, yakni penggantian biaya pertolongan pertama paling besar Rp 1 juta dan penggantian biaya untuk membawa korban ke fasilitas kesehatan sebesar Rp 500 ribu.

Adanya kebijakan tentang kenaikan besaran santunan dari pemerintah kepada masyarakat, ternyata disertai  juga dengan adanya peningkatan layanan dari petugas Jasa Raharjanya. Para petugas mempermudah kerja dari masyarakat dengan terjun langsung ke tengah-tengah keluarga yang sedang mendapatkan musibah.  Tidak mengenal lelah dan bahkan waktu, dalam kondisi malampun, dan jarak yang lumayan jauh dari pusat perkotaan, yakni ke desa-desa terpelosok sekalipun mereka akan datang menghampiri.

Hal itu sudah kusaksikan sendiri pada peristiwa naas yang sedang menimpa teman sekerja kami. Beliau mengalami kecelakaan di pagi menjelang siang dan akhirnya meninggal di tempat. Kemudian mendapatkan penanganan langsung oleh pihak berwajib dan membawanya ke rumah sakit terdekat. Kemudian aku dan keluarga terdekat mendiang mendatangi polsek setempat untuk memastikan kabar tersebut, dan ternyata benar. Dan petugas kepolisian tersebut sempat berkata bahwa pihak Jasa Raharja akan datang langsung ke tempat keluarga.

Awalnya aku tidak percaya dan pesimis dengan ungkapan pak polisi tersebut. Sebab yang kutahu dari pengalaman-pengalaman dulu, bahwa kita sendirilah yang harus datang ke kantor Jasa Raharja dan melaporkan peristiwa itu. Layanan yang diberikanpun terkesan cuek dan tidak ramah. Prosesnya dipersulit dan sangat berbelit-belit. Dan kalau sudah tiba pada tahap pencairan dana, biasanya banyak potongan sana-sini. Sehingga dana yang diterima keluarga korbanpun jauh berkurang dari standard yang harusnya diterima.

Sebab demikianlah tipikal para petugas yang bekerja di pemerintahan pada umumnya. Mulai dari kantor Kepala Desa, Camat hingga ke Perpajakan, maupun di lembaga kepolisian, selalu melakukan pelayanan yang buruk kepada masyarakat yang ada. Dan ternyata penilaianku salah. Mereka, para petugas Jasa Raharja dengan ramahnya menjelaskan segala sesuatunya kepada kami. Baik itu dokumen-dokumen yang dibutuhkan, hingga surat-surat yang harus dilengkapi untuk bisa mendapatkan dana santunan tersebut.

Segala prosesnya dipermudah dan pelayanan yang diberikan sangat baik, sehingga  aku bisa berkata bahwa pemerintahan sekarang ini, yakni di masa kepemerintahan Bapak Jokowi, sangat...sangat...sangatlah baik sekali. Dan berharap di sisa waktu masa  kepemerintahannya tetap selalu memberikan yang terbaik bagi masyarakat Indonesia ini. Tetaplah membangun bangsa ini, meskipun banyak cibiran, kata-kata yang menyakitkan hati maupun fitnah, bahkan upaya untuk menggulingkan Bapak melalui banyak aksi-aksi yang memakai topeng agama.

Kami ada bersamamu, dan kamipun tetap bekerja dan berkarya untuk membangun bangsa ini. Sebab Bapak memang tidak bisa sendirian dalam membangun bangsa ini. Butuh banyak dukungan dari masyarakat dalam menyukseskan segala visi misi yang sudah Bapak nyatakan dahulu. Dan berharap bisa memimpin bangsa ini di periode yang berikutnya. Semoga.

Penulis adalah pegiat sosial dan staf pengajar di salah satu kampus di Medan.

Selasa, 05 Desember 2017

Menyikapi Tindakan Yang Penting Beda (Cerminan Kepemimpinan Anis-Sandi)


Kampung Akuarium (Sumber : Kompas.com)


Warga Jakarta patut berbangga dengan pilihannya mereka. Dan mereka telah menentukan pemimpin yang akan menentukan seperti apa Jakarta lima tahun kedepan. Dan tentunya nasib Kota Jakarta akan ditentukan oleh setiap kebijakan-kebijakan yang akan dikeluarkan oleh pilihan warga DKI.

Belum habis dua bulan kepemimpinan Bapak Anies –Sandi sudah ada empat pergub yang diubah. Seperti yang dilansir oleh Jawa.pos (5/12), mulai dari Pergub tentang penetapan upah minimum buruh, tentang pakaian dinas, pemanfaatan lapangan Monas hingga Pergub tentang Tim Gubernur Untuk Percepatan Pembangunan (TGUPP).

Dan akan menyusul lagi tentang Larangan Sepeda Motor melintasi jalan protokol DKI Jakarta. Dengan alasan perlunya azas keadilan bagi seluruh pengguna kendaraan untuk bisa melintasi jalan-jalan yang ada di pusat ibukota ini. Pintarnya lagi akan menggunakan teknologi ERP (Electronic Road Pricing) yang bisa berlaku untuk pengguna sepeda motor. Bukan hanya kendaraan mobil yang akan bayar tapi pengendara motor juga akan bayar. Tapi toh ujung-ujungnya, aturan tersebut akan memberatkan pengendara motor dalam pembayarannya dan akan memilih untuk tidak melewati jalan tersebut.

Aktivitas Kampung Akuarium (Sumber : Kompas.com)

Pintar buat kebijakan yang bernada sama dengan adanya pelarangan. Kemudian kebijakan dalam merelokasi beberapa tempat. Mengenai masalah banjir yang terus melanda, Sang Gubernur menggunakan bahasa tidak akan memindahkan mereka, tapi akan menggali lebih dalam lagi sungai-sungainya tanpa melakukan pelebaran lebih dulu. Tapi sepertinya hasilnya akan sama saja, memaksa orang itu untuk berpindah dengan sendirinya, tanpa ada uluran tangan satpol pp dalam penanganannya.

Bahasa komunikasi Gubernur ini sangatlah apik dan teratur. Mencoba mencari bahasa lain dari program-program yang sudah dicetuskan oleh pendahulunya. Biar tampak beda sekaligus baru menurut perkiraan Bapak tercinta ini.

Seperti istilah dalam program kesehatan, yang telah diresmikan oleh Bapak Ahok, yakni program Ketuk Pintu Layani Dengan Hati  (KPLDH). Seperti yang dilansir oleh berita kompas, Bapak Wakil Gubernur,  mau mengubah istilahnya, supaya diganti dengan nama yang lebih mudah diucapkan. Dia menyebutkan beberapa nama yang bisa jadi penggantinya. Hal itu disampaikan ketika memberikan sambutan pada peringatan hari Kesehatan.

"Jadi, nanti yang (program) 'Ketuk Pintu' itu kami ganti aja branding-nya, mungkin 'Tok-tok', atau apa gitu yang gampang. Tok-tok, OK Tok, OK Ocare, gampang gitu," ujar Sandi di Ragunan, Jakarta Selatan, Sabtu (25/11/2017).

Kemudian program rumah susun sebagai solusi untuk pemukiman warga yang akan direlokasi, dicoba untuk memakai istilah tandingannya dengan program rumah lapis. Dimana konsep pembangunan yang akan dikerjakan memang belum matang sekali. Cuma dikatakan bahwa tidak akan sampai melebihi 11 tingkat dan lokasinya berdekatan dengan lokasi yang akan direlokasi. Sehingga tidak menimbulkan banyak konflik bagi warga yang akan direlokasi. Program Rumah lapis ini rencananya akan dibangun di Kampung Akuarium, sebagai pilot project-nya.

Selanjutnya tindakan mengaktifkan kembali pungutan-pungutan yang katanya kerelaan warga akan dimunculkan kembali dilakukan di setiap RW/RW yang ada. Hal itu disampaikan oleh Bapak Sandi, sebagai tanda tanggung jawab warga dalam menjaga kebersihan dan ketertiban lingkungan warga.

Sampai kepada pungutan uang cash oleh juru parkir juga akan dihidupkan kembali. Padahal sudah dibangun sejumlah mesin parkir otomatis disejumlah titik objek wisata ataupun tempat keramaian lainnya, dimana para pengguna kendaraan tidak perlu menggunakan uang cash dalam membayarkan uang parkirnya. Cukup dengan kartu yang sudah terintegrasi dengan sumber pemasukan daerah secara langsung. Sehingga langsung bisa tahu berapa pemasukan dari potensi penggunaan parkir-parkir yang ada di kota Jakarta. Sehingga sekarang mesin-mesin tersebut, kondisinya sekarang diabaikan.

Kemudian satu lagi yang menarik baru-baru ini seperti yang diberitakan oleh kompas.com. Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedanmenerima banyak keluhan dan permintaan saat melakukan kunjungan kerja dengan jajaran RT/RW dan lembaga masyarakat kelurahan (LMK) se-Jakarta Pusat di Gedung Pertemuan Pertamina, Cempaka Putih, Selasa (5/12/2017). Namun, dia tidak menjawab satu per satu keluhan yang disampaikan kepadanya.

"Yang penting bukan jawaban saya sekarang yang bikin orang tepuk tangan, yang penting pelaksanaannya. Jangan, 'Ya kami selesaikan', (kemudian) tepuk tangan, tapi enggak dijalankan," ujar Anies.

Sebab ketika melihat Ahok dalam setiap jawaban-jawaban yang diberikan, dipastikan akan membuat kagum orang yang mendengarkan. Dan akan mengundang tepuk tangan. Sebab jawaban yang diberikan sederhana dan aplikatif. Bisa diukur dan telah dikerjakan. Bukan belum dikerjakan dahulu.

Dan hal itu tercermin dengan semakin sepinya orang-orang yang mau datang ke balai kota. Pada masa Ahok ada program wisata Balai Kota. Warga bisa datang bebas berkunjung ke balai kota, baik itu untuk bertemu langsung dengan Bapak Ahok untuk menceritakan masalah dan keluhan mereka, maupun hanya sekedar jalan-jalan dan melakukan swafoto bersama dengan keluarga. Hal itu tak tampak lagi kini. Sebab Pak Anies sudah memerintahkan jajaran di tingkat Camat untuk bisa menampung keluhan dari warga. Tanpa harus datang ke balai kota.

Dua kepribadian kepemimpinan yang beda. Aku sih bersyukur bisa belajar dari gaya dan pendekatan-pendekatan yang mereka tunjukkan. Mulai dari menunjukkan ide dan gagasan, pengimplementasian dari ide tersebut, maupun pendekatan-pendekatan yang dilakukan, dan banyak hal lainnya. Yang tentu masing-masing kita bisa membedakan mana yang betul-betul bagus dan mana yang sekedar omongan saja. Mana program yang betul-betul bisa direalisasikan dan mana yang masih butuh banyak pandangan dari berbagai sudut.

Sebab aku bukan warga Jakarta, tidak elok untuk menjelek-jelekkan kepemimpinan yang sedang berlangsung sekarang. Mari melihat bagaimana nantinya setahun dua tahun hingga masa jabatan mereka berakhir. Apakah akan bisa ada perubahan yang semakin lebih baik. Akankah ada banyak penghargaan-penghargaan yang akan diterima seperti yang sudah diterima oleh Bapak Ahok pendahulunya. Akankah ada warisan sekelas Jalan Layang Semanggi yang sudah dibangun oleh Ahok, atau hanya meninggalkan banyak teori dan gagasan semata. Yang tentunya bisa dipakai sebagai acuan tinjauan pustaka ketika sedang menyusun skripsi ataupun tesis.

Atau akankah meniru jejak rekam Jokowi, di acara pemilihan Presiden nanti di tahun 2019. Dengan meninggalkan tampuk kekuasaan di DKI dan memilih berkarir di tingkat nasional karena adanya sejumlah tawaran yang menarik dan hitung-hitungan yang tampaknya akan bisa memenangkan pilpres tersebut. Menggunakan berbagai cara untuk bisa memenangkan meskipun caranya melanggar aturan-aturan yang ada. Memanipulasi yang namanya agama, dan memojokkan secara bertahap dan mematikan lawan politiknya dengan isu-isu kebohongan, dan mematikan karakter lawan. Who knows?


Minggu, 03 Desember 2017

Banjir Melanda Isyarat Pemimpin Yang Gagal Atau Masyarakat?


 
Kemarin banjir melanda kota Tebing Tinggi dan daerah sekitarnya, bahkan sudah mau mencapai ketinggian satu meter. Akibat hujan yang deras terus menerus sehingga arus sungai naik, parit-parit atau gorong-gorong yang sudah lama stagnan, tidak mampu lagi menahan curahan hujan tersebut.

Akibat dari banjir ini juga mengharuskanku untuk menunggu lama mama mertua yang mau datang berkunjung ke kotaku. Beliau mengatakan bahwa mereka lama berhenti di Tebing Tinggi. Aku tidak tahu awal biang keterlembatannya. Ternyata setelah melihat foto rekan-rekan yang ada di media sosial, baru ku tahu bahwa banjirlah penyebabnya.

Banyak dampak yang ditimbulkan dari peristiwa banjir ini. Mulai dari kerugian waktu yang harus tersita lama, baik untuk jaga-jaga, apakah airnya akan semakin naik lagi. Ataupun setelah banjir mulai surut dipastikan keluarga demi keluarga akan melakukan pembersihan sana-sini. Kerugian tenaga dan banyak hal lainnya juga yang akan dikorbankan. Mulai dari fisik dan jiwapun turut disita kestabilannya.

Jika tidak siap dengan hal itu, maka penyakitpun mulai berdatangan. Penyakit kulit, gatal-gatal dan lainnyapun akan mulai menghampiri setiap warga yang ada.


Kondisi yang sedang terjadi di Kota Tebing Tinggi, ternyata sudah merebak hampir merata di seluruh kota-kota besar yang ada di Indonesia. Masih ingat kejadian yang di Bandung setahun yang lalu.   Kucoba juga menuliskan tentang hal itu dan dimuat di Kompasiana. Akibat dari banjir bandang yang datang, mobil-mobil pun bisa diangkutnya sampai ke depan pagar maupun di rumah warga tersebut. Melalui tulisan itu mencoba menyindir seorang kepala daerah, yang katanya sukses dalam membangun kota Bandung, Ridwan Kamil. Yang sekarang sosoknya ingin mengajukan diri menjadi seorang calon gubernur Jawa Barat.

Masalah banjir sebenarnya adalah masalah klasik, yang memang dari sononya dulu peristiwa ini juga terjadi. Bahkan peristiwa itu terjadi di zaman para nabi dulu, yakni zaman nabi Nuh. Bahkan dia disuruh untuk mempersiapkan diri dalam menghadapi bencana yang maha dasyat tersebut. Membuat sebuah bahtera yang bisa menampung banyak binatang supaya tidak binasa. Karena ketaatannya kepada Tuhannya, maka manusia dan binatang bisa diselamatkan dan tidak mengalami peristiwa yang  mengerikan tersebut.

Masyarakat juga tidak terlepas berkontribusi aktif sehingga mengakibatkan banjir melanda. Akibat dari gaya hidup yang membuang sampah sembarangan. Tidak menjaga lingkungannya seefektif mungkin, dan terkesan melakukan pembiaran-pembiaran. Belum memiliki kesadaran yang datangnya dari hati. Melakukan pembalakan hutan secara massif, penebangan pohon-pohon tanpa melakukan proses reboisasi. Dan banyak hal lainnya, akibat dari eksploitasi lingkungan atau sumber daya alam secara berlebihan.

Tapi terlepas dari semuanya itu, seorang pemimpin daerah atau kepala daerah juga punya peran yang sangat signifikan dalam menangani masalah tahunan daerahnya, yakni kebanjiran. Pastinya dimasa-masa kepemimpinannya dari tahun ke tahun, apakah akan tetap setia menonton kebanjiran yang melanda daerahnya. Atau bergerak melakukan perbaikan-perbaikan saluran air yang ada, pembersihan-pembersihan sungai atau parit-parit maupun ugorong-gorong  di sisi bahu jalan.

Tidak mengejar sarana pembangunan seperti pusat-pusat perbelanjaan yang bisa berdiri megah, dengan mengorbankan banyak titik-titik lokasi daerah serapan air. Tidak melakukan penataan dan kajian yang mendalam ketika adanya tawaran kerja sama yang menggiurkan yang dilakukan pengembang untuk mendirikan gedung-gedung bertingkat. Hanya untuk menerima keuntungan atau pemasukan yang sementara saja. Baik pemasukan yang bersifat legal maupun yang bersifat illegal.  Apalagi pemasukan yang tujuannya hanya untuk memperkaya diri sendiri.

Seorang pemimpin visioner sekaligus yang memiliki karakter seorang pelayan, dipastikan akan sanggup mengatasi segala permasalahan yang ada di daerahnya. Termasuk masalah banjir tersebut. Bukan hanya mengatasi, tapi mampu melihat ke depannya kota ini atau kota yang dipimpinnya, lima tahun lagi akan menjadi seperti apa.

Bukan hanya sibuk  mencari popularitas, membuat jargon-jargon yang gampang diingat, atau visi misi yang tampaknya mantap tapi miskin implementasi. Sering menyalahkan pemimpin masa lalu, atau menyalahkan orang lain, tanpa berpikir bahwa dialah yang sekarang memegang penuh kendali.

Apalagi ketika memiliki seorang pemimpin yang kesibukannya di tahun pertama dan kedua adalah untuk mencari pengembalian modal yang sudah dikeluarkannya sewaktu kampanye dulu. Kemudian di masa tahun ketiga dan keempat dan bahkan di tahun kelimanya melakukan pengumpulan modal untuk kampanye di periode berikutnya. Tanpa lupa melakukan pencitraan yang luar biasa di seluruh wilayah kekuasaannya. Menggunakan SARA dan Agama sebagai andalannya untuk bisa menaklukkan lawan-lawan politiknya. Yang pada ujung-ujungnya, mengakibatkan banyaknya keterlupaan dalam membangun wilayahnya. Pemimpin dengan kapasitas seperti itu, sangatlah patut untuk tidak dipilih kembali oleh masyarakat yang ada pada masa-masa pemilihan ini.

Ketika banjir sudah terjadi, mari para pemimpin daerah segera merenung dan bertindak untuk mencegah supaya banjir ini tidak terulang kembali di tahun berikutnya. Berusaha menciptakan lingkungan yang bersih dan nyaman serta ditumbuhin oleh banyaknya tanaman-tanaman hijau sehingga adanya kesegaran di seluruh wilayah kekuasaanya. Tidak mengorbankan daerah serapan terbuka hanya untuk mengejar keuntungan yang sesaat dengan membangun gedung-gedung bertingkat. Dan banyak hal kreatif lainnya yang mungkin bisa dikerjakan.

Sebab ketika banjir masih terus terjadi di setiap tahunnya dan bahkan dari tahun-ke tahun, dimana ketinggian airnya selalu menaik, maka bisa dipastikan bahwa letak kesalahannya ada pada pemimpin daerah tersebut. Mari supaya tidak disalahkan dan dicap menjadi pemimpin yang gagal, segera melakukan perbaikan ataupun pembersihan tanpa pernah melakukan pengabaian sedikitpun.

Kemudian rajin-rajin turun ke bawah melihat fakta kenyataan yang sebenarnya terjadi. Jangan hanya percaya saja terhadap laporan-laporan anak buah tanpa pernah melakukan cross check kondisi di lapangannya bagaimana. Sebab laporan-laporan tersebut datanya bisa dipermak supaya nampaknya berhasil tapi tidak berhasil.

Penulis adalah pengajar dan sekaligus pemerhati masalah sosial.

4 Aspek Ancaman di Hidup Kita dan Covid 19

(Hizkia Bagian satu- Yesaya 36) Siapa yang tidak pernah mendengarkan kata-kata ancaman dalam tiap kehidupan kita? Bisa dipastika...