Rabu, 22 November 2017

Rasa Kopi di Mata Petani, Pengusaha dan Penikmat





dokumen pribadi
Aku adalah penikmat kopi. Baru-baru ini memang mulai menyukai yang namanya kopi itu. Semasa kecil, jarang bahkan tidak menyukai kopi. Apalagi jika kopi itu adalah kopi pahit yang minus gula sama sekali. Pernah dulu waktu masih kanak-kanak, untuk pertama kali diriku meminum kopi. Alhasil diriku satu malam itu tidak bisa tidur dan akhirnya begadang. Karena jantungku degupannya sangat  kencang.

Awalnya aku tidak tahu apa makna jantungku yang terus berdebar-debar. Kupikir diriku sedang mengalami ketakutan terhadap suatu hal. Dan hal itu adalah hantu. Suatu hal yang paling sering ditakuti oleh anak-anak seusiaku. Sebab ketika masih kecil, acara televisi yang dulu hanya menayangkan baru satu siaran yaitu TVRI, sering memutar film-film horor dimalamnya. Lupa judulnya apa, tapi seingatku, film tersebut berkisah tentang boneka bayi, yang kemudian bisa hidup dan membuat teror bagi keluarga yang menyimpan boneka tersebut.

Dulu dalam anggapanku, bahwa orang-orang yang minum kopi adalah orang-orang yang tua-tua bangat. Sebab yang menyukai dan meminumnya ketika sedang ada pesta di lingkunganku, cuma mereka yang mengkonsumsinya. Anak-anak muda dan bahkan anak-anak seusiaku sangat jarang meminum yang namanya kopi tersebut. Dan ketika ada anak muda  yang minum kopi, aku langsung berkata dalam hatiku, “ah orang ini seleranya tua bangat, apa dia gak tahu bahwa itu adalah minuman ompung-ompung.”

Sekarang pemahaman itu berubah seratus persen. Sekarang berubah status, menjadi penikmat kopi  dan bisa dikatakan pecinta kopi. Dalam satu hari bisa menghabiskan dua gelas kopi di pagi dan sore harinya. Awalnya harus pakai gula ketika mengkonsumsinya dan sekarang sama sekali tidak pakai. Mencoba untuk hidup sehat dengan mengurangi konsumsi gula.

Menjadi penikmat kopi itu ternyata tidak datang dengan sendirinya. Sebab ada orang yang mempengaruhiku untuk menjadi sama dengan dia. Dan menurutku kebiasaan ini, bisa menular bagi banyak orang. Sebab, memang orang-orang yang mengkonsumsi kopi, daya vitalitasnya bisa kuat dan tampak segar dalam kesehariannya.

Dan ketika kebiasaan ini bisa menular bagi banyak orang, harapannya bisa semakin banyak orang yang tergerak untuk memulai kebiasaan baik ini. Ketika sudah banyak orang yang mencintai kopi dan menjadi penikmat kopi, hal ini justru menjadi pasar yang bagus bagi para pengusaha kopi.

Menjadi pengusaha kopi apalagi sekaligus menjadi barista-nya, akan mendatangkan banyak keuntungan bagi dirinya. Bukan hanya sekedar menyuguhkan kopi yang berkualitas bagi para penikmat kopi, juga mendatangkan pemasukan dari sisi ekonomis yang lumayan menggiurkan. Sebab pasar di Indonesia ini begitu luas, yakni orang-orang yang mau dan mulai mencintai kopi dalam hidupnya sehari-hari. Seperti diriku ini.

Tetapi meskipun hal ini mendatangkan keuntungan bagi para pengusaha, tak jarang, para petani kopi yang hanya mendapatkan lelah dan susahnya saja. Para petani kopi jarang mendapatkan hasil yang maksimal dari panennya.

Bagaimana komoditas kopi, bukan hanya menguntungkan para pengusaha kopi, tapi para petani kopi juga bisa. Bersyukur pemerintah kita, sudah mengembangkan kopi dengan semaksimal mungkin. Melalui Bekraf (Badan Ekonomi Kreatif) sudah mulai membidik, membina dan bahkan melatih para penggiat kopi yang ada di nusantara ini. Diharapkan kopi-kopi kita bukan hanya sekedar di ekspor mentahnya, atau bijiannya saja, tetapi hasil akhir ataupun produk turunan dari kopi ini berharap bisa menjadi cita rasa dunia.

Bapak Triawan Munaf, kepala Bekraf, seperti yang dilansir oleh Metro TV pada Janji Jokowi-JK, (18/10), juga menegaskan akan melakukan sertifikasi bagi para penggiat ekonomi kreatif lainnya. Terutama dalam bidang perkopian, seperti para barista, pedagang dan para petani kopi untuk segera mendapatkan legalitas tersebut, sebagai upaya untuk bisa memajukan bisnis kopi yang ada di Indonesia ini.

Berikut link Videonya

Hal ini sudah mulai menampakkan hasilnya, sudah terbentuknya jalinan kerjasama diantara para petani, pedagang, barista ataupun pengusaha kopi. Seperti RDS Kopi, yang merupakan kepanjangan dari Raptaruli Do Sude yang mengartikan semuanya diberkahi, simpulan dari keadilan sosial bagi seluruh rakyat. Dan mereka juga mengembangkan suatu jargon penting lainnya. Sebagai upaya untuk memperkenalkan produksi dan usaha mereka ditengah-tengah masyarakat. RDS Kopi-Rayakan Dengan Seruput Kopi.

RDS Kopi berada di Jalan Ngumban Surbakti, Gang Bahagia No. 136, Medan Sedulur. Awal mulanya berdirinya RDS Kopi, karena melihat para petani kopi tidak mendapatkan imbalan yang sepantasnya dari usaha tani mereka. RDS Kopi lahir dari petani kopi untuk kesejahteraan petani kopi. Bekerja sama dengan petani dengan memberikan penyuluhan mulai dari menanam, unsur hara, pengendalian hama, memetik, menjemur, sampai ke produk jadinya yakni segelas kopi yang mantap.

Bekraf juga sudah melakukan banyak pelatihan-pelatihan kopi di hampir keseluruh wilayah yang ada di Indonesia, terutama daerah yang potensial bisa menghasilkan kopi yang berkualitas. Seperti yang akan diadakan dalam waktu dekat ini di Sipinsur Humbahas. Dimana daerah ini setelah mengecek google ternyata merupakan daerah objek wisata, yang rencananya akan dibangun Sekolah Kopi di tahun 2018 nanti. Berharap sih bisa ikut pelatihannya, supaya bisa mengalami dan memahami lebih lagi tentang kopi dan segala peluang yang mungkin bisa dihasilkan.

Dan terakhir, mungkin aku tidak menjadi petani kopi, sebab memang tidak punya lahannya. Tapi berharap bukan hanya menjadi penikmat kopi tapi bisa menjadi penggiat kopi melalui usaha-usaha kreatif lainnya kedepannya yang mungkin bisa diusahakan. Berharap juga ekonomi Indonesia semakin meningkat, terutama kaum petani yang selama ini sepertinya telah lama dilupakan oleh pemerintahnya.

Penulis adalah dosen di STAK Terpadu PESAT Cabang Sibolangit, dan Penggiat Sosial

Sabtu, 18 November 2017

Gaya Pacaran "Ala Bang Parlindungan Purba"- Perwakilan DPD Sumut




Meskipun Bang Parlindungan cuma sebentar dalam mengisi sesi di acara Seminar Nasional Kepemudaan, ada hal-hal yang menarik untuk bisa kita perhatikan. Keikutan beliau dalam mengisi sesi pun bisa dibilang dadakan. Meskipun dadakan tapi ada rasa syukur yang mendalam. Ternyata beliau bukan kelas pejabat yang sulit-sulit amat untuk ditemui. Disela-sela jadwal yang memang padat, disebabkan masih aktif nya beliau sebagai wakil rakyat dari Sumatera Utara di DPD-Dewan Perwakilan Daerah, beliau masih meluangkan waktunya untuk bisa berbagi dengan para pemuda/i yang ada di Medan ini.

Diwaktu yang singkat dan pemaparan yang singkat, ada pandangan yang mengusik hatiku. Tentang Gaya pacaran Ala Bang Parlindungan. Ide itu mungkin terlintas ketika memang berada di tengah-tengah para pemuda yang sedang asik mendengarkan segala curahan dari Bang Parlindungan Purba. Aku sendiri juga kadang berimprovisasi ketika sedang berbicara didepan banyak orang. Sering banyak muncul ide-ide yang mungkin nyeleneh tapi pas di hati. “Kenapa gak dicoba kalau yang ini yah..dan yang itu?”

Banyak pemaparan-pemaparan yang seharusnya disampaikan adalah topik A..bisa-bisa berubah menjadi topik B. Tapi topik B itupun sendiri tidaklah jauh beda dengan konteks pendengar saat itu. Sebab mungkin masih ada pada ranahnya audiens.

Sebelum masuk ke poin saya, perlu untuk bisa tahu tentang awal pembicaraannya. Sehingga kita bisa mengerti konteks dari keseluruhan apa yang disampaikannya. Bagaimana rindunya, bagaimana gregetnya untuk segera membangun bangsa ini, terutama Provinsi Sumatera Utara ini, yang sebentar lagi juga akan menggelar “Pesta Rutin lima tahunan sekali” . Dan hal itu patut dicontoh oleh generasi-generasi milenial sekarang ini.

pemateri dan panitia acara

Awal pembicaraan Bang Parlindungan Purba, mencoba menjelaskan fungsi dan kerja dari pada Anggota Dewan Perwakilan Daerah itu ngapain. Yakni mewakili provinsi daerah pemilihannya, untuk bisa menyuarakan suara rakyat secara langsung, tanpa menggunakan embel-embel partai. Tiap-tiap provinsi dipastikan akan memiliki anggota DPD sebanyak empat orang. Meskipun anggota DPR-nya hanya dua orang-contoh kasus di Babel, dikarenakan ada pembagian jumlah kursi di Senayan dengan jumlah penduduk yang diwakilinya, jumlah anggota DPD yang mewakili daerah tersebut tetap empat orang.

Berdasarkan pemaparan yang beliau sampaikan di acara seminar Pemuda tersebut, bahwa dampak DPD secara langsung, bagi kehidupan berbangsa dan bernegara adalah semakin berkurangnya, daerah-daerah wilayah di Indonesia yang mengajukan diri untuk berpisah dari NKRI kita. Meskipun hal ini tentulah masih perlu research  yang lebih lanjut lagi, untuk bisa membuktikan pernyataan tersebut, benar atau salah.

Kemudian beliau juga menyampaikan tentang kondisi tanah air kita dimata dunia. Bahwa bangsa kita ini, ibarat seorang anak gadis, yang oleh negara-negara lain, coba untuk merebutnya. Dengan cara mengirimkan perpecahan-perpecahan melalui politik adu domba. Persis seperti yang pernah dilakukan oleh Belanda pada zaman dahulu.

Menjadi primadona, karena bangsa-bangsa mengakui, bahwa bangsa kita memiliki tiga sumber daya yang oleh negara lain belum atau sulit untuk menemukannya. Pertama, adalah energi, kedua, makanan (food) dan yang ketiga adalah air. Meskipun ketiga hal ini, potensi kepemilikannya sudah ada, tapi karena pemaksimalannya kurang atau bahkan tidak ada, sehingga kita masih impor. Hal ini disampaikan oleh Presiden Jokowi saat memberikan pengarahan kepada peserta Program Pendidikan Regular (PPRA) Angkatan 54 dan 55 Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas), di Istana Negara, Jakarta, Rabu (2/11) tahun lalu, 2016. Seperti yang dilansir oleh beritasatu.com

Kemudian ke point utama saya, gaya pacaran ala Bang Parlindungan Purba. Beliau mencoba meyakinkan para pendengar saat itu, untuk segera mengubah gaya pacarannya. Mulai dari sebelum jadian, hingga jadian, dalam gaya berpacarnya hendaknya harus berdiskusi atau membahas tentang empat pilar kebangsaan. Mulai dari Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara tahun 1945, NKRI, hingga Bhinneka Tunggal Ika. Kalau tidak membahas tentang hal-hal itu, hubungannya jangan dilanjutkan dulu.

Beliau mencontohkan, bagaimana cara ngomongnya. “Kamu tahu gak Undang-Undang yang mengatur tentang kekayaan alam itu apa. Kalau tahu hubungan kita dilanjutkan, kalau tidak..cukup sudah...sampai disini saja”

Hal ini coba ditekankan oleh Beliau, sebagai upaya penghayatan dan pelaksanaan kecintaan berbangsa dan bernegara, seharusnya sudah bisa dilakoni oleh para muda-mudi. Dan proses pengenalan dan wujud kecintaan kita tersebut kepada tanah air, ditandai dengan mengetahui segala hal tentang seluk-beluk berbangsa dan bertanah air tersebut.

Ide ini masih dianggap lucu oleh kami para pendengarnya saat itu. Sebab bagaimana mungkin ranah pribadi dimasuki oleh ranah atau lingkup berkebangsaan. Hal-hal yang sehari-hari atau sederhana harus diributi dengan hal-hal yang rumit dan ruwetnya soal kebangsaan ini.

Tapi ide ini sebenarnya gak salah untuk dilakukan atau ditindaklanjuti. Sebab sekarang ini sudah semakin cueknya para muda-mudi untuk bisa tahu tentang bangsanya. Bahkan sampai mudah dicuci otaknya oleh paham-paham radikalisme dan kekerasan. Mencoba mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari, terutama melalui hubungan berpacaran-persahabatan, ataupun juga mungkin bisa diaplikasikan dalam hubungan berkeluarga. Tapi dengan satu catatan, kalau tidak tahu, bukan berarti terjadi perceraian atau perpisahan.

Rabu, 15 November 2017

Keajaiban Masih Ada




Menonton sebuah film akan sangat berguna ketika kita bisa menilai dan mengambil makna positif dari sebuah film tersebut. Sebuah film yang sederhana, tapi menunjukkan sesuatu yang tidak biasa. Apalagi ketika film itu berdasarkan kisah nyata atau real story. Dimana tidak perlu ada settingan buatan dari penulis ataupun dari sutradaranya. Cukup mendengarkan dan melihat langsung kehidupan dari si tokoh nyata tersebut.

Film “The Miracles from Heaven”, sebuah film yang sangat menguatkan iman kepercayaanku kepada Sang Pemberi Kehidupan ini. Annabel Beam, seorang anak yang menderita Pseudo Obstruction Motility Disorder, yakni penyakit dimana ususnya tidak terletak pada tempat yang semestinya, dan juga usus bawahnya tidak bisa merespon makanan yang dimakannya. Sehingga perutnya semakin membesar. 

Dia mulai merasakan penyakit itu sejak berusia kurang lebih empat tahun. Dan keajaiban itupun akhirnya terjadi tiga tahun kemudian. Dia sembuh ketika dia mengalami sebuah kecelakaan sewaktu bermain bersama dengan kakaknya. Memanjat sebuah pohon tua, dan karena ranting pohon itu sudah tidak kuat menahan beban mereka berdua, si kakak menyarankan untuk segera melompat ke lubang pohon itu dan akhirnya masuk ke dalamnya.

Tim penyelamat tidak berani memotong pohonnya, sebab ditakutkan akan semakin memperparah keadaan si Annabell yang sedang berada didalamnya. Jadi proses penyelamatannya berlangsung lama. Mengandalkan seutas tali dengan tenaga penyelamat yang berusaha masuk kedalam lubang pohon yang sempit itu.

Dia bersaksi, bahwa ketika dia berada didasar dari pohon tersebut, ada suara yang mengatakan bahwa dia akan sembuh. Dia mengalami suatu peristiwa yang luar biasa, bertemu dengan Sang Pemiilik Hidup, dan dikatakan bahwa waktunya belum tiba.

Annabell dan dr Nurko

Orang tuanya, awalnya tidak percaya akan kesembuhannya dan memastikan ke dokter spesialis anak, yakni dr. Samuel Nurko, MD, MPH. Dan akhirnya secara medis, dokter itu menyatakan bahwa ia telah sembuh total.

Hikmat dari kisah ini.

Orang tua mana yang tidak merasa sedih dan susah, ketika melihat kondisi anaknya, sedang mengalami suatu penyakit tertentu. Jangankan penyakit yang parah, ketika luka sedikit sajapun akibat tusukan benda tajam, dipastikan para orang tua akan merasakan panik dan mencoba untuk segera mengobatinya.

Teringat akan hal itu juga, baru seminggu lalu, kami mengalami sebuah musibah juga. Ketika mertuaku datang dari kampung untuk mengikuti acara di daerah tempat kami tinggal. Jadi kami berusaha untuk memberikan petunjuk jalan dan tempat yang asik di area tujuan acara mereka. Aku dan istriku bersama dengan kedua anakku pergi menemani mereka dengan sepeda motor. Mereka juga naik sepeda motor.

Ketika sudah mengantarkan mereka, pada perjalanan pulang, tiba-tiba kain panjang yang biasanya digunakan untuk menggendong anakku, terlilit oleh roda motorku. Dan akhirnya, anakku yang paling kecil terlempar dijalan, sempat berguling dan akhirnya terduduk.

Sungguh suatu keajaiban juga, ketika itu, mobil di belakang kami, tidak berjalan kencang, dan langsung membuat palang melintang untuk menghambat jalan mobil lain yang dibelakangnya. Padahal jalan itu tepat pada posisi tekungan. Sehingga sulit bagi pengendara lain untuk melihat apa yang sedang terjadi didepannya.

Kami bersyukur, ternyata mereka, pemilik mobil yang melintang itu, menjadi penolong kami, menghindarkan kami dari dampak terburuk dari kecelakaan tersebut. Menawarkan bantuan bagi kami untuk segera menghantarkan kedua anakku dan istriku pergi ke puskesmas terdekat.

Bersyukurnya lagi, luka yang diderita anakku, tidak begitu parah. Hanya lebam dan luka di kaki kanannya, juga sedikit lecet dikepalanya. Akhirnya lukanya dibersihkan dan diberikan obat oleh dokter jaga saat itu.

Aku dan Istriku sangat panik ketika kejadian itu. Tapi Tuhan akhirnya segera memberikan pemulihan demi pemulihan bagi anakku. Dan sekarang kondisinya, dia kembali lincah berjalan seperti biasanya. Tidak ada luka dalam yang dialaminya. Tuhan memberikan pemulihan dan kesembuhan yang luar biasa bagi anak kami ini.  

Padahal beberapa minggu sebelum peristiwa itu terjadi, ada anak sekolahan, akhirnya meninggal di jalan. Bukan karena tabrakan, tapi karena terjatuh dari kereta yang dibawanya, dan kepalanya membentur aspal duluan dan mengakibatkan dia meninggal.

Dengan peristiwa ini juga akhirnya menolong kami, untuk semakin bersyukur kepada-Nya, karena perlindungan-Nya adalah sempurna. Kemudian supaya kami bisa lebih peka lagi sebagai orang tua. Terutama peka terhadap suara Tuhan, yang mungkin diutarakan-Nya lewat hal-hal yang sedang terjadi disekeliling kita.

Kembali kepada kisah Annabel. Perjuangan orang tuanya, bukan terbilang mudah. Dimasa-masa pengobatannya, mereka melakukan banyak pengorbanan. Mulai dari rumah sakit terbaik yang harus dituju, sangat jauh dari daerahnya, berkisar 30 jam an kalau naik kendaraan darat. Sekali pulang pergi naik pesawat harus menghabiskan uang ribuan dollar. Dan dalam enam minggu sekali, harus kembali lagi diperiksa oleh dokternya. Menghabiskan biaya yang tidak bisa dibilang murah. Belum lagi biaya rumah sakit dan obat-obatan yang harus dibeli.

Dan hal itu dialami sampai kurang lebih tiga tahun. Mental, iman dan daya tahan orang tuanya betul-betul diuji. Sampai akhirnya tiba pada suatu titik, dimana tidak bisa lagi berbuat apa-apa, dan hanya bisa percaya saja. Dan kesembuhan itupun terjadi di suatu peristiwa yang tidak bisa disangka-sangka.

Dan bagi para orang tua  lain, yang mungkin sedang mengalami suatu masalah penyakit atau penderitaan pada anaknya, ataupun yang mungkin berada di rumah sakit sekarang ini, percayalah...bahwa keajaiban itu masih ada. 
 

Sabtu, 11 November 2017

Proses Digitalisasi dan Penyelesaian Masalah Dunia Pendidikan Kita.


Masalah dunia pendidikan di bangsa ini, sekarang masih cukup pelik untuk bisa dituntaskan satu per satu. Dimulai dari tidak meratanya  ketersediaan fasilitas sekolah yang bisa dijangkau oleh anak-anak Indonesia hingga persebaran guru-guru di seluruh wilayah Indonesia. Boleh dikatakan masih sangat timpang. Ketimpangan itu bisa dilihat, dari lebih banyaknya para guru yang lebih memilih berkarir di perkotaan, tempat yang nyaman, dan bukan di pedesaan, atau daerah terpencil yang pengaksesannya pun mungkin sangat sulit.

Oleh karena itu, pemerintah, berusaha untuk bisa menyelesaikan masalah ketiadaan guru di daerah-daerah pedalaman, dengan melakukan banyak program kebijakan. Mulai dari merekrut guru-guru secara langsung dengan iming-iming memberikan status PNS kepadanya, hingga melibatkan dunia kampus keguruan, dengan membuat program semacam Indonesia Mengajar yakni SM3T. Meskipun limitasinya keberadaan para guru nantinya di daerah tersebut sangat singkat yakni hanya satu tahun saja.

Bukan hanya pemerintah, pihak swasta-pun, seperti yayasan-yayasan yang ada ikut bersumbangsih untuk bisa mengentaskan masalah pendidikan di tanah air ini.
Masalah yang lain juga muncul, yakni pada tataran teknis ataupun proses pendidikan yang sedang dikerjakan atau diberlakukan dalam dunia pendidikan kita. Seperti adanya perubahan-perubahan kurikulum, pengimplementasian kurikulum hingga ke daerah terpelosok, maupun kemampuan guru dalam melaksanakan kurikulum-kurikulum tersebut.

Digitalisasi dunia pendidikan kita.

Kata digital itu sendiri menurut KBBI secara online, adalah berhubungan dengan angka-angka untuk sistem perhitungan tertentu; berhubungan dengan penomoran. Sedangkan kata digitalisasi proses pemberian atau pemakaian sistem digital. Jadi digitalisasi dunia pendidikan kita adalah suatu proses pemakaian sistem digital dalam penyampaian materi-materi ajarnya.

Melihat perkembangan penggunaan dunia internet juga semakin massif di bangsa ini. Berdasarkan survei yang dilakukan disepanjang tahun 2016 oleh Asosiasi  Penyeleggara Internet Indonesia (APJII) mengungkap bahwa lebih dari setengah penduduk Indonesia kini telah terhubung ke internet. Diperkirakan penduduk Indonesia yang sebanyak 256,2 juta orang itu, ada sebanyak 132,7 juta orang yang menjadi pengguna aktif internet tersebut. Seperti yang dilansir oleh Kompas pada rubric tekno, pada tanggal 24 Oktober 2016 lalu.

Percepatan akses kemudahan pendidikan melalui digital, diharapkan akan bisa menyelesaikan masalah ketidakmerataan pendidikan di bangsa ini. Sebab akses masyarakat Indonesia yang besar dan hampir lebih dari lima puluh persen adalah pengguna aktif dari media internet, merupakan modal utama dalam penyelesaian masalah pendidikan tersebut. Itu artinya para pengguna tersebut tersebar hampir di seluruh wilayah Indonesia.

Berharap bukan hanya bidang e-commerce saja yang berhasil memanfaatkan potensi luar biasa dari pengguna aktif internet. Melainkan bidang-bidang lain juga untuk bisa lebih memanfaatkan hal ini, terutama dalam dunia pendidikan.

Menurut CEO Ruangguru, Adama Belva Devara, ketika punya kesempatan bertemu dengan Bapak Jokowi, pada hari Peringatan Sumpah Pemuda (28/10) di Istana Merdeka. Dia menyatakan bahwa Indonesia membutuhkan 128 tahun untuk bisa mengejar ketertinggalan pendidikan kita dari Negara-negara maju. Dan untuk bisa mengejar ketertinggalan itu, teknologilah menjadi jawabannya.

Dalam mengejar ketertinggalan itu, dengan pemanfaatan teknologi, beliau sudah mengembangkan suatu aplikasi yang bernama ‘Ruang Belajar’. Dimana para siswa di seluruh Indonesia bisa mengakses materi pelajaran dengan menonton video ataupun animasi pembelajaran, dan materi-materi ajar lainnya secara gratis. Yang semuanya itu dibawah naungan lembaga “Ruang Guru”.  Dan menurut pengakuan beliau, bahwa siswa yang sudah bergabung disana berkisar empat juta anak dan 150.000 orang guru.

Bersyukur aku bisa dilibatkan untuk bisa menjadi salah satu guru didialamnya.  Ini menjadi pengalaman pertamaku, mengajar dengan sistem online dan real time. Ada diskusi antara guru dengan siswanya secara langsung. Kebetulan yang kutangani adalah grup peseta Paket C. Dimana orang-orang yang ada disana adalah mereka-mereka yang belum lulus ujian nasional di tingkat SMA dan sedang bergiat untuk bisa lulus uji test nasional tersebut.

Grup yang kutangani dengan menggungakan faslitas Whatsapp, berkisar 15-20 orang saja. Supaya bisa maksimal dalam penanganannya ataupun sistem pembelajarannya. Bersama dengan seorang fasilitator, dan mungkin pemerhati langsung dari ruang guru itu sendiri.

Ketika adanya kesempatan baik ini, akupun berkesempatan untuk bisa belajar lagi tentang materi-materi yang akan disampaikan. Meskipun pertemuannya hanya sekali seminggu dengan durasi waktu dua jam selama pembelajarannya, ternyata butuh waktu lagi bagi diriku untuk kembali membahas soal-soal UN dari tahun ke tahun. Sebab dalam keseharianku, untuk hal-hal ini belum atau jarang kulakukan-meng-upgrade diri sendiri dalam berbahasa inggris, meskipun aku adalah jebolan jurusan ini.

Sebab karena ini masih perdana, aku belum bisa melihat signifikan secara langsung hasilnya. Baik itu pemahaman mereka tentang materi-materi yang diajarkan secara langsung. Dan akhirnya, itu semuanya terbayar ketika mereka bisa lulus ujian nasional paket C.

Tapi ketika aku bisa mengevaluasi, ternyata dalam satu grup tersebut, masih banyak yang belum aktif berpartisipasi dalam proses pembelajaran yang tengah berlangsung. Mereka cenderung untuk memilih menjadi silent reader. Tapi materi-materi yang kusampaikan dipastikan akan tetap berada disitu dan menjadi riwayat pembelajaran kami tentunya. Ketika ada waktu bisa dilihat dan ketika ada pertanyaan, bisa ditanyakan, meskipun itu bukan pada jadwalnya.

contoh ilustrasi pembelajaran (Ruangguru.com)

Dan mungkin masih banyak aplikasi-aplikasi lainnya, yang mungkin sudah tersebar dan tentunya bisa dimanfaatkan oleh para anak didik kita. Yang semuanya aplikasi tersebut bisa ditemukan dan digunakan dengan gawai yang dipunyai tentunya.

Butuh lebih banyak perhatian maupun dukungan dari pemerintah secara serius untuk bisa mensukseskan program digitalisasi dunia pendidikan kita. Sebab masih banyak kekurangan-kekurangan dari aplikasi-aplikasi tersebut ketika akan diterapkan langsung ke masyarakat.

Dengan adanya perhatian yang serius dari pemerintah, maka diharapkan banyak pengembang aplikasi pembelajaran edukatif, bisa tertolong dalam lebih menyempurnakan lagi aplikasinya tersebut. Sebab ketika aplikasi tersebut berkualitas, dipastikan akan menghasilkan lebih banyak manfaat, bukan hanya bagi para peserta, kualitas pendidikan kita juga dipastikan akan semakin lebih baik lagi.


Penulis adalah pemerhati sosial dan pengajar di STAK Terpadu PESAT Cabang Sibolangit. Bisa dihubungin melalui email : morangkir84@gmail.com

Senin, 06 November 2017

Kekuatan Sebuah Sentuhan Bagi Anak dan Bangsa

sumber gambar : people.com

Baru-baru ini, ada seorang kakek bernama David Deutchman, rela menjadi seorang volunteer di sebuah rumah sakit yang berada di Atlanta, Amerika Serikat. Seperti yang dilansir pada cnn.com, di alamat berikut http://edition.cnn.com/2017/09/29/health/icu-grandpa-childrens-hospital-trnd/index.html, pada 2 Oktober 2017 lalu. Memberikan dirinya untuk menggendong anak-anak balita, yang sedang mendapatkan perawatan di ICU. Yang awalnya si balita tersebut sangatlah rewel dan tidak nyaman karena sakit yang mungkin dideranya, tapi akhirnya ketika digendong dan disentuh oleh Kakek David, si balita akan berangsur-angsur diam  dan  akhirnya tidur dipelukannya.

Dia akhirnya mendapatkan julukan “ICU Grandpa”, karena kesibukannya dan pengorbanan yang dia berikan dimasa tuanya untuk menenangkan dan mengasihi anak-anak yang berada di ruang ICU tersebut. Dua kali seminggu, dia komit untuk seharian berada di rumah sakit, untuk bisa membantu para balita dan orang tuanya yang mungkin sedang dalam kesusahan.

Ketika ditanyakan, pekerjaan apa yang paling dia senangi selama masa hidupnya; maka dijawab, ketika menggendong, menyentuh dan mengasihi anak-anak balita tersebut, kemudian tertidur dipangkuannya. Hal yang didapatkannya pada masa tuanya ini, lebih berharga jika dibandingkan dengan masa-masa bekerja ketika dia baik menjadi dosen tamu pada sebuah universitas maupun sebagai tenaga eksekutif pemasaran tingkat internasional.

Aku akhirnya juga banyak belajar bahwa pentingnya sebuah sentuhan bagi pertumbuhan anak-anak kita. Pengalaman menjadi orang tua bagi kedua anakku, Azriella dan Theodorus, sedikit banyak mengajarkanku untuk selalu memberikan yang terbaik bagi mereka. Apalagi anak pertamaku yang perempuan yang masih berusia dua tahun, tidak bisa nyenyak tidur, ketika aku tidak berada di sampingnya. Kemana-mana harus sama papanya, kalau tidak, tidak mau pergi.

Pengalaman ini, mungkin bukan cuma aku saja yang mengalaminya. Ada banyak para Bapak yang mungkin mengalami hal yang serupa. Dan banyak yang akhirnya menyimpulkan bahwa anak perempuannya akan lebih dekat ke Bapaknya, sedang anak lakinya akan lebih condong lebih dekat ke Ibunya.

Pentingnya sebuah sentuhan dan pelukan bagi anak-anak, bukan hanya sekedar menunjukkan kasih kita kepada mereka, juga dipastikan akan memberikan rasa nyaman dan aman bagi mereka. Dan rasa ini yang kemungkinan banyak anak-anak di negeri ini, yang belum mendapatkannya secara maksimal. Akibat kesibukan dan aktivitas pekerjaan sehari-hari yang dialami para orang tua mereka. Apalagi ditambah ketika pada akhirnya, Bapak dan Ibunya, kedua-duanya bekerja, dipastikan sianak akan bertumbuh kurang maksimal. Sebab kebanyakan hari-harinya belajar dan bertumbuh hanya bersama keluarga terdekatnya, ataupun mungkin bersama para pembantunya.

Menyediakan waktu bersama dengan anak tak kalah pentingnya dengan segala hiruk pikuk pekerjaan kita diluar. Beruntung masih bisa menyediakan waktu yang cukup bagi kedua anak-anakku. Baik menemani mereka bermain, melatih berjalan setiap pagi bagi putraku yang masih berusia sebelas bulan, memberikan mereka makan, mulai pagi, siang dan malam. Dan beberapa aktivitas lainnya. Sehingga beban istriku sepertinya berkurang dalam menangani dan mengurus mereka. Mencoba untuk menjadi suami yang terbaik bagi dia dan menjadi seorang ayah atau Bapak yang hebat bagi kedua anak-anakku.

Kembali ke Kakek David Deutchman, dengan hanya sebuah sentuhan dan belaian ke bayi tersebut, si bayi bisa merasakan kehangatan, kenyamanan dan mungkin kasih yang mengalir dari dirinya. Sehingga banyak bayi maupun balita, ketika orang tuanya tidak sanggup menangani segala kerewelannya, sang kakek ini bisa mengatasi masalah ini.   

Sebuah sentuhan ini juga sangatlah diperlukan, bukan hanya pada anak saja, orang dewasa dan bahkan bangsa inipun sangatlah memerlukannya. Sebuah sentuhan kasih yang bisa menjamah hati dan merubah sikapnya. Yang dulu brutal, sekarang menjadi baik; yang dulu pemarah sekarang menjadi pemaaf; yang dulu suka mengejek dengan kata-kata kasar, memfitnah, dan bahkan mem-bully, semuanya hal itu bisa berubah.

Tidak mudah untuk baper maupun mengeluh, ketika mengalami suatu masalah, tetapi selalu memiliki sikap yang  optimis dan positif. Semuanya hal itu bisa dicapai, ketika kita para orang tua berhasil menyentuh bukan hanya fisik dari sianak tersebut, pikiran dan jiwanya juga penting untuk disentuh. Supaya kita bisa diterima oleh mereka dan dengan begitu akan semakin mudah untuk mengarahkan mereka kemanapun langkah sukses itu berada.

Hal itu senada dengan sebuah perkataan berikut, seperti anak–anak panah di tangan pahlawan, demikianlah anak-anak pada masa mudanya. Orang tua menjadi pahlawan bagi anak-anak mereka.
Berharap juga melalui tindakan dan teladan Kakek David Deutchman ini, bisa membangkitkan banyak anak-anak bangsa yang mau peduli kepada generasi selanjutnya. Selalu memberikan sentuhan kasih. Sebab memang nyata kekuatannya dalam memulihkan bangsa kita yang pada kenyataannya masih sakit.


4 Aspek Ancaman di Hidup Kita dan Covid 19

(Hizkia Bagian satu- Yesaya 36) Siapa yang tidak pernah mendengarkan kata-kata ancaman dalam tiap kehidupan kita? Bisa dipastika...