Sebenarnya ketika melihat dan
mendengar perjuangan mbak Mira Sahid seakan terbakar rasanya dengan spiritnya
yang pantang menyerah. Tak tahu jalan lengkap hidup Mbak Mira, tapi lewat tulisan-tulisan
yang digoreskan alias diketik lewat Asus, jadi paham bagaimana awal kisah
hingga menjadi seperti sekarang ini.
Saya-pun coba kepo-in tulisan
paling awal, ternyata terbit di bulan Juni 2008. Dengan judul yang cukup
menantang sekaligus sebagai bahan refleksi bahwa kita selalu berproses, baik
itu dengan teman, tempat dan waktu, bahkan dengan pasangan sekalipun serta
anak-anak yang sudah dipercayakan. Dan itulah ‘Perjalanan Hidup”.
Tahun 2008 hingga 2019, Itu
artinya sudah lebih dari 10 tahun terus berkecimpung di dalam dunia tulisan
hingga akhirnya bisa menjadi seperti sekarang. Jadi sosok yang berhasil di dalam
dunia menulis hingga menjasi seperti sekarang, seorang blogger sejati,
pembicara yang diundang ke mana-mana, ketemu dengan banyak orang serta menyebarkan
banyak inspirasi khususnya ke emak-emak. Apalagi bisa menguatkan emak-emak yang
mungkin sekarang kondisinya adalah single parent.
Beruntung ada lomba ini
bertemakan, “Liburan Asik dengan Laptop Asus Zenbook UX391A” akhirnya bisa ketemu
dengan Mbak Mira Sahid, meskipun bukan secara fisik tapi lewat perjalanan tulisannya
akhirnya bisa tahu bahwa hidup itu memang proses.
Sama seperti Laptop buatan Asus
yang selalu berproses dan menyesuaikan dengan segala kebutuhan dari pada konsumen.
Ada yang suka model yang akhirnya dalam bentuk tablet, seperti yang aku miliki
sekarang dan selalu kupakai untuk bekerja, tapi ada juga yang suka dalam bentuk
laptop dengan segala kapasitas mumpuni di dalamnya.
ASUS Zenbook S UX-391_Burgundy_Red_06
Seperti Laptop Asus Zenbook
UX391A ini yang merupakan laptop kelas atas dan tentu impian banyak orang. Punya
kapasitas performanya yang sangat tinggi. Karena memang didukung oleh Intel Core
TM terbaru yakni Core TMI7. Ditambah kapasitas boosting frekuensinya hingga 4
GHz apalagi dengan kekuatan RAM-nya hingga 16 Giga, itu artinya perpindahan
datanya sangatlah kencang dan tidak butuh waktu lama jika mengerjakan aplikasi-aplikasi
berat seperti editing foto ataupun video. Juga dengan kapasitas penyimpanan
yang besar hingga 512 Gigatentu tidak
perlu pusing-pusing untuk segera memindahkan ke hardisk eksternal kita.
ASUS Zenbook S-UX391_Deep_Dive_Blue_WebPage
Desainnya juga keren, ringan,
tipis, stylish dan satu yang penting kekokohan-nya. Sebab kita yang punya anak
pasti mengerti bagaimana seandainya anak-anak kita beraksi dan tak sengaja menjatuhkan
laptop tersebut. Jika laptop itu desainnya tidak kuat, maka habislah sudah
laptop-nya, bergelimang dalam kehancuran alias rusak.
Dan laptop Asus Zenbook UX391A
ternyata sudah didesain dengan performa kekuatan yang sangat jelas karena
memang sudah tersertifikasi Military Grade Mil-STD 810G. Artinya laptopnya sangat
kokoh dan jika tak sengaja terinjak, barangnya gak langsung pecah. Dimana pengalaman
ini pernah kurasakan sendiri dengan laptop jenis lain.
Akhir Tulisanku
Lagi Buat Tulisan untuk Lomba ini
Baru-baru ini aku akhirnya fokus
didalam menulis. Sudah kumulai dari tahun 2016 lalu, meski tidak rutin, dan
satu kelemahannya, tidak punya laptop sama sekali. Akhirnya lebih sering pinjam
punya kantor waktu itu dengan segala keterbatasan untuk memakainya. Sudah mulai
rutin menulis, bahkan bisa dibilang sekarang hasil tulisanku sudah melebihi
gaji yang kuterima setiap bulan dari kantorku.
Bermodalkan Asus Transformer Book
T101HA, itupun kudapatkan dengan harga second. Meskipun laptopnya bekas,
ternyata kekuatan dan performanya juga sangat lumayan tinggi. Apalagi jika
layarnya dilepas jadi bentuk tablet, seakan-akan kita punya style kelas atas
gitu. Meskipun mereka gak tahu barang itu baru apa tidak.
Asus Setia Menemaniku @ruangkerja
Asus Transformer yang kumiliki
sekarang ini akhirnya bisa mengantarkanku untuk bisa menulis, menyimpan dan
mengatur seluruh folder-folder tulisanku. Dulu sewaktu belum punya, tak jarang flasdish
yang jadi andalan. Tapi jika flasdishnya bermasalah atau hilang, maka habislah
semua karya tulisanku tersebut.
Lah tulisan tentang liburannya dimana?
Lihat di tulisan ke duanya yah Mbak Mira. Disitu kuungkap segala keseruanku bersama
dengan laptop ASUS Transformer BOOK T101HA.
Ternyata segala sesuatu kita
punyai di dunia. Dan ketika segala sesuatu kita punyai, maka masihkah kita
pantas untuk bermegah atau menyombongkan diri? Hal itu tertulis jelas di dalam
surat Paulus Pertama ke Jemaat di Korintus pasal 3 ayat 21-23.
Karena itu jangalah ada orang yang memegahkan dirinya atas manusia,
sebab segala sesuatu adala milikmu. Baik Paulus, Apolos,maupun Kefas, baik
dunia, hidup maupun mati, baik waktu sekarang, maupun waktu yang akan datang.
Semuanya kamu punya.
Tetapi satu yang penting,
disamping apa yang kita punyai, ternyata kita adalah milik Kristus dan Kristus
adalah milik Allah. Kemudian jelas dikatakan bahwa kita adalah ladangnya Allah,
bangunannya Allah, baitnya Allahsebab
Roh-nya Allah diam di dalam kita.Dan
itu-pun berdasarkan Firman Allah yang sudah tertulis, :
Aku akan diam bersama-sama dengan
mereka dan hidup di tengah-tengah mereka,dan Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Ku (Im
26:12, Yeh 37:27, 1 Kor 3:16, 6:19, 2 Kor 6:16).
Tapi bagaimana Kerajaan Allah
bisa hadir di dunia? Jika kita sebagai kawan sekerjanya Allah dan status kita
memang demikian, ternyata kita bukan orang yang dapat dipercayai dan bukan
hanya sekedar orang yang dapat dipercaya?
Sebab ternyata makna dua sebutan
ini menjadi sangat beda hanya karena ada akhiran-‘i’ dibelakangnya. Dimana
maknanya jika hanya sekedar dipercaya,
intensitasnya mungkin hanya sekali. Sedangkan jika ada akhiran-i dibelakangnya,
maknanya bisa berulang, berkali-kali dan ada suatu perasaan yang begitu sangat
yakinnya pasti dimiliki oleh orang tersebut dan sangat teruji.
Berharap supaya pemandangan orang
ke kita yakni sebagai hamba-hamba Kristus, dimana Allah bisa terus
mempercayakan kita rahasia-rahasia-Nya Allah. Dan ujungnya-ujungnya kita
akhirnya betul dikenal sebagai orang-orang yang dapat dipercayai.
Ternyata berdasarkan pemahamannya
Paulus yang sudah dicerahkan dengan kuasa Kristus, mendapatkan sebuah
pengertian bahwa sangatlah berbeda fungsi dan tanggung jawabnya diantara
statusnya sebagai pendidik, sebagai anak dan sebagai bapa.
Dimana kita bisa banyak atau
punya beribu-ribu pendidik di dalam Kristus. Tetapi hanya satu saja status
sebagai seorang bapa yang kita punyai pada masing-masing kita. Yakni seorang
bapa, dimana kita boleh pertama sekali dikenalkan kepada Injil, sehingga kita
akhirnya bisa percaya kepada sang dasar yang paling utama di dalam kehidupan
kita, yaitu Kristus, Yesus.
Dan kita sebagai rekan sekerjanya
Allah punya dua kesempatan untuk membangun di atas dasar yang benar tersebut,
yaitu Kristus. Apakah kita membangun dasar iman tersebut dengan emas, perak dan
batu permata? Atau malah membangunnya dengan kayu, rumput kering atau jerami?
Jika ternyata kita lebih memilih
membangun dasar bangunan tersebut, dimana kita sejatinya adalah bangunannya
Allah ataupun ladangnya Allah, dengan kayu, rumput kering dan jerami, maka
sesungguhnya kita sedang mempersiapkan sebuah kerugian besar di masa ketika
Tuhan akan menguji pekerjaan kita tersebut.
Tapi jika kita lebih memilih
membangunnya dengan emas, perak ataupun batu permata, maka seperti apa kata
Firman, kita akan mendapatkan upah yang besar, atas kesetiaan kita tersebut. Sebab
emas, perak ataupun batu permata tahan terhadap pemanggangan api. Sedangkan
kayu, apalagi rumput kering dan jerami tentu akan langsung terbakar.
Kemudian sebagaipenanam, penyiang, ataupun penyiram, ternyata
kita punya kedudukan yang sama di mata-Nya. Yang bisa membedakan kita, apakah
pekerjaan kita akan terbakar atau tidak? Dan Tuhan betul akan menguji semua pekerjaan
kita tersebut lewat api.
Menjadi pendidik, anak atau bapa?
Ketiga hal ini sama-sama penting
di dalam menghadirkan kerajaan Allah di dunia ini. Dan juga bukan bermaksud
membandingkan dan menempatkan posisi yang satu lebih tinggi dari yang lain.Tapi
lebih untuk memilih dan menekankan bahwa sungguh jauh lebih berharga untuk
menjadi seorang bapa.
Sebab kita menjadi satu-satunya
bapa di dunia yang akan tetap disebut dan diakui oleh Allah Bapa di surga atas
anak-anak yang kita hasilkan lewat injil yang kita sampaikan kepadanya. Dimana
dia akhirnya berubah dan memilih Yesus sebagai Tuhan dan juru selamatnya.
Bukankah tertulis bahwa Injil
adalah kekuatan Allah untuk menyelamatkan dunia? Dan Injil menjadi satu-satunya
jalan bagi dunia ini untuk bisa menghadirkan Kerajaan Allah nyata adanya di
dunia ini.
Peran kedua yang juga sungguh
merupakan kesempatan berharga, ketika kita bisa berperan sebagai seoranganak. Dimana ketika Paulus sudah mencoba menanamkan Injil tersebut
tertanam bagi jemaat di Korintus, dia tidak serta merta meninggalkan jemaat
tersebut sendirian.
Paulus sebagai bapa, segera
mengirimkan anak-nya, Timotius. Anaknya yang kekasih dan setia di dalam Tuhan.
Anak yang sudah dimuridkan dan melihat bagaimana Paulus di dalam melayani satu
jemaat ke jemaat yang lain atau satu daerah ke daerah lain.
Dimana tetap menekankan unsur
keteladanan di dalam kehidupan pelayanannya untuk bisa menolong orang lain
bertumbuh dan akhirnya benar menjadi ladang-nya Allah, benar menjadi
bangunan-nya Allah. Tentu Timotius sudah melihat bagaimana Paulus, bapa-nya itu
kelaparan, kehausan, dipukuli. Ketika di maki malah memberkati, ketika dianiaya
malah sabar, ketika difitnah malah menjawab dengan ramah.
Bahkan berani menyatakan bahwa
kesempatannya sebagai seorang rasul, bukan merupakan posisi yang terhormat di
hadapan-nya Allah malah berada di tempat yang paling rendah. Kemudian
menyamakan dirinya hanya sebagai orang yang telah dijatuhi hukuman mati. Dan
hanya menjadi tontotan dunia, manusia dan malaikat.
Hal itu dilakukan untuk bisa
mengingatkan orang-orang Korintus bahwa untuk menjadi percaya kepada Kristus,
bukan untuk sekedar gagah-gagahan, bukan untuk sekedar sombong-sombongan, bukan
untuk sekedar membeda-bedakan, kamu dari golongan ini,kamu dari golongan itu.
Sebab akhirnya memang pecah jemaatnya Korintus, ada yang merasa dirinya
golongan Apolos dan ada yang merasa dirinya golongan Paulus.
Dengan teladan yang dilihat dari
sang bapa, ada sama si anak, tentu setiap pernyataan firman akan lebih cepat
dihidupi, lebih cepat masuknya, daripada hanya sekedar diketahui, dan akhirnya
didiamkan begitu saja, tanpa adanya buah.
Menjadi Pendidik di dalam Kristus. Peran ini tentu bisa masuk dalam tahapan
penyiraman, ataupun penyiangan suatu ladang-nya Kristus yaitu kita atau
jemaat-Nya. Peran ini baik adanya, tapi setidaknya ketika kita sudah
mendapatkan status sebagai seorang pendidik di dalam Kristus, kenapa tidak
meningkatkan peran kita yang lebih besar dan mungkin lebih terhormat lagi,
ketika kita bisa mengambil bagian untuk menjadi seorang anak, dan bahkan
menjadi seorang bapa?
Penulis adalah pelayan desa dalam
komunitas pesat, pemerhati masalah sosial, politik. pendidikan dan karakter
Diri ini sangat
tergugah dengan catatan seorang Ki Suwarjono dalam artikelnya pada kompas
(4/9/2018), betapa pendidikan nasional kita masih rasa kolonial. Dimana tulisan
ini sebenarnya sangat menohok kita sebagai orang yang selalu berkecimpung dalam
dunia pendidikan. Para guru, anak didik dan orang tua, ternyata kita masih
selalu memakai apa yang menjadi peninggalan kolonial bagi kita.
Dimana kurikulum
kita yang sekarang berbasis kompetensi ternyata dasarnya mengacu kepada
taksonomi bloom. Ketiga aspek kompetensi dalam kurikulum kita, baik kognitif,
afektif dan psikomotorik selalu memakai takaran operasionalnya seperti yang
diuraikan dalam taksonomi bloom. Dan kita sepertinya tidak atau belum lepas
dari uraian operasional ataupun takaran pencapaian yang sudah diperoleh oleh
murid-murid kita.
Padahal kita
sebenarnya sudah memiliki pemikir pendidik sekelas Benyamin Samuel Bloom, yakni
Ki Hajar Dewantara. Dimana kompetensi yang digagas oleh Ki Hajar Dewantara,
mencakup tiga hal yakni, cipta, rasa, dan karsa. Dan dengan pendekatan
pendidikan yang didasarkan kepada tri nga
(ngarti, ngrasa, dan nglakoni). Yaitu sianak diajak untuk mengerti terlebih
dahulu, kemudian merasakan dan akhirnya bisa melakukan.
Dimana pendekatan
pembelajaran yang demikian jauh lebih sesuai dengan sosiologi budaya kita
dibandingkan dengan pengalaman pembelajaran yang sudah diamanatkan dalam K-13
kita yang sekarang, yakni mengamati, menanya, eksperimen, mengolah informasi,
dan mengkomunikasikan. Yang jauh lebih sekedar prosedural dibandingkan dengan
mendapatkan esensi yang sesungguhnya di dalam pelaksanaan sistem pendidikan
kita.
Bahkan sebenarnya
beliau sudah memberikan petunjuk bagi pengembangan pendidikan kita yang bisa
jauh lebih baik. Yakni dengan tiga semboyannya ymang sangat terkenal. “Ing
ngarso sung tulodo”, “Ing madyo mangun karso”, “ Tut wuri handayani”. Yang
artinya secara berurutan, di depan guru menjadi teladan atau contoh, di tengah
guru sebagai pembimbing, di belakang guru sebagai motivator.
Ketika ketiga
pendekatan tersebut dilakukan oleh seorang guru, si anak bisa melihat contoh
langsung dari si guru. Kemudian si anakbisa merasakan bagaimana bimbingan demi bimbingan, supaya si anak bisa
melakukan bersama dengan guru. Dan akhirnya ketika si anak sudah bisa melakukannya
sendiri, si guru tinggal melepaskannya sehingga mandiri. Tugas guru selanjutnya
pasti tinggal memberikan motivasi saja.
Maka proses
pembelajaran yang demikian jauh lebih sesuai dengan kultural bangsa kita.
Bahkan perubahan si anak jauh lebih berkembang ketimbang dengan tahapan
prosedural yang sangat saintik yang telah kita terapkan selama ini yang kembali
muasalnya selalu mengarah ke tahapan taksonomy bloom.
Selanjutnya tahapan
pencapaian kompetensi pendidikan seperti si anak bisa ber-karsa alias punya
kehendak sendiri, atas apa yang akan dilakukannya. Kemudian punya rasa sehingga
bisa merasakan tahapan pencapaian yang sedang dikerjakannya yang sesuai dengan
minat dan bakatnya, sehingga akhirnya bisa mencipta.
Tulisan ini juga bukan
bermaksud untuk anti terhadap penerapan taksonomy Bloom, tapi karena konteks
Benyamin Bloom di dalam menemukan dan merumuskan apa yang dia temukan, tentu berdasarkan
keseharian pengamatannya di dalam meneliti dan melihat langsung konteks
lingkungannya, yakni kebudayaan barat. Yang tentu kebudayaan maupun sosiologi
ketimuran tentu berbeda dengan apa yang dimiliki oleh orang barat.
Mengapa kita tidak
mengembangkan apa yang sudah kita miliki saat ini. Apa yang sudah digagas oleh
pemikir pendidik dan pendahulu kita sebenarnya jauh lebih bermartabat dan tentu
berdasarkan kehidupan dan lingkungan kita sehari-hari.
Mengapa kita harus
lebih banyak berinvestasi untuk sesuatu yang bukan merupakan lahir dari
kekayaan bangsa kita, dan lebih banyak berinvestasi untuk pengembangan teori
luar yang belum tentu cocok dengan kita?
Apa Tindakan Kita Selanjutnya?
Kita itu sebenarnya
sangat kaya. Bukan hanya kaya dengan kekayaan alamnya, tapi kita juga sangat
kaya dengan budaya yang begitu beragamnya. Tentunya pasti mengandung kearifan
lokal yang begitu kaya muatannya dengan filosofi pemikiran para nenek moyang
kita.Mengapa kita tidak berinvestasi untuk menggali kekayaan kebudayaan kita
tersebut?
Mengapresiasi
langkah kemendikbud kita yang sekarang ini. Yang telah mencoba dan memerintahkan
setiap pemerintah daerah untuk bisa menyusun kajian yang mendalam akan
kebudayaan lokal dari masing-masing daerah. Meskipun belum seluruh daerah bisa
menyelesaikan kajian kebudayaan lokal tersebut untuk diserahkan ke kemendikbud.
Tapi langkah ini
tentu akan menjadi sebuah dasar atau pondasi bagi kita untuk bisa meningkatkan
mutu pendidikan kita. Kita sebagai pendidik, penggiat pendidikan ataupun
sebagai peneliti dan tentunya juga pemerintah harus berpartisipasi aktif di
dalam melakukan pengembangan ini. Dengan melakukan penelitian yang lebih lanjut
maka bisa dipastikan kualitas dari pendidikan kita akan berbasis kekayaan lokal
kita sendiri.
Mari kita segera
berbenah untuk mengatasi segala permasalahan pendidikan kita yang sekarang
ternyata nilai ataupun karakter kebangsaan kita seakan-akan luntur. Dimana kita
begitu mudahnya terpecah. Ditambah lagi paham ekstrim yang sedang digeliatkan
oleh orang-orang tertentu untuk memasukkan paham mereka sehingga menjauhkan
kita dari rasa kesatuan dan kecintaan kepada bangsa Indonesia yang hebat ini.
Maka langkah ini
harus menjadi sebuah keharusan bagi kita di dalam menyelsaikan permasalahan
pendidikan yang sudah di depan mata kita.
Penulis adalah
penggiat sosial dan pemerhati pendidikan serta pengajar di STAK Terpadu PESAT.
Perhelatan Asian Games telah
usai, ada senyum kebanggaan kita sebagai anak bangsa yang telah sukses sebagai
tuan rumah yang baik. Tapi senyum yang lebih lebar lagi, tentu akan ditunjukkan
oleh para atlet kita. Bagaimana tidak mereka banyak mendapatkan keuntungan yang
luar biasa.
Disamping kerja keras mereka
selama ini sudah terbayarkan, ada hasil yang dibawa pulang. Baik medali, bonus
dan bahkan jaminan masa depan yang sudah ada digenggaman mereka. Betapa tidak
atlet yang tidak seberuntung atlet yang mendapatkan juara, masing-masing mreka
masih bisa mendapatkan bonus uang sebesar Rp.20 juta dari pemerintah kita.
Bahkan para pelatih-pun serta pendamping tak ketinggalan diberikan bonus
melimpah.
Apalagi bagi para atlet kita yang
mendapatkan juara dan medali, minimal mereka akan mengantongi bonus setengah
miliar rupiah. Ditambah lagi dengan tawaran menjadi seorang Aparatur Sipil
Negara (ASN), tentara ataupun menjadi seorang polisi. Tinggal pilihan mereka
mau kemana berkarir dan berkarya, usai hidup mereka tidak lagi bergantung
kepada keringat mereka di lapangan.
Kemudian ketika kita melihat
apresiasi pemerintah yang begitu besarnya, sebenarnya apa pesan yang sedang
ingin disampaikan oleh pemerintah kepada kita? Yaitu pemerintah kita sudah
memperhatikan hidup dari para atlet kita. Yang semula kehidupan mereka tidak
lagi diperhatikan, usai memberikan prestasi yang membanggakan Indonesia, tapi
di usia tua mereka, hidup dengan serba tidak jelas, bahkan tak sedikit yang
akhirnya kembali menjual medali yang pernah didapatkannya hanya untuk kembali
menyambung hidup.
Sekarang para atlet kita sudah
bisa bernafas dengan lega, mungkin tidak sampai kaya raya, tapi tentu akan bisa
hidup dengan tidak harus terlunta-lunta, meskipun usia sudah tua. Artinya bagi
para calon-calon atlet yakni generasi-generasi penerus jangan lagi kuatir
dengan hidup kalian. Pemerintah itu ada untuk kalian. Jangan ragu, teruslah
giat berlatih, teruslah mencapai mimpimu. Menjadi seorang atlet adalah pilihan
terbaik untuk masa depanmu.
Upaya untuk Menjadi Raksasa Asia dan Dunia
Dari total 45 negara-negara
peserta Asia, ternyata sejak tahun 1994, Indonesia sudah tidak pernah lagi
merasakan masuk dalam 10 besar raksasa olah raga se Asia. Selalu berada di 20
besar dan bahkan pernah peringkat 22, sewaktu Asian Games di Doha, Qatar, tahun
2006. Dengan perolehan medali hanya 2 emas, 4 perak dan 14 perunggu. Itu
artinya Indonesia sudah berpuasa selama 24 tahun tidakpernah lagi merasakan eforia kebanggaan
prestasi olah raga Indonesia berbicara di tingkat Asia.
Bahkan untuk Sea Games, dalam
kawasan Asia Tenggara, kita masih jauh tertinggal dengan Thailand yang berada
di tingkat pertama pada sea games tahun 2015 lalu di Singapura. Dan Sea Games
tahun 2017 yang ternyata juga menempatkan Indonesia pada peringkat kelima
dimana Malaysia keluar sebagai juara pertamanya.
Menatap dan mimpi untuk menjadi
raksasa di Asia tentu kita juga harus menjadi raksasa olah raga di kawasan Asia
Tenggara sendiri. Artinya setelah pencapaian kita pada Asian Games 2018 ini,
Indonesia sudah membuktikan diri berada di posisi empat besar negara terbanyak
memperoleh medali. Kita sudah menaklukkan Thailandsebab mereka berada di posisi 12, serta juga
sudah menaklukkan Malaysia yang berada pada urutan ke-14.
Maka momentum kebangkitan olah raga
ini haruslah kita jaga bersama. Membuktikan bahwa pencapaian para atlet kita
sekarang ini, bisa terus membuat harum bangsa kita, baik pada Sea Games
berikutnya di Filipina tahun 2019, maupun Asian Games berikutnya di China tahun
2022.
Kemudian sasaran yang paling
utama kita adalah menembus olimpiade Tokyo di tahun 2020. Kita berupaya
menunjukkan bahwa kita layak menjadi pengoleksi terbanyak medali bersama dengan
China, Jepang, dan Korea, yang merupakan langganan juara di tingkat Asia,
bersama denganAmerika dan negara Eropa
lainnya.
Artinya meskipun di tahun 2020,
ada banyak sistem perubahan untuk bisa menembus masuk sebagai atlet peserta,
dimana sekarang sudah memakai sistem poin, dan tidak lagi berdasarkan peringkat
dunia, bukanlah suatu hal yang mustahil bagi bangsa Indonesia untuk menyikat
bersih cabang-cabang andalan kita maupun calon cabang andalan kita. Seperti
bulu tangkis, lari, renang, wushu, taekwondo, karate, angkat besi bahkan sepak
takraw yang merupakan cabang olah raga terbaik kita pada saat ini.
Mari fokus kepada cabang-cabang
andalan tersebut. Dan kita yakin pemerintah akan terus mengasah mereka untuk
bisa memberikan performa terbaik mereka pada hajatan Olimpiade 2020, dua tahun
ke depan.
Tapi mungkin untuk sepuluh hingga
dua puluh tahun lagi, mimpi untuk menjadi raksasa Asia bahkan Dunia bisa
tercapai jika, kita dan pemerintah konsisten kepada janjinya untuk fokus kepada
pengembangan olah raga ini. Mulai sejak dini, anak-anak di bangsa kita sudah
digerakkan untuk fokus dan memilih olah raga yang menjadi minat dan bakatnya.
Artinya ada pelatihan yang masif,
terstruktur, berjenjang, serta tersistem dengan sangat baik dilakukan oleh
pemerintah kita. Sebab akan percuma ketika kita sudah memiliki fasilitas olah
raga tingkat dunia, yang sekarang tinggal membangun fasilitas yang sama untuk
di tiap daerah-daerah di seluruh Indonesia.
Kemudian sistem pertandingan
kompetisi olah raga kita yang betul-betul murni mencari bakat terbaik,seperti
PORDA, PON, untuk bisa diasah kemampuannya sampai tingkat olimpiade. Sebab kita
melihat kompetisi olah raga kita seperti PON tidak memberikan greget, sebab
penanganannya waktu dulu kebanyakan dikorupsi, sehingga mandek dan tidak
berjalan.
Oleh karena itu, mari kita
membenahi hal ini, maka tentu mimpi kita untuk menjadi raksasa di Asia dan
menjadi raksasa di dunia, akan terlaksana, jika kita tetap konsisten, terus
berupaya, berlatih keras, tidak korupsi, apalagi nepotisme. Selanjutnya masa
depan atlet terjamin, dan bahkan ada bonus yang akan datang, maka niscaya kita
bisa mewujudkan mimpi itu.
Penulis adalah pemerhati sosial
dan pengajar di STAK Terpadu Semarang
Dunia boleh mencatat bahwa perkembangan ilmu statistik mulai berkembang sejak abad ke-17. Dan kisah yang paling kuno tercatat ketika peristiwa kaisar Agustus mendata jumlah seluruh penduduk bumi kala itu. Tapi ternyata jauh lebih dalam lagi, lebih kuno lagi, bahwa Bapak Statistik pertama sekali di dunia adalah Musa dan Harun. Kemudian dibantu dengan 12 orang kepala suku dari masing-masing suku Israel.
Tuhan perintahkan Musa untuk mencatat seluruh jumlah orang Israel yang baru saja keluar dari tanah Mesir. Tepatnya ketika memasuki tahun kedua, bulan kedua pada tanggal satu. Yakni pada bulan Ziw atau Iyar yang kalau dipersamakan pada kalender modern sekarang, pada pertengahan April. Sebab bangsa Israel keluar dari tanah Mesir diperkirakan pada bulan Abib atau Nisan.
Setelah mereka berada di padang Gunung Sinai, dimana sebenarnya mereka sudah tiba di padang tersebut, tepat pada bulan ketiga setelah orang Israel keluar dari tanah Mesir pada tahun itu juga. Tapi mereka harus berputar kembali karena kesalahan mereka yang tidak mempercayai Allah akan menolong mereka sampai ke tanah kanaan.
Itu adalah pencatatan pertama antara Musa dengan Imam Harun. Tapi orang-orang Israel pada pencatatan pertama tersebut dinyatakan Tuhan, tidak akan ada yang akan menyeberangi sungai Yordan menuju Yerikho, selain dari pada Yosua dan Kaleb (Bil 26:64).
Dimana pada pencatatan pertama hasil yang didapatkan jumlah orang Israel sebanyak 603.550 jiwa (Bil 1:46). Tapi pada pencatatan kedua bersama Musa dengan Imam Eleazar anaknya Harun sebanyak 601.730 jiwa (Bilangan26:51). Dan jumlah itu diluar dari pada suku Lewi maupun keturunan Musa dan Harun.
Setelah perjalanan tahun pertama bangsa Israel mengalami kegagalan, pada tahun kedua Tuhan berencana untuk melakukan penertiban ulang seluruh orang Israel.
Dengan statistik yang didapatkan atau jumlah perhitungan yang didapatkan tentu akan mempermudah bangsa Israel pada waktu itu untuk tahu posisi dan letak mereka dimana. Grup atau rumpun mana masuk mana, siapa yang berangkat duluan, dan akan menuju kemana.
Siapa yang akan berperang, siapa yang akan bertahan di kemah, dengan statistik jumlah orang-orang tersebut, tentu akan mempermudah Musa dan Harun dalam menetapkan strategi peperangan yang akan dihadapi pada masing-masing di perjalanan tersebut.
Bayangkan kalau tidak ada data yang demikian dipegang, bagaimana sulitnya bangsa Israel untuk bisa menaklukkan banyaknya musuh yang akan mereka hadapi. Disamping itu juga, dengan data yang sama, Tuhan sedang mempersiapkan generasi baru yang akan masuk ke Kanaan. Sebab orang yang masuk pada statistik pendataan pertama tidak akan melewati sungai Yordan dan masuk ke Kanaan.
Tuhan berencana menghabiskan mereka di padang gurun selama 40 tahun, sampai muncul generasi baru yang akan memasuki tanah kanaan sesuai dengan yang sudah dijanjikan Tuhan sebelumnya. Dan dengan pendataan statistik yang kedua kalinya, yakni sebelum memasuki dan menyeberangi sungai Yordan, Tuhan kembali perintahkan Musa sebagai tugas terakhir bersama Imam Eleazar untuk bisa mendata. Dimana dengan jumlah pasti yang akan diperoleh, tentu akan mempermudah tugasnya Yosua di dalam membagi tanah-tanah pusaka bangsa Israel yang akan mereka miliki ketika mereka tiba di tanah Kanaan. Sebab sebanyak jumlah jiwa yang dimiliki oleh masing-masing sukulah, sebidang itu juga wilayah atau daerah yang akan mereka dapatkan.
Pada masa kekinian, kita tidak bisa menampik bahwa pentingnya data statistik untuk pembangunan kita. Dengan data-data yang ada akhirnya kita bisa menggambarkan apakah bangsa kita mengalami kemajuan atau mengalami kemunduran. Mengalami stagnasi atau mengalami suatu perkembangan yang luar biasa.
Apalagi di tahun-tahun politik seperti sekarang ini. Dimana dengan saling klaim memiliki data yang paling benar dan paling up to date dengan sumber data yang paling mumpuni, tak jarang memakai data-data yang demikian untuk menyerang lawan-lawan politiknya.
Tapi supaya kita tidak saling klaim, penting untuk menetapkan satu hasil sumber statistik, yakni data-data yang tentunya dipegang oleh BPS (Badan Pusat Statistik) kita.
Dimana BPS baru pada pemerintahan Jokowi merilis data atau jumlah orang miskin di Indonesia persentasenya hanya satu digit, yakni 9,82% yakni berkisar 25,95 juta orang. Dimana porsi terbanyak yang menderita kemiskinan tersebut tepatnya berada di pedesaan. Desa menjadi pusat kemiskinan karena desa mengalami perubahan gaya hidup yang sangat signifikan.
Dimana awalnya desa menjadi pusat atau sumber produksi bahan makanan, sekarang berubah menjadi pusat konsumtif untuk memperoleh bahan pokok makanan. Salah satunya meningkatnya kebutuhan beras. Padahal beras bukan satu-satunya bahan makanan pokok, masih banyak bahan makanan pokok lainnya, sesuai dengan kebudayaan lokal kita yang amat kaya. Seperti sorgum, jagung, maupun umbi-umbian.
Tapi karena gaya hidup yang berbeda, semuanya akhirnya berubah pola konsumtif masyarakat kita. Menjadi penikmat dan akhirnya menggantungkan diri pada objek bahan makanan pokok seperti beras.
Oleh karena itu peran statistik amatlah sangat penting bagi kemajuan suatu bangsa. Sebab olehnya kita bisa melakukan banyak strategi percepatan yang akan mungkin bisa kita lakukan di dalam melakukan suatu perubahan yang terukur dan terstruktur.
Seperti yang pernah dilakukan Musa untuk mendata potensi dan kekuatan sebenarnya yang dimiliki oleh bangsa Israel baik di dalam menghadapi fase padang gurun, maupun pada pada perebutan tanah kanan. Kemudian ketika akan mendapatkan jatah tanah warisan bagi masing-masing suku, yang akan mereka peroleh nantinya.
Dengan data yang sama juga, akan mempermudah generasi selanjutnya di dalam melakukan suatu perubahan dan percepatan.
Terakhir, mungkin saran, sebaiknya data-data sejarah tentang statistik kenapa tidak bermuara dan berasal ataupun memperhitungkan Musa sebagai Bapak Statistik zaman purba. Disamping mungkin perkembangan ilmu statistik sekarang memang sudah lebih jauh sangat berkembang. Hanya supaya kita tidak melupakan yang namanya sejarah. Serta mencatatkan bahwa kitab Bilangan adalah kitab statistik pertama di dunia.
Seharusnya kita bisa belajar dari
sejarah bangsa kita yang ternyata pernah menjadi tuan rumah Asian Games. Diperhelatan
Asian Games ke-4 itu, dimana Indonesia sebagai tuan rumahnya, sukses menjadi
negara pengumpul emas terbanyak ke dua setelah Jepang berada di posisi pertama.
Bahkan tercatat bangsa kita jauh mengungguli India, Korea Selatan, yang
sekarang mereka termasuk raksasa-nya Asian Games.
Padahal dalam sejarah pergulatan
Soekarno di dalam mempersiapkan dengan matang Asian Games tersebut tidaklah
mudah. Sebab di tahun 1962, Asian Games diselenggarakan, Indonesia baru
merengkuh kemerdekaan selama 17 tahun, tercatat kita menjadi negara yang sukses
di dalam menyelenggarakan event 4 tahunan itu.
Tidak mudah sebab gunjang ganjing
politik yang tidak senang kepada kepemimpinan Soekarno pada masa itu,ingin
menjatuhkan Seokarno dengan mencoba menggagalkan pelaksanaan Asian Games
tersebut.
Gelora Bung Karno yang sekarang
kita kenal, sebagai pusat olahraga dan pembinaan atlet pada masa itu, dibangun
dengan mimpi dan modal yang besar. Ditengah-tengah pembangunan pusat olahraga
tersebut, yang direncanakan bisa menampung seratus ribu orang, ternyata
akhirnya dibakar. Tapi Soekarno ternyata tidak patah arang untuk melanjutkan
kembali pembangunannya. Bahkan beliau merangkul arsitek dari Mesir dan beberapa
negara lainnya untuk membangun tempat olah raga tersebut.
Kemudian dari sisi prestasi,
Soekarno ternyata sudah sangat siap di dalam mempersiapkan para atletnya untuk
berjuang. Meskipun dari 13 cabang olah raga yang dipertandingkan, kita berhasil
masuk 2 besar, dengan pemerolehan 77 medali, dengan rincian 21 emas, 26 perak dan
30 perunggu.
Dan yang menjadi hero atau
pahlawan bagi Indonesia saat itu, Sarengat, atlet lari cepat, disamping bisa
memecahkan rekor dunia tercepat dengan hanya menempuh catatan waktu tercepat,
10,4 detik, dia juga bisa menyumbangkan 2 emas bagi Indonesia.
Meskipun dengan benturan yang
terjadi di dalam diri Sarengat tidaklah mudah. Disamping tuntutan untuk
menyelesaikan studi kedokterannya saat itu, dia juga harus memperjuangkan nama
Indonesia di kancah dunia olah raga se-Asia.
Pergulatan Asian Games Sekarang Sisi Pertama
Melihat kondisi sekarang ini
memang tidak mudah untuk mempersiapkan dengan matang pelaksaan Asian Games.
Meskipun hanya dua unsur mayoritas yang harus dipersiapkan, yakni penanganan
dan kesiapan sarana dan prasarana, dan beberapa unsur lainnya, dan yang kedua
adalah sang atlet itu sendiri.
Untuk penyiapan sarana dan
prasarana, baik arus transportasinya sehingga mendukung perpindahan para atlet
dengan cepat, masih mengalami cukup kendala. Maka bisa dikatakan Indonesia
ataupun DKI beruntung waktu itu dipimpin oleh Jokowi-Ahok. Sehingga pembangunan
transportasi massal seperti MRT, LRT sudah dimulai prosesnya. Di dalam
kepemimpinan mereka, melihat bahwa moment Asian Games sebenarnya adalah moment
menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia sudah maju. Terbukti dari transportasi
massal yang digunakan adalah transportasi canggih.
Meskipun pembangunannya belum
sepenuhnya rampung di DKI, sebab DKI terkenal dengan kemacetannya yang parah,
maka pembangunan transportasi massal ini adalah sebuah keharusan bagi
Indonesia. MRT memang tidak terkejar, tapi pembangunan LRT dikejar targetnya
supaya bisa selesai sebelum Asian Games dimulai.
Dan kesiapan LRT baik di Jakarta
maupun di Palembang akhirnya telah dinyatakan siap untuk menopang sepenuhnya
kelancaran perpindahan para atlet untuk menuju area pusat pertandingan.
Situasi politik di DKI dan di
tahun-tahun politik di Indonesia, cukup mempengaruhi kesiapan Indonesia di
dalam mempersiapkan dengan matang olah raga terbesar ini di Asia. Tantangan
penginapan para atlet yang ternyata dihadapkan dengan bau menyengat kali itam
khususnya di Jakarta, dan solusi pemerintahnya untuk menghilangkan bau
tersebut, menjadi bahan candaan di media-media sosial yang ada.
Dengan menutup kali itam tersebut
dengan waring hitam, tentu akan mengundang banyak perhatian bagi para tamu yang
akan datang ke Indonesia. Meskipun diklaim baunya sudah hilang, tapi pertanyaan
demi pertanyaan akan keluar dari mulut para atlet negara lain, kok aneh yah
sungai ditutupi waring semacam itu?
Kemudian bagaimana kubu oposisi
yang mempertanyakan pembangunan LRT di Palembang yang dikatakan sangat over budget, bahkan ada tuduhan bahwa
pemerintah telah melakukan Mark-up
harga. Ini juga menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah saat ini.
Dimana seharusnya kita bisa
bersama-sama di dalam menyiapkan seluruh sarana dan prasarana yang akan dipakai
dalam perhelatan olah raga se Asia tersebut. Meskipun demikian keadaannya,
bersyukur pemerintah kita tidak fokus kepada kritikan yang masuk, dan terus mengejar
tahapan target yang harus diselesaikan.
Kedua, Penyiapan Atlet
Meskipun target yang ditetapkan
oleh pemerintah kita kepada para atlet melalui kemenpora, yang harus masuk 10
besar saja, sebenarnya cukup miris bagi kita. Masak di tengah-tengah ratusan
juta penduduk Indonesia, atlet-atlet yang berprestasi dan yang bisa mengangkat
Indonesia masuk ke kancah nomor satu dunia, kok tidak ada.
Bahkan harapan untuk mencapai
target sepuluh besar itu, berasal dari cabang olah raga yang bukan merupakan
murni cabang Olimpiade,melainkan hanya berdasarkan permintaan sebagai tuan
rumah. Seperti pencak silat, paralayang dan beberapa cabang olah raga lainnya.
Maka sebenarnya kita sudah sangat
jauh tertinggal bahkan dari kawasan tingkat regional di Asia Tenggara. Pencapaian
Thailand, Malaysia jauh lebih baik dari pencapaian yang kita peroleh selama
ini. Mengapa kita tidak mencoba memuridkan sebanyak mungkin atlet-atlet muda
yang baru sejak dini?
Dimana para atlet dewasa yang
sudah berprestasi diwajibkan untuk memuridkan orang-orang yang ada disekitarnya
untuk bisa menggantikan dia kelak. Atau bukankah kita sudah punya kementerian
yang mengurus bidang olah raga ini, kenapa tidak fokus untuk melakukan
pendidikan dan pembinaan jauh ke daerah-daerah sana dalam rangka mempersiapkan
atlet muda dan tangguh serta berprestasi.
Kenapa kita tidak melihat upaya
seperti yang dilakukan Yohanes Surya,di dalam menggapai mimpi Indonesia
berprestasi di tingkat dunia dalam dunia pendidikan. Betapa dia langsung terjun
ke daerah-daerah dan bahkan bisa mengangkat orang yang paling tertinggal-pun
dalam pendidikan di bangsa ini, yakni Papua. Beliau berhasil membuat anak Papua
berdiri sama tinggi dengan orang-orang kota dan bahkan berprestasi dan pulang
membawa medali.
Seharusnya ini menjadi garapan
Menpora supaya dengan totalitas penuh bekerja dan menghasilkan ribuan
atlet-atlet muda yang berasal dari daerah. Dan bukannya hanya capek dengan
urusan-urusan administrasi di kemenpora, tanpa melakukan gebrakan dalam dunia
olah raga kita.
Capek dengan urusan atlet tua
yang kini menjelma menjadi pegawai negeri di tubuh kemenpora, karena sistem
atlet kita yang memang tidak jelas masa depannya. Kenapa tidak membuat
regulasi-regulasi yang bisa mendorong para atlet tua tersebut bisa menghasilkan
generasi baru yang akan menggantikannya kelak, dan bukannya sibuk menjadikannya
menjadi tenaga admin di kemenpora itu sendiri.
Artinya membangun sistem yang
jelas kepada para atlet-atlet Indonesia. Dimana ketika akhirya orang muda
meyakini dirinya akan berkiprah di dunia olah raga, maka masa depannya bisa
terjamin. Oleh karena itu tidak mengherankan maka sedikit bibit yang muncul,
sebab mereka tahu, masa depan tidak ada disitu.
Ini harusnya bisa dijawab oleh
bangsa ini,khususnya pemerintah kita. Bukan hanya sibuk untuk urusan kekuasaan
semata, tapi setelah berkuasa hanya bisa duduk-duduk saja di kursi yang empuk
tanpa melakukan sesuatu.
Sebenarnya tidak ada kata
terlambat bagi bangsa ini. Ketika momen Asian Games ini, bisa dikatakan kita
memang belum maksimal untuk dua hal besar ini, baik sarananya maupun atletnya
itu sendiri.
Tapi kedepannya berharap melalui
momen besar seperti Asian Games ini,seharusnya menjadi pelecut bagi kita untuk
menunjukkan kepada dunia, bahwa Indonesia bisa, Indonesia hebat, Indonesia
maju. Seperti yang pernah sudah dialami oleh Korea Selatan, ketika menjadi tuan
rumah yang sama. Kemudian seperti China yang berhasil memukau dunia dengan
persiapan mereka yang sangat spektakuler untuk perhelatan Olimpiade dunia.
Kenapa kita tidak meniru yang demikian?
Apakah Indonesia tidak bisa?
Sangat bisa dan sangat memungkinkan, jika kita serius dan menata semua sistem
dengan sangat baik. Sebab akan percuma jika Indonesia hanya dikenal sebagai
mayoritas berpenduduk terbesar di dunia, tapi tidak menghasilkan orang-orang
yang berprestasi di tingkat dunia. Mari kita menjawabnya.
Theme Song :Bright AS s The Sun
Penulis adalah penggiat sosial
dan pelayan kemasyarakatan di pedesaan dalam wadah PESAT.