Minggu, 14 Januari 2018

Tingkatkan Rasa Nasionalisme Lewat Webmail Produk Buatan Sendiri


Tampilan webmail merahputih.id



Kali ini, mau bahas tentang aplikasi terbaru dulu. Capek dan mumet bahas tentang politik. Apalagi orang yang ditujukan menjadi curhatan artikel tersebut, sangatlah pongah dan ngeyel. Diluar nalar seperti yang pernah saya angkat pada akhir desember lalu, berjudul ‘Anies, Sang Pemikir Kebijakan di Luar Nalar’.

Setelah beliau menghadiri perayaan natal, menanggapi semua issue dan berita tentang dirinya mengenai proyek reklamasi. Alhasil dan dengan entengnya menjawab, bahwa pengembalian uang pembatalan sertifikat HGB tidak melalui uang rakyat alias APBD DKI. Menyatakan bahwa hal itu merupakan hal yang mudah bagi Pemprov dalam penggantian kerugian modal para pengembang. Yakni pembayarannya dengan pajak yang penuh catatan dari pengembang juga.

Sungguh senang ketika banyak anak-anak muda yang mau bergiat dan berinovasi. Apalagi Menciptakan teknologi yang bisa membantu kita dalam kegiatan sehari-hari. Contohnya Yuma, asal Indonesia, seorang anak berumur 10 tahun telah menciptakan aplikasi-aplikasi yang mencengangkan. Hanya karena hobbinya adalah mengotak-atik coding dan belajar otodidak akhirnya berhasil menciptakan sejumlah aplikasi. Diundang oleh Apple dalam acara tahunan mereka, dan bertemu orang-orang hebat disana. Mengharumkan nama bangsa.

Fisik, usia, kesehatan, jenis kelamin, tidak akan pernah membatasi kita untuk sukses. Tapi ketekunan dan selalu mau mencoba, itulah yang akan membawa kita menjadi “sesuatu”, seperti kata Mbak Syahrini dalam  lagunya.

Kita perlu banyak generasi-generasi produktif, yakni yang kesehariannya selalu menghasilkan karya-karya yang hebat. Bukan malah menciptakan generasi yang suka mencibir, suka memfitnah, suka menyebarkan berita bohong, suka ikut-ikutan demo tapi tidak tahu tujuannya apa.

Untuk kali ini saya akan membahas tentang webmail buatan anak Indonesia. Adanya aplikasi ini, sebenarnya baru tahu hari ini (14/1), ketika menyaksikan Big Circle di Metro TV dengan tema : Buatan Lokal Rasa Global. Padahal ternyata aplikasi webmail merahputih.id ini sudah di-launching sejak Juli tahun lalu.

Pada acara Big Circle tersebut ditampilkan ada tiga aplikasi yang diperkenalkan. Mulai dari aplikasi peminjaman, yakni modalku, aplikasi Games 3 D pertama bertemakan horror, yakni DreadOut, dan terakhir adalah webmail lokal Indonesia pertama, yakni merahputih.id. Dengan menghadirkan sejumlah narasumber baik itu founder-nya langsung, maupun CTO (Chief Technology Ofiicer)-nya dari para pembuat aplikasi tersebut.

Webmail seperti Gmail, Ymail, Hotmail, dan lain-lain adalah aplikasi mail raksasa yang selalu kita gunakan dalam kehidupan kita sehari-hari. Dengan aplikasi itu turut memudahkan kita ketika hendak berbagi dengan banyak orang. Baik itu pengiriman surat, video ataupun gambar ke rekan-rekan kita. Kita membutuhkan itu semua.

Dan sepatutnya kita berbangga, karena kitapun sudah punya webmail lokal buatan Indonesia. Yakni Merahputih.id. Webmail pertama di Indonesia ini diharapkan bukan hanya untuk mengurangi beban bandwith semata, tapi juga  sekaligus bisa menunjukkan identitas bangsa kita. Karena ketika kita memakai akun webmail tersebut, ada identitas kenasionalan kita ditunjukkan. Seperti email akun saya berikut, yang baru saya buat,yakni rintofs84@merahputih.id.


Merahputih.id itu sendiri merupakan hasil kerjasama PT IP Networks Solusindo (IPNet) & Telkomsel. Adapun kelebihannya, yakni kapasitas inbox hingga mencapai 50GB, serta kapasitas lampiran bisa mencapai hingga 100MB.  Dimana kalau kita menelisik Gmail, dimana kapasitas inboxnya dibatasin sampai 10 GB, sedangkan untuk kapasitas lampirannya hingga 20MB. Juga kelebihan lainnya adalah bahwa aplikasi ini terintegrasi dengan beberapa layanan produk lain seperti cloud storage, group chatting, news portal, IPTV, hingga marketplace.

Presiden Direktur IP Network Solusindo HE Hariyadi, mengatakan kerja sama ini, memperkuat peranan teknologi digital dalam membangun model bisnis yang mengedepankan kepentingan pengguna dalam hal teknologi informasi. Seperti kekuatan jaringan, aplikasi, pusat data, dan infrastruktur yang semuanya dikelola di Indonesia.
“Hal ini juga memperkuat komitmen Telkomsel untuk menjaga kedaulatan digital NKRI dengan memberikan dukungan kepada perusahaan IT lokal untuk mengambil peran membuka akses komunikasi bagi seluruh masyarakat Indonesia,” katanya dalam keterangan resmi Minggu (23/7/2017) di Jakarta.
Perlunya Endorse atau Pengiklanan
Mari kita meng-endorse ketika kita mengetahui adanya aplikasi-aplikasi lokal. Seperti yang pernah dilakukan rekan kita FPI dan Alumni 212. Yang karena akun-akunnya mereka banyak diblokir, akhirnya dengan berberat hati harus mengumumkan dan menggunakan akun tandingan, seperti http://redaksitimes.com untuk menggantikan Facebook; http://geevv.com sebagai pengganti Google, dan http://callind.com sebagai pengganti WhatsApp. Dimana hal ini juga pernah saya bahas dalam artikel saya yang berjudul, “Saudaraku FPI, Mari Belajar Ke Yuma, Supaya Menjadi Umat High Tech”

Meskipun ketika dikonfirmasi oleh redaksi tirto.id tentang pernyataan FPI tersebut kepada para pengembang aplikasi diatas, hal itu bukanlah suatu unsur kesengajaan. Bukan karena adanya unsur permintaan atau kerjasama sebelumnya diantara PFI dan para pembuat aplikasi. Para admin yang dihubungi Tirto.id (26/12) menyatakan sama sekali tidak tahu tentang hal itu. Namun mereka mengetahui bahwa ada peningkatan user atau akun pengguna aplikasi dihari ketika mereka menyatakan boikot pada 25 Desember lalu. Dan mereka mengakui bahwa aplikasi mereka sempat down karena kebanyakan traffic atau aktivitas online secara massif dan bersamaan mengakses aplikasi yang sama.
Artinya, kita sebagai masyarakat awam, ketika kita sendiri tidak bisa untuk membuat aplikasi semacam itu, minimal kita bisa bangga dengan produk tersebut. Kebanggaan itu ditunjukkan dengan menggunakan aplikasi buatan tersebut. Supaya brand-brand tersebut cepat berkembang dan maju.
Mari kita lihat Negara Cina, ketika ada pengembang aplikasi lokal, pemerintah maupun masyarakatnya dengan cepat mendukung hal itu. Seperti Alibaba, aplikasi ecommerce asal Cina, yang akhirnya mendunia dan menguasai pasar e-commerce Internasional. Apikasi tersebut sampai-sampai bisa mengalahkan aplikasi e-bay, amazon dan lainnya.
Memang kita sudah punya produk aplikasi lokal yang akhirnya juga tidak kalah dengan produk aplikasi luar, seperti go-jek, bukalapak.com, dan lainnya. Tapi kita butuh lebih banyak para entreprenuer muda terutama dalam bidang teknologi aplikasi buatan. Yang berani mendobrak zona kenyamanannya, untuk segera melakukan startup  ketika memang sudah menemukan peluang tersebut.
Penulis sendiripun ingin menjadi seperti Yuma, ingin membuat aplikasi-aplikasi yang bisa menolong banyak orang. Pernah terlintas untuk membuat aplikasi memetakan perkara kejadian laka di jalan. Sebab prihatin, melihat para polisi-polisi kita, masih menggunakan cara-cara manual, menggunakan pulpen dan kertas untuk bisa memetakan laka yang terjadi di jalan. Supaya cepat memproses dan membuat berkas lampiran perkara di lapangan. Polisi tinggal foto-foto kejadian perkara laka masukkan dalam aplikasi dan kemudian, langsung deh jadi pemetaan lakanya secara digital.
Cuma masih harus belajar coding lagi nih kayaknya, dan kemungkinan untuk terus mengakses channel-nya Yuma di Youtube. Semoga ketika ada waktu dan kesempatan, bisa merelisasikan hal itu.
Sibolangit, 15 Januari 2018

Sabtu, 13 Januari 2018

Reklamasi Ala Anies, Pilih Politik atau Hukum, Rakyat Tetap Hancur


sumber : poskotanews.com



Sungguh tidak elok ketika kita harus diperhadapkan dengan situasi seperti Bapak Anies hadapi sekarang ini. Antara ingin menepati janji-janji politik kemarin dan harus menabrak-nabrak sisi hukumnya atau melanggar janji dan tentunya menjadi pecundang.

Ini harus menjadi pelajaran bagi para calon kepala daerah yang akan ikut kontestasi pemilihan calon kepala daerah di tahun ini. Jangan karena ingin tampak memiliki visi yang hebat dan wau..tapi ujung-ujungnya harus berhadapan dengan hukum. Menggumbar segalanya, janji-janji manis tapi kenyataannya pahit yang akan dirasakan kemudian.

Contohnya saat ini yang sedang hangat-hangatnya, masalah reklamasi. Dengan diam-diam menyurati kepala BPN, Bapak Syofan Djalil, akhir Desember 2017 lalu, untuk segera menarik HGB (Hak Guna Bangunan) yang sudah diterbitkan oleh pejabat yang berwenang. Tapi akhirnya, Bapak Syofan bukan membalas suratnya, malahan melakukan konferensi pers. Untuk menyikapi surat yang datang kepadanya.

Hal ini membuat Anies, puyeng dan tampaknya kesal terhadap sikap Bapak Kepala BPN. Menyatakan hal tersebut bukanlah menjaga adab. Dimana tujuan awal suratnya ingin melakukan tertib administrasi.  

Dalam konferensi pers Bapak Syofan Djalil, menyatakan bahwa sertifikat HGB kepulauan reklamasi tidak bisa ditarik kembali. Dan mempersilahkan Bapak Anies untuk menuntutnya di PTUN (Pengadilan Tata Usaha Negara), bila keberatan dengan surat penolakan oleh BPN. Sebab meskipun hal itu seandainya dituruti, bisa mengakibatkan ketidakpastian hukum. Hal ini akan sangat mencoreng pemerintah sendiri.

Hal ini juga ditegaskan kembali oleh Pakar Hukum Tata Negara, Bapak  Yusril Mahendra, dalam Perspektif Indonesia di Smart FM pada hari ini (13/1). Bahwa ketika terjadinya pembatalan maka akan mengakibatkan wanprestasi bagi Pemprov DKI. Dimana wanprestasi dalam hukum perjanjian, yakni tidak dilaksanakannya prestasi atau kewajiban yang sudah tertera dalam surat perjanjian sebelumnya antara pemerintah dan swasta.

Dan ketika terjadi sidangpun di PTUN, berdasarkan pengalaman Bapak Yusril, maka BPN yang biasanya selalu gagal ketika ada pembatalan secara sewenang-wenang sertifikat tersebut. Bukan hanya BPN, Pemprov DKIpun juga bisa dituntut karena telah dianggap melakukan wanprestasi.

"Jadi enggak bisa tiba-tiba Gubernur minta sertifikat HGB itu dibatalkan karena semata-mata dengan alasan belum ada perda zonasi dan tata ruangnya. Sebab yang bisa membatalkan itu salah satunya adalah karena bertentangan dengan Undang-undang atau peraturan yang sudah ada," jelas Yusril.

Bapak Nur Hasan, Pakar Hukum Agraria UGM, pada perspektif Indonesia, juga menyatakan bahwa reklamasi yang terjadi sekarang ini di DKI, bukanlah proyek yang perencanaannya baru-baru ini dilakukan oleh Pemerintah Pusat, melainkan sudah direncanakan sejak tahun 1990, dan mulai dieksekusi oleh Swasta di tahun 2010-an hingga sekarang.

Pemerintah tidak punya uang untuk bisa mewujudkan rencana tersebut, dan akhirnya melibatkan swasta. Dan semuanya itu sudah diatur dan berdasar kepada undang-undang yang telah disusun dan diberlakukan lebih dahulu. Baik Keputusan Presiden (Keppres) maupun Peraturan Gubernur (Pergub), supaya memiliki payung hukum yang kuat.
Jangan hanya karena belum memiliki perda zonasi dan tata ruang yang pembahasannya sampai sekarang belum kelar-kelar dikeluarkan dan disahkan oleh DPRD DKI, akhirnya melakukan pembatalan. Sebab hukum dibangsa kita bukanlah berlaku surut melainkan berlaku ke depan. Tidak bisa harus menunggu jadinya perda zonasi dulu baru mengatur untuk apa lahan itu dipakai. Sebab proyek reklamasi itupun sesungguhnya sudah punya payung hukum yang jelas dalam proses pelaksanaannya. Tidak bisa undang-undang yang terbitnya tahun 2019 nanti, tapi akhirnya mengatur peristiwa hukum yang  kejadiannya sekarang, tahun 2018.

Anies terus berkilah bahwa ada prosedur yang salah yang telah dilakukan oleh pemerintah sebelumnya. Dia menganggap bahwa pemerintah sebelumnya, yakni presiden maupun gubernurnya bodoh-bodoh semuanya dan tidak tahu aturan. Sungguh terlalu Pak Anies. Padahal anda bisa memimpin DKI sebenarnya harus mengikuti atasan anda secara langsung, yakni Bapak Presiden. Bukan malah mau mencoba melangkahinya dan mencoba membuktikan bahwa diri anda hebat dan bisa. Waduh sungguh salah besar.

Anda sekarang sedang termakan janji-janji manis dulu, yang kenyataanya sulit untuk bisa diterapkan. Bahkan Wakil Gubernur anda menyatakan, bahwa ia sanggup untuk mengembalikan seluruh kerugian akibat dari pembatalan tersebut. Padahal duit yang mau dipakainya untuk membayarkannya adalah uang rakyat, bukannya uangnya. Dan itupun kembali harus mendapatkan persetujuan lebih lanjut oleh anggota dewan.

Bapak Wakil Gubernur yang terhormat, Bapak Sandi, Anda tidak bisa seenaknya sendiri mengeluarkan pernyataan yang menyakitkan hati rakyat seperti itu. Jangan karena anda mentang-mentang punya uang buaaaanyakkk bangat, anda bisa mengatur sana-sini.

Ketika Anda sudah membatalkan, proyek reklamasi itu, pertanyaan selanjutnya adalah, mau diapakan tanah dan bangunan yang sudah berdiri. Apakah Anda hendak menghancurkan semuanya, dan menjadi sebuah pekerjaan yang sia-sia.

Apakah Anda ingin melihat, Jakarta tenggelam untuk  seterusnya dan selamanya. Sebab proyek itu disamping untuk menambah luas area cakupan DKI sendiri, juga sebagai alat untuk menghilangkan banjir yang selama ini kerap terjadi.

Skema : Proyek Reklamasi dalam Menaggulangi Banjir ROB


Juga akan ada banyak dampak positif yang akan bisa dinikmati masyarakat ketika proyek itu tetap berjalan dan berhasil. Semakin banyak lapangan pekerjaan yang terbuka, kesejahteraan masyarakat meningkat. Dan tentunya bukan hanya itu, andapun akan tercatat sebagai Gubernur yang berprestasi dan bukannya dicap sebagai gabenar magang.

Terakhir, bijaklah Bapak Anies dalam mengambil keputusan kedepannya. Masih panjang waktu Anda memimpin kedepannya. Anda sudah melakukan start yang salah dalam kampanye diawalnya, janganlah merasa malu untuk mengakuinya. Jangan buat rakyat DKI semakin hancur lebur Pak, jangan.

Sibolangit, (13/1)

Jumat, 12 Januari 2018

Saudaraku FPI, Mari Belajar Ke Yuma, Supaya Menjadi Umat High Tech


sumber : kumparan



Tidak baik memang untuk selalu menciptakan rasa permusuhan diantara kita sesama anak bangsa. Sesungguhnya kita masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang hebat dan kuat. Tindakan-tindakan untuk mengklaim kebenaran sendiri lebih baik dengan kebenaran orang lain, apalagi dengan sikap membenci, memusuhi, bahkan mengkafir-kafirkan rekan yang lain, bukanlah tindakan yang terpuji.

Bukankah Bapak Jokowi selalu konsisten menyatakan supaya kita tidak mudah terjebak, apalagi saling membalas diantara berbagai elemen masyarakat. Saling demo, saling fitnah, saling hujat menghujat, saling menjatuhkan diantara kita sesama warga bangsa. Seperti yang pernah dipidatokan oleh beliau pada waktu pembukaan Rakornas PIP (Rapat Koordinasi Nasional Pengawasan Intern Pemerintah) di tahun 2017 kemarin agenda tahunan oleh BPKP.

Beliau menyatakan bahwa bangsa kita sungguh sangat jauh tertinggal dari negara-negara maju yang ada. Negara-negara lain sudah mencapai teknologi kecerdasan buatan (artifisial), sudah punya kapling-kapling teknologi di luar angkasa, tapi kita masih terus tergerus oleh penyakit saling sikut, menyebar kabar bohong, dan tindakan main hakim sendiri.

Agama itu baik, ketika hal itu bisa mendekatkan diri kita dengan pencipta kita, bisa menciptakan tali kasih di antara kita seluruh warga bangsa. Bukan malah saling membenci, mengkafir-kafiri, apalagi baku hantam.

Mensyiarkan keyakinan kita kepada orang lain itu juga baik, sepanjang hal itu tidak dilakukan dengan unsur-unsur iming-iming, apalagi melakukan pemaksaan. Saya sangat memuji buat gerakan saudara FPI, GNPF, dan sejenisnya, yang dengan konsisten mensyiarkan Islam sebagai agama pembawa damai.   Apalagi sewaktu melakukan pembelaan-pembelaan dengan sigap dan konsisten ketika ada orang-orang yang berupaya menyinggung, menyakiti, ulama, nabi maupun kitab suci Al-quran.

Siapa yang melarang ketika kita mensyiarkan kebaikan, mensyiarkan kedamaian, mensyiarkan kemurnian ajaran yang bisa membangun umat. Bukan malah sebaliknya, hal-hal yang disampaikan akhirnya bisa memicu untuk menimbulkan perpecahan diantara kita, menimbulkan kebencian, dan bahkan penghinaan.

Siapa yang melarang ketika kita kita memakai media-media sosial yang ada, seperti facebook, whatsupp, mesin pencari atau search enggine, dan lain-lainnya, untuk mensyiarkan kebaikan kita bagi orang lain. Tidak ada yang melarang. Tapi ketika yang disampaikan adalah hal yang sebaliknya, tentulah akun-akun pengguna selayaknya diblokir sang pemilik atau pencipta aplikasi tersebut. Ada aturan dan ada batasan, dan hal itu pun sudah diatur dalam perundangan-undangan kita.

Kemudian, karena tidak senang akun-akun yang seperti ITU selalu diblokir, akhirnya buat pernyataan untuk memboikot aplikasi-aplikasi tersebut. Ditambah lagi karena adanya sentimen anti Israel, kisruh menyikapi pernyataan sikap kontroversi Donald Trump, maka semakin kuat dan gencar untuk segera memboikot seluruh buatan-buatan orang Israel. Tapi pada faktanya sulit dan bahkan mustahil untuk melakukan pernyataan mereka tersebut.

Sudah melakukan seruan untuk memboikot Facebook, Twitter, tepat di hari Natal lalu. Kemudian merilis aplikasi pengganti yang katanya buatan orang Indonesia. Yakni http://redaksitimes.com untuk menggantikan Facebook; http://geevv.com sebagai pengganti Google, dan http://callind.com sebagai pengganti WhatsApp. Mem-blow up­ untuk menggunakan aplikasi tersebut, yang katanya sebagai wujud  kebangkitan bangsa dengan mencintai produk-produk Indonesia.

Tapi, akhirnya tidak berdaya, bahwa Facebook, Twitter, dll, masih merupakan aplikasi mumpuni dan belum bisa dikalahkan dengan aplikasi-aplikasi yang dinyatakan oleh FPI sebelumnya. Kemudian pada Jumat (12/1), telah melakukan demonstrasi 121, untuk menuntut Facebook supaya tidak lagi memblokir akun ormas keagamaan di Indonesia.

Dan Facebook akhirnya memberikan pernyataan resminya terhadap aksi 121 itu. Dinyatakan bahwa pihak Facebook terbuka apabila Facebook digunakan untuk berdiskusi mengenai beragam topik dan gagasan serta meningkatkan kesadaran akan isu yang penting bagi masyarakat. Namun akan menghapus konten yang melanggar Standar Komunitas yang telah ditetapkan. Dimana Standar Komunitas dibuat untuk mencegah adanya organisasi atau individu yang menyerukan ujaran kebencian atau kekerasan terhadap pihak lain yang memiliki pandangan yang berbeda dengan mereka.

Mari Belajar ke Yuma, supaya bisa konsisten Bung.

Siapa Yuma? Dia adalah programmer cilik, 10 tahun, asal Indonesia, yang hadir pada acara tahunan oleh Perusahaan teknologi raksasa Apple, WWDC17 (Wordwide Developers Conference) di San Jose  (AS) pada Juni 2017 lalu. Tim Cook Apple sangat terkesan dengan aplikasi buatannya yang dibuat ketika dalam perjalanan naik pesawat, yakni aplikasi untuk membantu orangtuanya menentukan harga sebuah barang.

Yuma mulai suka belajar coding sejak usia enam tahun, karena menurutnya PR di sekolah kurang menantang. Dan dia hanya belajar Coding dari Youtube. Dalam wawancaranya dengan program Radio National ABC, Yuma mengatakan bahwa dia ingin membuat aplikasi yang bisa mengubah dunia. Juga dia tidak pelit untuk berbagi ilmunya dalam melakukan coding.

Oleh karena itu, saudaraku FPI, supaya bisa konsisten mari belajar teknologi dulu. Belajar kepada ahlinya langsung. Meskipun dia masih kecil, jangan anggap anak itu masih ingusan. Lihat dia sudah bisa menciptakan banyak aplikasi, dan anaknya juga suka tuh berbagi ilmu.

Dan kalau sudah mapan dan jago coding ‘tuk buat aplikasi, barulah cocok untuk menyerukan dalam memboikot aplikasi-aplikasi seperti Facebook dan sejenisnya. Jangan hanya omong doang, hari ini katakan A, kemudian besoknya katakan B. Plin-plan dan jilat ludah sendiri, kan yang rugi, diri sendiri.

Setelah buat aplikasi tersebut, untuk memviralkan aplikasi baru tersebut, bukankah ente mengklaim bahwa punya umat hampir puluhan juta di Indonesia ini. Mari serukan aplikasi tersebut, dan menangkan persaingan dunia teknologi informasi digital. Itulah permainan yang cantik, yang membangun citra bangsa ini semakin lebih baik dan dikenal oleh  negara-negara lain. Dan kalau anda bisa melakukan itu, bukankah Anda sudah memberikan kontribusi yang sangat positif bagi pembangunan bangsa kita Indonesia.

Mari menjadi umat high tech, yang bukan hanya melek teknologi, tapi menguasainya sekaligus, dengan menciptakan aplikasi teknologi buatan yang tak kalah dengan buatan orang Israel, Amerika sana.

Sibolangit (13/1/’17)

Kamis, 11 Januari 2018

Refleksi Kasus La Nyalla, Menjadi Kepala Daerah Siapa Sanggup, Maharnya Gede.


sumber : tribunnews.com



Banyak keraguan dalam diri ini, sebagai masyarakat awam, ketika banyak partai yang mem-blow up dirinya tidak menerapkan mahar dalam sistem perekrutan calon kepala daerah. Padahal dalam praktek kesehariannya, yang namanya uang atau mahar pasti dibutuhkan.

Contoh kasus La Nyalla, dalam pengakuannya kepada Kompas, harus melengkapi syarat kelengkapan pencalonan dirinya di Pilkada Jatim, yakni 40 milliar. Dengan alasan uang tersebut akan dipakai untuk uang saksi nantinya ketika pilkada berlangsung. Padahal dia merupakan kader partai, loyalitas partai, ternyata masih dibebani dengan hal seperti itu.

Uang sebesar 40 milliar, bukanlah angka yang kecil. Bagaimana seandainya kalau dia yang terpilih,  
Pastinya yang ada di kepalanya adalah angka-angka tersebut. Bagaimana modalku bisa kembali, minimal tidak rugilah. Hitung-hitungan angka nominal menjadi prasyarat ketika ingin berniat menjadi seorang kepala daerah.

Ternyata bukan hanya itu, beliau juga ditugasin untuk mencari dukungan dari partai lainnya. Artinya ada bukan hanya beban angka nominal yang harus dipenuhi dalam pencalonannya, pikiran dan beban dalam mencari dukungan juga merupakan hal yang sulit. Pasti, omongan lembut tapi menyakitkan, yang dibicarakan kembali adalah uang. ‘Apa yang kami dapat jika kami mendukungmu?’ Meskipun hal ini, tidak terungkap oleh La Nyalla.

Sistem ini menjadi sangat tidak sehat bagi bangsa kita ini. Ketika di awal hajatan besar bangsa kita, dalam mencari sosok pemimpin kepala daerah yang bersih, kemudian punya mimpi dan visi yang membangun, serta program yang mumpuni dan tentunya bisa diterapkan, dipastikan akan sulit tercapai. Sebab sudah ada hitungan untung rugi ketika seorang ingin mencalonkan diri menjadi seorang pemimpin.

Kemudian, ketika tidak sanggup, memenuhi tugas khusus yang diberikan oleh Sang Ketua Umum, diakhir-akhir masa pendaftaran ke KPUD, menjadi bingung sendiri. Mendukung kader sendiri tidak sanggup, yah, kemudian, dengan gerak cepat, memilih calon luar yah gak pa pa. Yang mungkin-mungkin jalan pemikiran atau prinsip partainya berseberangan dengan calon yang dipilih tersebut. Karena sudah tidak ada waktu lagi, akhirnya ya sudahlah, lanjutkan saja.

Artinya, disini tampak kegagalan banyak partai politik di bangsa ini, sudah terlibat dalam praktek-praktek kotor. Lebih mengutamakan hal-hal yang praktis, dan tidak lagi menghidupi sistem kepartaiannya lagi berdasarkan visi misi awal pembentukan partai tersebut.

Hal itu juga tampak pada partai yang diketuai oleh Bapak Surya Paloh, sang pemilik media Metro TV. Pada contoh kasus  Bapak Ery Nuradi, Gubernur Sumut periode ini, dimana beliau merupakan kader Nasdem sendiri, juga merupakan Ketua DPW Nasdem Sumut, harus menyerahkan, hak pencalonannya kepada orang lain. Yang lebih unggul untuk sementara, berdasarkan pengamatan Nasdem sendiri.

Bahkan bukan hanya Nasdem, Partai Golkar, PKB, dan PKPI pun akhirnya menarik dukungannya kembali, yang semula menunjuk Sang Petahana, Erry Nuradi, untuk menjadi calon gubernur, akhirnya lebih memilih calon kepala daerah yang lain, yang tampaknya lebih potensial untuk memenangkan kompetisi pilkada serentak ini.

Sulitnya menemukan partai yang betul-betul bisa mewakili aspirasi dari masyarakat. Yang betul-betul bisa membawa perbaikan moral, maupun kepemimpinan yang bersih di bangsa ini. Dimana seharusnya partai politik yang ada merupakan partai yang bisa menggenjot pembentukan kepemimpinan generasi selanjutnya.

Ada kader-kader pemimpin yang baru, yang muda, yang punya segudang prestasi yang membanggakan, yang seharusnya dibentuk oleh partai-partai politik ini. Artinya ketika mereka sedang mengerjakan hal itu benar-benar, dipastikan bangsa kita akan mengalami kemajuan yang signifikan.

Meskipun sepertinya Nasdem sudah menerapkan hal itu, dengan adanya Sekolah Kader Kebangsaan buatan mereka. Tapi, mereka sepertinya tidak bisa terlepas dari sistem politik praktis yang ada. Ketika angin kencang ke satu arah, dipastikan akan mengikuti arah angin tersebut, tidak berdiri kokoh. Yakni lebih memilih satu sosok yang kuat dibanding lebih memilih kader sendiri.

Faktor ketokohan juga menjadi penentu bisanya dicalonkan atau tidak. Dimana sepak terjang dari sang tokoh yang diusung menjadi sangat vital. Ketika sang tokoh hanya biasa-biasa saja, dan lebih mengandalkan uangnya, tanpa adanya gebrakan kebijakan program yang membangun bangsa, maka jangan harap bermimpi untuk bisa menjadi calon kepala daerah. Dimana faktor ketokohanpun bisa dibentuk oleh partai politik tersebut.

Oleh karena itu, wahai kita para pemuda, jangan pesimis dengan kondisi perpolitikan kita sekarang ini. Mari kita terus, berbenah diri,  membangun diri, terus berjuang dan tidak mengenal lelah. Berusaha untuk selalu jujur dan punya komitmen yang tinggi dalam membangun bangsa ini.

Meskipun stigma seperti yang ada di Sumatera utara, yang disingkat SUMUT, yakni Semua Urusan Musti Tunai. Artinya segala urusan harus dibarengin dengan uang, hal itu tidak akan bertahan lama. Kita akan melihat Sumut Baru, ketika akhirnya dipimpin oleh pemimpin yang benar-benar bersih, dan berintegritas.

Semoga di masa-masa pilkada ini, kekondusifan, kedamaian, keamanan terus terpancar. Supaya bangsa kita bisa segera membangun dengan kepala-kepala daerah terpilih nantinya. Yang tentunya  yang terpilih adalahkepala-kepala daerah yang terbaik, kepala daerah yang jujur, kepala daerah yang bukan hanya punya program yang penting beda, tapi membingungkan masyarakat. Juga kepala daerah yang betul-betul murni menang bukan karena menggunakan SARA, ayat ataupun mayat untuk bisa memenangkan kontestasi pilkada di bangsa kita ini.


Rabu, 10 Januari 2018

Perenungan di Awal Tahun 2018 Antara Ahok, Firman Tuhan, Evaluasi, Komitmen, dan Prioritasku.





Diawal tahun 2018 ini, aku agak lama start dalam menunaikan komitmen dalam bidang menulis. Sebab sedang menata hati dan mencoba merenungkan segala sesuatu disepanjang tahun 2017. Kemudian dikejutkan dengan peristiwa keluarga Pak Ahok, melihat segala respon yang tercurah di media sosial oleh banyak orang, terutama respon dan pendapat para Hamba Tuhan. Dimana banyak yang memilih untuk diam dan tidak berkomentar apapun, banyak Firman Tuhan yang diutarakan dengan maksud Pak Ahok bisa mengubah keputusannya.

Aku sih lebih memilih untuk Diam dan mendoakan yang terbaik buat Pak Ahok. Banyak yang kecewa dan banyak juga yang bersyukur atas keputusannya, terutama bagi lawan-lawan politiknya.

Sikapnya dan ketegasannya dalam memimpin suatu daerah tetap kuat, prinsipnya dan ketulusan hatinya, patut diacungin jempol. Sehingga Pak Ahok layak dijadikan contoh bagi generasi penerus bangsa ini, untuk tetap kokoh, meskipun ombak dan badai datang terus menerpa.

Ketika orang-orang kebanyakan melakukan kebiasaan salah, tidak terpengaruh dengan hal tersebut. Pas seperti pembelaanya lalu, yang mengilustrasikan dirinya dengan ikan kecil nemo. Yang berhasil menyelamatkan banyak ikan-ikan yang seharusnya terjaring, tertangkap, tapi bisa lepas karena jasa ikan kecil nemo, tapi akhirnya terlupakan. Mewakafkan dirinya untuk bangsa dan negara ini.

Diawal Minggu di tahun baru ini, mendapatkan permenungan dari Ulangan 8. Ketika pengkhotbah di gerejaku menyampaikan tentang satu ayat yang ada di Ulangan 8, yakni ayat, 17 : “Maka janganlah kau katakan dalam hatimu : Kekuasaanku dan kekuatan tangankulah yang membuat aku memperoleh kekayaan ini.”

Singkat tapi membekas dalam hatiku. Bahwa kekayaan tidak diperoleh dari hasil kekuatan tangan kita. Melainkan berkat Tuhanlah yang menjadikan itu semuanya. Banyak orang yang terjebak, bahwa dengan rajin bekerja, selalu berusaha, semangat tidak pernah kendor, ulet, gigih, dan pantang menyerah, akan mendapatkan harta ataupun kekayaan yang berlimpah. Tapi melupakan Tuhan yang ternyata bekerja juga didalamnya.

Memang dinyatakan bahwa meskipun kekayaan bisa diperoleh oleh orang semacam itu, tapi lihat bagaimana akhir hidupnya. Akhirnya akan jatuh, tergelincir, mati dan dilupakan orang.

Disampaikan lagi, bahwa penting untuk selalu mengucap syukur, atas segala hal yang terjadi dalam kehidupan kita. Baik senang,maupun sedih, suka maupun duka, sulit maupun mudah, enak maupun tidak enak. Mari bersyukurlah.

Mengevaluasi segala yang kupikirkan, kulakukan, yang merupakan arahan dari Mentor tidak langsung dalam hidupku. Mencoba menyusun top priority, prioritas yang paling utama yang selama ini kukerjakan di tahun 2017. Dimana prioritas ini juga merupakan hal yang paling banyak kita korbankan, baik waktu, tenaga, pikiran maupun uang kita.

Kudapatkan ada lima hal, yang tertuang dalam buku harianku. Yakni : mendidik anak; mengasihi istri; pengerjaan pelayanan dan pendidikan; berdoa, menyembah dan belajar firman Tuhan, dan terakhir adalah menulis artikel, perenungan maupun refleksi. Memang hal tersebut masih bersifat umum. Perlu untuk buat indikator-indikator pencapaiannya secara nyata. Dan hal tersebut sedang kucoba untuk merincikannya. Sehingga ketika di akhir tahun 2018, akankah aku telah mencapai dan berhasil dalam segala yang kutuliskan tersebut, atau akhirnya tunduk dalam penyesalan dan kegagalan.


Untuk poin mendidik anak, dengan memberikan contoh dan teladan yang baik baginya. Terbersit untuk memberikan makanan kepada orang-orang yang  tidak mampu yang berada disekitar rumah. Melatih untuk peka akan kebutuhan orang lain. Tidak mudah untuk marah. Tidak sering membentak dan memaksakan kehendak kita sebagai orang tua kepadanya.

Sebab anakku diusianya yang sekarang, sedang dan selalu mengamati tindakanku sehari-hari.Pernah ketika sedang menyebok (membersihkan kotorannya) dia ngomong kepada ku, “ bau pak!” Sebab dia lihat aku membuang ludah ketika membersihkannya. Terus kubilang, “gak pa pa nak, tidak bau. Itu biasa kok.”

Poin kedua, ketiga dan keempat, masih dalam proses pembuatan atau perincian di masing-masing pernyataan tersebut. Bagaimana pencapaian yang akan mungkin bisa dikerjakan dengan lebih lanjut.

Sedang poin terakhir, yakni menulis artikel,dll. Mencoba kembali untuk menggerakkan jemariku, dan pikiranku, disetiap harinya untuk bisa mempublish segala hal yang ada di pikiran ini. Membuat warna baru, atau bisa berbagi pikiran dan pendapat bagi para pembaca maupun buat rekan-rekan penulis yang ada. Mencoba menembus dan menerbitkannya baik dimedia online maupun cetak. Artinya di setiap bulan bisa terbit minimal 20 artikel yang terpubllish.

Semoga hal tersebut bisa dikerjakan. Dan nantinya bisa dibuktikan dan dilihat melalui sejarah (histori) akun ku, baik dimedia sosial, maupun di media-media mainstream yang ada.

Sibolangit, 10 Januari 2017

Jumat, 22 Desember 2017

Anies, Sang Pemikir Kebijakan di Luar Nalar




Pemasangan Tenda Bagi Para PKL Tanah Abang


Bagaimana yah sosok seorang Gubernur DKI yang sudah punya gelar akademik yang tinggi, dari luar negeri lagi, tapi merasa bingung dengan evaluasi yang telah diberikan oleh Kemendagri. Segala pernyataan yang keluar dari mulut Anies, seakan-akan memprovokasi masyarakat, bahwa pemerintahannya yang dipimpinnya sekarang tidak mendapatkan dukungan dari pemerintah pusat, terkhusus kementerian dalam negeri.

Seperti yang dinyatakan oleh Anies di Balai Kota, Jakarta Pusat, Kamis (21/12/2017), pada pemberitaan kompas.com. Anies mengatakan, Kementerian Dalam Negeri menghapus nama Tim Gubernur Untuk Percepatan Pembangunan (TGUPP) dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) DKI Jakarta 2018.

Anies membandingkan dirinya dengan tiga gubernur sebelum dirinya, mengenai TGUPP, bahwa dirinya merasa ditolak mengenai perencanaannya tersebut. Dia menyatakan bahwa apa yang dilakukan oleh Kemendagri tersebut akan menjadi pertimbangan bagi masyarakat bahwa telah terjadi keinkonsistenan dari kementerian tersebut.

Kemudian Syarifudin, Plt. Direktur Jenderal Bina Keuangan Daerah Kemendagri, menyatakan bahwa TGUPP tidaklah ditolak. Cuma direvisi mengenai sumber pembiayaan dari TGUPP tersebut. Dinyatakan supaya Anies tidak menggaji anggota TGUPP yang rencananya berjumlah 73 orang itu melalui pos anggaran khusus di APBD DKI 2018. Melainkan disarankan menggunakan dana operasional Anies setiap bulan.

Syarifudin juga menyatakan bahwa anggaran TGUPP bisa dipecah dan dimasukan ke Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) masing-masing sesuai kebutuhan dan masa kerjanya pun harus tergantung dengan kegiatan yang dilakukan oleh tim. Dia mencontohkan ketika membutuhkan ahli tata kota, ya taruh di Dinas Tata Kota. Kemudian kalau kegiatannya sudah selesai tidak harus menunggu masa kerja setahun yang sudah ditetapkan.

Penjelasan yang diberikan yang diberikan oleh kemendagri sebenarnya sudah begitu jelas diutarakan, tapi Anies mendadak pura-pura bingung dengan kebijakan tersebut. Padahal masyarakat umumpun pasti mengerti akan penjelasan ataupun keterangan yang disampaikan.

Keteguhan hatinya untuk tetap mempertahankan TGUPP tetap berjumlah 73 orang sebenarnya juga sudah mengundang banyak pertanyaan masyarakat pada umumnya. Tepat, seperti yang pernah dikatakan oleh Sumarsono pada Kompas TV pada 22 November 2017 lalu. “Jumlah ditambah jadi 73 pasti anggarannya meledak sekian kali lipat, tapi itu konsekuensinya. Berapa sih jumlah kebutuhan tim gubernur yang real, yang diingginkan Pak Anies. Saya khawatir ini (TGUPP) hanya menampung mantan-mantan tim sukses saja tanpa melihat kebutuhan untuk sebuah tim atau expertis yang dibutuhkan gubernur.”

Sumarsono kemudian lebih lanjut menjelaskan bahwa wewenang TGUPP hanya memberikan rekomendasi kepada gubernur dan wakil gubernur. Tidak boleh memerintah SKPD. Sehingga beliau khawatir bahwa TGUPP bentukannya Pak Anies bisa menciptakan disharmoni diantara seluruh pemangku kepentingan yang ada di DKI.

Untuk lebih singkatnya, ketika peran TGUPP hanya bisa untuk memberikan masukan-masukan tanpa boleh memerintah jajaran instansi yang ada, kenapa harus banyak-banyak pengisi di tim tersebut. HaI itu membuktikan bahwa dirinya memang sedang menampung timsesnya dulu. Sebagai upaya balas budi tentunya. Yang pasti memang ada tenaga ahli di dalamnya yang terlibat, kemudian di tambah dengan timsesnya dulu yang pernah berjasa baginya.

Selanjutnya kemendagri menyarankan juga supaya pendanaannya jangan dimasukkan di dana khusus APBD melainkan dari anggaran operasional Gubernur sendiri. Tapi akhirnya, Sang Gubernur menyatakan bahwa Kemendagri telah menolak kebijakannya dalam TGUPP. Itu sebenarnya merupakan penjelasan yang sederhana. Tapi karena pemikiran Sang Gubernur DKI ini mungkin sudah diluar nalar kebanyakan, jadi menyimpulkan seperti itu.

Kemudian tentang kebijakan Tanah Abang. Ini juga menjadi fenomena tersendiri. Seharusnya jalan diperuntukkan untuk para pengendara dan bukan bagi para pedagang kaki lima. Tapi oleh Anies lebih memilih untuk menutup jalan Jatibaru yang berada tepat di depan Stasiun Tanah Abang Jakarta Pusat sebagai lapaknya para PKL. Yang bahkan oleh Pemda sendiri memfasilitasi mereka dengan memberikan tenda gratis untuk bisa berjualan di tengah-tengah jalan.

Padahal sudah ada bangunan berdiri megah yakni di Blok G. Sebagai tempat untuk menampung para PKL dulu yang pernah ditertibkan. Sekarang mereka kembali merasa sepi di blog G karena ulah para PKL baru yang sudah ada di Jalan Tanah Abang. Ketika kebijakan itu dikeluarkan, tentunya para pedagang yang ada di Blok G merasa kecewa dan heran atas kebijakan yang telah dikeluarkan oleh pemerintah sekarang.

Menata Tanah Abang, dengan mengorbankan hak para pengendara motor, sungguh suatu upaya yang betul diluar nalar kebanyakan. Padahal jelas jalan-jalan yang ada di tanah air peruntukannya bagi para pengendara motor. Kenapa tidak memindahkan saja dulu para PKL baru tersebut ke Blok G yang sudah ada disana.

Tapi itulah kebijakan bapak kita ini. Karena sudah termakan janji-janji kampanye dulu yang tidak mau menggusur, tapi akhirnya terpaksa juga sih melakukannya pada bangunan liar di Banjir Kanal Barat sekitar Jalan Tenaga Listrik, pada 13 November 2017 lalu. Kemudian untuk kasus kesemrautan Tanah Abang akhir-akhir ini, beliau lebih memilih untuk mengutamakan PKL dan para pejalan kaki beraktivitas di badan jalan dibanding para pengendara motor yang ada.

Beliau mungkin lupa, ketika menyatakan akan memfasilitasi seluruhnya para pedagang kaki lima tapi abai kepada para pengguna jalan yang sebenarnya. Sungguh sekali lagi, merupakan pemikiran kebijakan yang diluar nalar.

Berpikir dan membuat kebijakan yang diluar nalar yang sedang ditempuh beliau sebenarnya sebagai upaya yang mau ditunjukkan bahwa beliau adalah orang yang Out of the Box. Tapi benarkah demikian. Masing-masing kita sendirilah yang menilainya bagaimana. Dan masyarakat Jakarta sendirilah yang akan menikmati buah dari kebijakannya nantinya.

4 Aspek Ancaman di Hidup Kita dan Covid 19

(Hizkia Bagian satu- Yesaya 36) Siapa yang tidak pernah mendengarkan kata-kata ancaman dalam tiap kehidupan kita? Bisa dipastika...