Senin, 21 Agustus 2017

Mari Berjiwa Besar Bangsaku

Derek Redmond pada Ajang Olimpiade 1992

Memang nyesek sekali didada jikalau kita dipermainkan oleh orang lain. Apalagi jika itu suatu bangsa dan Negara, tetanggaan lagi. Meskipun dalam pengakuan mereka, bahwa itu adalah sebuah kesilapan panitia, yang sama sekali tidak crosscheck data dan kebenarannya. Padahal zaman sekarang sudahlah amat canggih, jikalau tidak tahu bendera suatu Negara sebenarnya-kan tinggal buka internet cari di google. Gampang dan mudah untuk mencari info, tapi seakan-akan dibuat dulu sensasi. Jika diam dan tidak bereaksi berarti sah-sah saja.

Negara tetangga kita yang satu ini memang agak lain dari negara-negara tetangga yang lain. Unik dan menarik jika kita melihat sejarah atau informasi-informasi yang dulu. Semuanya terekam jelas di berbagai laman-laman berita atau opini yang keberadaannya bisa kita akses semuanya.

Apalagi ketika berbicara tentang event olahraga, seperti Sea Games yang penyelenggaraannya masih berlangsung sampai saat ini. Negara Malaysia kok tega-teganya berbuat kesalahan fatal. Membalikkan simbol bendera kenegaraan kita di buku panduan acara perhelatan tersebut.

Bersyukur kementerian olahraganya sudah meminta maaf akan situasi dan kesalahan yang telah mereka lakukan. Dan proses permintaan maafnya sudah disampaikan secara resmi kepada Menpora kita, Bapak Nahrawi. Menyampaikan rasa penyesalan mereka secara mendalam dan akan menarik semua buku panduan yang sudah dicetak tersebut dengan buku panduan baru yang benar.

Tak cukup memang sampai disitu, ternyata hari ini juga, Senin, 21 Agustus, para atlet takraw kita juga merasa dicurangi oleh penyelenggara. Dalam hal ini, wasit yang berasal dari Singapura, Muhammad Radi, yang dinilai banyak merugikan atlet takraw kita. Cenderung wasit ini memihak kepada Malaysia. Dan akhirnya tim takraw kita sepakat untuk walk out, meninggalkan pertandingan dan mendapatkan perunggu pada nomor pertandingan ini.

Tim sepak bola kita juga, Evan Dimas dan kawan-kawan dalam perjuangannya melawan Timor Leste. Sarat dengan banyak pelanggaran dan permainan keras yang ditampilkan oleh para pemain Timor Leste. Dan akhirnya timnas akan bertanding melawan Vietnam dengan skuad minus Evan. Diakibatkan akumulasi kartu kuning yang diberikan oleh wasit kepada Evan Dimas.

Melihat pertandingan lalu, Pelatih Luis Milla sudah pernah mencoba timnas kita ketika melawan Malaysia di ajang Piala AFF U-22, 19 Juli lalu, membuat formasi timnas kita tanpa Evan Dimas, ternyata hasilnya sangat mengecewakan. Dikalahkan dengan skor telak 3-0 tanpa ada perlawanan yang berarti.

Komposisi timnas kita, memang perlu seorang playmaker atau seorang yang mampu menginisiator sekaligus creator permainan dalam laga-laga yang akan dihadapi. Dan tugas pelatih adalah mencoba menemukan dan melatih para pemain yang punya kapasitas seperti itu. Butuh banyak Evan Dimas-Evan Dimas yang harus diciptakan, sehingga ketika sudah mengalami kondisi seperti ini, diharapkan permainan timnas kita tidak anjlok dan akhirnya menyerah.

Perlu mental baja dan tidak mengenal kata menyerah sampai pluit tanda penghabisan permainan dinyalakan oleh wasit. Berharap tim kita bisa berjuang terus dan maju menampilkan permainan terbaiknya. Menampilkan hasil latihan yang sudah terus dilatih dimasa lalu.

Apa pembelajaran yang boleh kita ambil dalam event Sea Games ini. Yang kebetulan Malaysia sebagai penyelenggara dari event ini.

Menyikapi masalah bendera terbalik. Memang diperlukan kritik dan kecaman untuk bisa menekan perbuatan-perbuatan abai yang sudah dilakukan oleh Malaysia. Tapi sebaiknya kita tidak perlu terlalu over dalam menghadapi dan menyikapi kasus-kasus ini. Malahan kalau bisa, kita tunjukkan bahwa bangsa kita adalah bangsa yang beradab, bangsa yang menjungjung kehormatan dan sportivitas dalam ajang-ajang tersebut. Ketika Negara Malaysia sudah meminta maaf, marilah kita memaafkan.

Jangan mau kita terperdaya oleh perbuatan intrik atau curang yang mereka lakukan. Sehingga kita terus terfokus hanya kepada masalah bendera, dan mengabaikan support yang seharusnya kita berikan kepada para atlet yang terus berjuang disana. Seperti yang juga sudah disampaikan oleh Bapak Presiden kita, Bapak Jokowi, untuk tidak terlalu membesar-besarkan masalah bendera terbalik. Mari kita menunggu ucapan maaf mereka secara resmi ke Negara kita.    

Hal ini sebenarnya juga menjadi sebuah pembelajaran bagi kita, untuk bisa detail terhadap event-event apapun yang akan kita selenggarakan. Jangan pernah merasa abai akan suatu hal meskipun itu kelihatannya kecil. Ketika dipercaya sebagai tuan rumah, marilah kita menjadi tuan rumah yang baik bagi teman-teman Negara-negara yang lain.

Meskipun para atlet kita sepertinya dilakukan secara tidak adil selama mereka berada disana, bahkan diberitakan bahwa mereka kehabisan stok makan malam, bukan berarti kita lantas membalaskan perbuatan mereka di ajang Asian Games yang tahun depan, kita akan menjadi tuan rumahnya. Sekali lagi, pesannya mari kita memiliki jiwa besar. Sebab bangsa kita ini, terlalu kecil jika hanya memikirkan upaya  balas dendam. Kultur balas dendam bukanlah kultur kebudayaan kita.

Juga memang sangat disayangkan kepada para atlet takraw kita. Memilih untuk tidak menyelesaikan pertandingan. Meskipun merasa dicurangi, bukan berarti, kita langsung merasa down dan seakan-akan tidak dihargai. Tetapi, ketika kita sudah memberikan permainan terbaik, securang apapun wasit dalam membela permainan lawan, mari kita menunjukkan bahwa kita bukan bangsa tipikal yang lemah.

Seperti yang pernah dilakukan oleh Derek Anthony Redmond, pada ajang Olimpiade tahun 1992. Pada waktu itu, dia harus mengalami cedera Hamstring (cedera yang menimpa tiga kelompok otot yang ada di paha belakang). Dia tidak menghentikan laju larinya ditengah lintasan, melainkan terus maju hingga mencapai Garis Finish dan berada di urutan terakhir. Meskipun tidak mendapatkan juara, sekalipun dia sering mendapatkan emas dari lomba lari tersebut pada masa-masa lalu, pada akhirnya dia mendapatkan Standing Ovation  dari seluruh penonton yang menyaksikan perjuangannya.

Sekali lagi pesannya kepada para atlet yang sedang berjuang di negeri orang, mari tunjukkan bahwa kita bisa, bahwa kita adalah bangsa yang bermental juara, yang pantang menyerah. Meskipun kalah, ketika sudah memberikan perjuangan yang terbaik, kami, segenap rakyat Indonesia tetap dan akan terus mendukungmu.

Juga kepada seluruh elemen-elemen bangsa, untuk tidak terlalu mudah terpancing akan isu-isu yang bisa memecahbelah bangsa kita dengan bangsa lain. Mari kita menunjukkan kebesaran jiwa bangsa kita dihadapan bangsa-bangsa lain. Sebab bangsa kita ini bukanlah bangsa yang berjiwa kerdil, melainkan bangsa yang berjiwa besar. Mampu memaafkan kesalahan orang lain dan tidak terus tergerus untuk membalas kesalahan yang mungkin sudah mereka lakukan kepada bangsa kita.

Minggu, 20 Agustus 2017

Akankah Anis Mampu Merangkul FPI

Anies pada Milad FPI

Sebentar lagi gubernur baru Jakarta akan dilantik di Bulan Oktober ini. Ada begitu banyak pernyataan-pernyataan yang begitu kontropersial yang beliau sampaikan. Mulai dari janji rumah dengan DP 0 persen, KJP Plus, KJP Lansia, hingga program untuk menolong para jomblo, mau coba digalakkan oleh calon pemimpin baru ini. Kemudian upaya dalam merangkul semua pihak, apalagi yang kita tahu selama ini adalah organisasi yang begitu kontroversial separti FPI, juga mau dirangkul mereka.

Seakan-akan semua janji-janji kampanye yang beliau sampaikan, seakan-akan semuanya akan menjadi sirna. Lain dulu lain pula sekarang. Dulu mengenai janji DP rumah 0% untuk semua kalangan Jakarta sekarang malah untuk kalangan yang berpenghasilan 7 juta keatas. Pengaturan KJP yang sudah sangat bagus oleh Gubernur terdahulu, mereka mau melakukan suatu hal yang beda. Memfasilitasi semua anak-anak yang ada di usia sekolah, meskipun tidak lagi sekolah, untuk mendapatkan KJP tersebut.  Bahkan pencairan dengan uang tunai melalui KJP tersebut, juga akan dibolehkan. Tidak tahu bagaimana nanti teknis pelaksanaan yang beliau akan lakukan. Tapi kita akan bisa melihat setiap perwujudan janji-janji tersebut setelah nantinya beliau-beliau tersebut dilantik.

Anis harus merangkul FPI pada masa kepemimpinannya nanti. Sebab sudah banyak yang FPI lakukan buat Anis pada masa-masa pemilihan dahulu. FPI rela menjadi tameng bagi Anis, dan rela melakukan apapun asalkan Anis bisa menang. Mulai memanfaatkan blunder Pak Ahok, tentang surat Almaidah dulu, hingga melakukan aksi besar-besaran supaya Pak Ahok dipenjara, dan ternyata mereka memang berhasil. Bukan hanya kalah telak dalam pemilihan kemarin, Pak Ahok juga akhirnya dipidanakan selama dua tahun dipenjara.

Untuk Pak Ahok, FPI menyatakan haram hukumnya untuk memilih pemimpin yang bukan berasal dari kalangan mereka, sedang untuk Pak Tanu, wajib hukumnya untuk mendukung, sebab menurut mereka beliau adalah pemimpin yang  amanah. Ada dualisme pernyataan. Yang satu tidak sedang yang satu lagi boleh. Telisik demi telisik, ternyata si Bapak Tanu ini mampu memberikan apa yang diminta oleh si ormas ini.

Melihat sepak terjang FPI

FPI dalam perjuangan mereka, selalu menggunakan cara-cara kekerasan dan pemaksaan. Bahkan mereka adalah termasuk orang-orang yang radikal. Dalam artian selalu ekstrim dalam pengimplementasian dari ajaran yang sudah mereka dapatkan.

Apalagi pergerakan perjuangan mereka tidak terlepas dari pemimpinnya sekarang yakni Sang Habib Rizieq Shihab. Yang sekarang tidak tahu dimana keberadaannya, dan sudah menjadi tersangka. Tapi polisi belum begitu berani memutuskan untuk menahan sebab posisinya, katanya, sedang menjalankan ibadah di tanah suci. Polisi juga diam-diam dalam menginterogasi sang Habib di Arab Saudi. Kenapa yah, kepolisian Negara kita harus merahasiakan kepergian mereka kesana. Dan tidak transparan dalam menangasi kasus yang sedang menjerat pemimpin FPI ini.

Yang pasti, aku masih percaya atas semua tindakan kepolisian kita. Mereka pasti punya alasan tersendiri untuk tidak mempublikasikan setiap tindakan-tindakan yang sudah mereka kerjakan untuk bisa mengusut secara tuntas semua kasus-kasus yang sedang menimpa Habib Rizieq.

Kembali ke Bapak Anies. Bapak Anies akan berusaha membuat FPI bisa diterima oleh masyarakat Indonesia, terkhusus di Jakarta. Hal itu disampaikannya ketika menghadiri MIlad FPI baru-baru ini.
Dalam sambutannya, Anies berharap agar FPI mampu merawat kebhinnekaan di Indonesia. Kehadirannya bukan mengancam keberagaman yang ada. Seperti pernyataannya berikut,: “ Harus hadir bukan mengancam, harus hadir justru merawat kebhinnekaan. Mari tunjukkan ke dunia bahwa 19 tahun perlanan kemarin dan tahun-tahun ke depan adalah tahun-tahun di mana masyarakat Indonesia merasakan kehadiran FPI sebagai penjaga kebhinnekaan.

Anies juga menyatakan bahwa persatuan bangsa tidak akan tercapai jika ketimpangan sosial masih terjadi. Kemudian dia meminta dan mengajak FPI untuk tidak berhenti berjuang bersamanya, membawa keadilan yang diklaim kerap dilupakan pemerintah selama ini.

“Kita sering bicarakan persatuan tapi melewatkan keadilan. Padahal keadilan itulah pondasi persatuan. Insya Allah PFI siap menghadirkan keadilan social di Indonesia,”ujarnya.

Dan memang sesuai janjinya pada masa-masa kampanye dulu, bahwa pemerintah akan mendukung secara finansial seluruh ormas-ormas yang ada di Jakarta. Termasuk FPI akan mendapatkan sejumlah sokongan dana yang tentunya akan membuat ormas ini semakin sumringah.

Pertanyaannya yang kemudian muncul, akankah Bapak Anies mampu merangkul ormas-ormas yang memang kecenderungannya sehari-hari adalah anarkis dalam perjuangannya. Atau cenderung tidak akan melakukan apa-apa, seandainya ormas-ormas tersebut mulai membuat ulah lagi. Adanya pembiaran dari pemerintah kita, karena tidak adanya tindakan tegas atas setiap perbuatan-perbuatan tercela mereka.

Ada dua jenis rangkulan yang bisa kita prediksikan yang akan dilakukan oleh Bapak Gubernur baru kita ini. Merangkul untuk membesarkan warga Jakarta seperti dalam pernyataannya ketika menghadiri acara Milad ke-19 FPI, atau merangkul untuk membesarkan ormas tersebut untuk kepentingan ormasnya semata.

Memang yang diharapkan kedepannya adalah pemimpin yang mampu merangkul semua pihak, dan bukannya hanya merangkul sebagian atau masyarakat yang mendukungnya saja. Termasuk organisasi-organisasi yang cenderung anarkis seperti FPI ini. Sehingga kedepannya bangsa kita yang beraneka ragam budaya dan etnisnya bisa saling bahu membahu untuk memajukan bersama Negara kesatuan kita, Indonesia.


Tetapi, jika ormas tersebut hanyalah sebuah topeng untuk melegalkan usahanya dalam mengubah dasar Negara kita, yaitu Pancasila, hendaknyalah pemerintah kita semakin awas dan waspada. Pemerintah jangan ragu dan setengah-setengah dalam menghadapi sikap-sikap yang membangkang terhadap UUD 1945, Pancasila maupun kedaulatan bangsa kita, NKRI. Sebab NKRI adalah harga mati. 

Jumat, 18 Agustus 2017

Telatnya Ekonomi Kerakyatan Bernama Koperasi

sumber gambar; forum negarawan muda

Tanggal 18 Agustus merupakan hari ulang tahun konstitusi dari negara kita. Setelah memproklamasikan kemerdekaan kita pada tanggal 17 Agustus 2017, para Founding Father kita dahulu, langsung menetapkan secara resmi konstitusi dari negara kita tercinta ini. Yang mana pembahasannya telah lebih dulu dilakukan 8-9 hari sebelum kemerdekaan di tahun 1945.

Ada satu hal yang menarik dibahas pada hari konstitusi negara kita. Bapak Zulkifli Hasan sebagai Ketua MPR RI 2014-2019, menyampaikan tentang ekonomi kerakyatan. Beliau menegaskan bahwa ternyata 40 persen perekonomian bangsa kita dikuasai oleh satu persen penduduk Indonesia. Itu berarti konsep ekonomi kerakyatan yang sudah lama digaungkan oleh Bapak Moh. Hatta dengan sistem koperasinya telah gagal.

Undang-undang yang membahas tentang koperasipun tampaknya mengalami banyak stagnasi. Pemerintah seakan-akan setengah hati untuk membahas dan mengimplementasikan undang-undang koperasi tersebut. Sempat dibentuk UU Koperasi nomor 17 pada tahun 2012, tapi pada akhirnya dibatalkan oleh Mahkamah Konstitusi.

Untuk menghindari kekosongan hukum, Mahkamah menyatakan berlaku kembali UU Perkoperasian 1992. ”Undang-Undang No. 25 Tahun 1992 tentang Perkoperasian berlaku untuk sementara waktu sampai dengan terbentuknya UU yang baru,” kata Ketua Majelis Hakim Hamdan Zoelva saat membacakan putusan bernomor 28/PUU-XI/2013 di ruang sidang MK, Rabu (28/5).

Mahkamah menilai bahwa undang-undang koperasi no 17 tahun 2012, telah mengalami reduksi dan kehilangan esensi dari roh koperasi itu sendiri. Dan tidak sesuai dengan amanat UU pasal 33, yang menekankan pentingnya asas kekeluargaan, sukarela dan terbuka. Terjadi pergeseran yang seharusnya mengutamakan modal sosial (adanya asas kekeluargaan, dan bersifat sukarela dan terbuka) menjadi lebih mengutamakan skema permodalan materiil dan finansial yang menjadi modal usaha bersama dalam koperasi tersebut.

Sejak Bapak Moh. Hatta yang mencetuskan bahwa ekonomi kebangsaan kita seharusnya berlandaskan koperasi, sekarang semuanya seakan-akan terlambat untuk direalisasikan. Bangsa kita yang tidak memilih sistem perekonomian kapitalisme maupun komunisme, dan cenderung lebih memilih  ekonomi kerakyatan melalui koperasi. Sebab para pendiri bangsa kita tahu, bahwa sistem kapitalisme maupun komunisme, tidak cocok dengan jiwa bangsa kita.

Seperti kata kata Fadli Zon dalam pemaparan disertasinya yang berjudul Pemikiran Ekonomi Kerakyatan Mohammad Hatta (1926-1959), menyatakan,  “Memutar kembali perekonomian, kapitalisme, sosialisme, dan komunisme tidak akan bisa menolong rakyat Indonesia. Hanya pemikiran yang digali dari rakyat Indonesia sendirilah yang bisa menolong. Pemikiran Mohammad Hatta sangat terpatri dalam hati rakyat Indonesia,”. Semua peristiwa besar di dunia mendorong Hatta melahirkan sebuah pemikiran bahwa bukan “isme-isme” bangsa Eropa yang akan menolong Indonesia, tapi pemikiran atau “isme” yang digali dari kehibupan dan kebudayaan Indonesia sendiri yang bisa mengangkat ekonomi Indonesia.  Sungguh suatu pemikiran yang sangat matang dan seharusnya bisa digali lebih lagi oleh pemerintah kita pada saat ini.

Yang terjadi sekarang adalah bahwa semakin maraknya jumlah toko modern di Indonesia itu dan bahkan sudah pada level mengkhawatirkan. Sebab, berdasarkan data IKAPPI (Ikatan Pedagang Pasar Tradisional) bahwa basis pasar tradisional hanya sekitar 12.000 pasar tidak sebanding dengan jumlah gerai ritel modern yang mencapai angka 36.000 gerai. Dikatakan lagi bahwa keberadaan supermarket dan hypermarket telah memengaruhi eksistensi pasar tradisional. Banyak pasar tradisional mulai sepi pembeli karena konsumen beralih ke pasar-pasar modern. Supermarket dan pasar modern secara perlahan mengambil alih peran pasar tradisonal di masyarakat.

Pemerintah seakan-akan memiliki sikap dualisme dalam sistem perekonomian bangsa kita. Yang seharusnya bisa mencerminkan sistem perekonomian kerakyatan melalui koperasi, tapi implementasi yang dikerjakan adalah sistem perekonomian kapital. Dan kegagalan itu juga diakibatkan karena belum mantapnya pemerintah kita dalam membuat undang-undang koperasi yang berlandaskan kepada UUD 1945 maupun Pancasila.  Sudah dibahas ditahun 2012, tapi akhirnya gagal lagi dan kembali lagi ke sistem UU Perkoperasian Tahun 1992.

Berharap melalui penekanan yang sudah dilaporkan oleh Bapak Zulkifi Hasan dalam memperingati Hari Konstitusi Negara kita, maka pemerintah bisa semakin serius untuk menggarap tentang perekonomian kerakyatan. Bapak Jusuf Kalla juga senada dan mendukung apa yang dinyatakan oleh Bapak Ketua MPR kita pada acara peringatan Hari Konstitusi tersebut.

Melalui moment peringatan Hari Konstitusi ini, pemerintah kita bisa segera mengejar mengesahkan UU Koperasi yang terbaru yang bisa mengejewantahkan jiwa Pancasila kedalamnya. Sehingga akhirnya kita bisa mendorong perekonomian bangsa ini semakin lebih baik lagi.

Dampak Proses Kekiniannya

Seharusnya ketika ada UU Koperasi yang betul-betul mendorong perekonomian kerakyatan, maka kita bisa membuat usaha-usaha yang baru. Sebagai generasi millenial yang sedang produktif-produktifnya disaat  masa sekarang ini, seharusnya tidak lagi menggantungkan diri kepada usaha mencari kerja semata.  Melainkan para generasi Millenial bisa menciptakan lapangan pekerjaan sendiri.

Bagaimana yah wujudnya jika perusahaan-perusahaan kedepannya, bukan lagi dikuasai oleh satu atau dua orang yang menguasainya. Melainkan perusahaan-perusahaan besar itu berdiri karena sistem perkoperasian yang betul-betul terealisasi. Tentunya ekonomi kerakyatan sebagaimana yang sudah diamanatkan dalam UUD 1945 pasal 33, akan bisa terwujud pula.

Ketika aku berencana membuat suatu usaha, dan diperhadapkan dengan sistem Usaha Perkoperasian yang sudah diundang-undangkan, tentunya beban akan merealisasikan suatu peluang usaha baru tersebut tidak akan serumit ketika sendirian saja. Mempresentasikan peluang usaha baru tersebut kepada koperasi yang ada, dan akhirnya Pengurus Koperasi, bisa memutuskan dan memberikan masukan dan bahkan melibatkan beberapa anggota koperasi yang lain, yang punya minat yang sama, maka bisa dipastikan peluang usaha tersebut akan bisa terwujud dengan cepat.

Kelebihannya adalah tidak terbentur kepada permodalan sebab dimodali oleh koperasi. Proses perwujudan peluang usaha baru tersebut bisa dilakkan secara bersama-sama. Tidak stress sendirian, melainkan beban untuk merealisasikan usaha baru tersebut bisa dipikul bersama-sama. Bahkan mendapatkan tenaga-tenaga ahli yang tentunya bisa dikoneksikan oleh koperasi kita kepada koperasi lain yang mungkin sudah berhasil dibidang usaha tersebut.

Pemasaran dari produk usaha kita, juga tentunya bukan lagi menjadi masalah, sebab sudah ada yang akan menampung dari produk usahat tersebut. Baik antara koperasi dan seluruh masyarakat yang bernaung dalam koperasi tersebut yang bisa menikmati produk yang dihasilkan. Juga tentunya antara satu koperasi dengan koperasi lain yang ada didaerah lainnya. Sebab sudah terjalinnya kerjasama yang bak dan konektivitas yang baik antara satu koperasi dan koperasi yang lainnya yang ada di Indonesia ini.

Melibatkan pasar-pasar tradisional yang sudah dimodernkan, karena sudah memiliki tempat yang baik dan nyaman. Adanya fasilitas-fasilitas yang tentunya baik dan sangat menunjang keefektifan dari pengunjung maupun konsemen dalam mengakses maupun berbelanja di pasar tradisional. Koperasi dan pasar tradisional saling bersinergi dan saling mendukung, maka niscaya ekonomi kerakyatan yang sudah diimpikan oleh para Founding Father kita, tentunya akan terealisasi.

Pemerintah kita sekarang, memang sudah sangat memperhatikan pasar tradisional, dan membangun fasilitas yang juga baik, tapi akan menjadi menjadi sia-sia jika tidak adanya pembatasan kepada minimarket-minimarket, maupun hypermarket yang semakin menjamur dimana-mana. Berharap pemerintah, bukan hanya di pusat, di tingkat daerah-daerah juga tidak tergiur akan keuntungan semata yang ditawarkan oleh kaum kapital (pemilik modal) melalui minimarket maupun hypermarket. Sehingga bisa menumbuhkan geliat perekonomian di tingkat pasar-pasar tradisional.

Dan akhirnya, koperasi melalui anggota-anggotanya, juga diberikan kesempatan yang seluas-luasnya baik dalam merencanakan, memulai, mengelola dan bahkan mengevaluasi ‘usaha bersama’ tersebut. Sehingga  menghasilkan suatu produk atau jasa yang berkualitas tinggi.  Semuanya itu bisa dilakukan jika adanya payung hukum yang jelas dalam mengatur semua itu. Juga undang-undang tersebut bersifat mudah diaplikasikan secara langsung dan tidak bertentangan dengan UUD 1945 maupun pancasila.  Maka pada akhirnya kita bisa mewujudkan dan merealisasikan Ekonomi Kerakyatan yang berkeadilan dan memakmurkan seluruh warga negara Indonesia.  
  
Ketika adanya akses usaha permodalan yang tentunya dipermudah, dan hal itu bisa didapatkan melalui sistem koperasi. Tentunya kita bisa mewujudkan usaha bersama dan untuk bersama. Sebab didalam koperasi tersebut ada rasa kebersamaan yang diciptakan dan bukan sikap individualisme.

Penulis adalah pemerhati Sosial dan Pengajar di STT Terpadu Pesat Sibolangit. 

Kamis, 17 Agustus 2017

Ucapan Doa Bagi Bangsaku


Ya Tuhan, janganlah menghukum bangsaku dalam murka-Mu
Dan janganlah menghajar Bangsaku dalam kepanasan amarah-Mu
Kasihanilah bangsaku, Tuhan, sebab bangsaku merana;
Sembuhkanlah bangsaku, Tuhan, sebab tulang-tulang bangsaku gemetar
Dan jiwa bangsaku sangat terkejut; tetapi Engkau, Tuhan, berapa lama lagi?

Kembalilah Tuhan, luputkanlah jiwa bangsaku
Selamatkanlah bangsaku oleh karena kasih setia-Mu
Sebab  di dalam maut tidaklah orang ingat kepada-Mu
Siapakah akan bersyukur kepada-Mu di dalam dunia orang mati?
Lesu bangsaku karena suka mengeluh

Menjauhlah dari kami, kamu sekalian yang melakukan kejahatan,
Sebab Tuhan telah mendengar tangisan bangsaku
Tuhan telah mendengar permohonan bangsaku
Tuhan telah menerima doa bangsaku
Semua musuh bangsaku mendapat malu dan sangat terkejut
Mereka mundur dan mendapat malu dalam sekejam mata

Selamat Hari Ulang tahun kemerdekaan bagi bangsaku
Semoga semakin jaya dan berkibar
Di 72 tahun umurmu, kami siap mendukungmu
Menjalankan amanah dan setiap tanggung jawab yang kau berikan
Bukan dengan keluhan dan sikap pesimis
Melainkan dengan sikap kerja bersama,bersama bekerja
Untuk membangun bangsaku yang semakin maju


Sibolangit, 17 Agustus 2017

Aku, Anakku dalam Mengisi Kemerdekaan Ini


Ada banyak hal yang telah kulalui dalam mengisi kemerdekaan bangsa ini. Mulai dari banyaknya kegagalan maupun keberhasilan yang datang silih berganti. Menjejaki tahun ke-72 bagi bangsaku merupakan anugerah yang tidak bisa dinilai hanya dengan uang semata. Jika dibandingkan dengan diriku yang baru berusia kurang lebih 32 tahun selama itulah diriku telah merayakannya kemerdekaan bangsaku.

Di usia ini yang cukup dibilang matang dalam hal usia hendaknya bisa berbarengan dengan usia karya yang seharusnya dihasilkan. Sudah berapa banyak hal yang bisa keberikan bagi bangsa ini. Bisa dibilang aku hanya seorang pemula yang belum bisa berkontribusi banyak bagi bangsa ini.

Tepat ditahun ke-72 bangsaku, ada baiknya perlu catatan-catatan kecil yang bisa menghiasi dinding media sosialku. Sebagai upaya reflektif yang bisa dijejaki ditahun-tahun mendatang. Untuk bisa dinilai dan mencari sebuah pemaknaan tersendiri. Baik bagi diriku dan tentunya bagi anak-anakku. 

Tentunya melalui itu juga anak-anakku bisa belajar untuk bisa berbuat hal yang lebih baik lagi.
Dibanding dengan masaku, masa mereka sangatlah penting. Mereka tentunya akan masuk dalam generasi Alpha. Generasi yang akan bisa melihat dengan jelas dan tentunya berkarya di tahun emas bangsa kita. Di tahun 2045 tentunya menjadi tahun bagi mereka, dalam membangun dan menitipkan kembali bangsa ini untuk generasi-generasi di masa mendatang.

Di seratus tahun kemerdekaan bangsa kita, tentunya aku akan masuk dalam generasi uzur. Usiaku akan mencapai 60 tahun pas. Dan ditahun itu tentunya anak-anakku akan berusia 29 dan 30 tahun tentunya. Usia yang mungkin mereka sudah berkeluaga, dan tentunya mereka akan tiba pada masa-masa puncak karir mereka yang luar biasa. Berharap dimasa itu, aku sendiri bisa melihat dan merasakan makna kemerdekaan itu lagi bagi bangsa ini, dimasa seratus tahun kemerdekaan bangsaku. Berharap Tuhan Yesus masih menganugerahkan hidup yang berkekuatan sehingga masih bisa terus  mengisi hari-hari kemerdekaan bangsaku sampai di usia emas bangsa ku ini.

Bersyukur Tuhan menganugerahkan dan mempercayakan sepasang anak, putra dan putri. Berharap digenerasi mereka, bisa membawa bangsa ini dipuncak kejayaan yang begitu luar biasa. Dan dimasa mereka tentunya akan melihat dan menyaksikan resolusinya Bapak Jokowi yang akan dibuka di Merauke. Di tahun 2085 tentunya, usia mereka tentunya juga sudah uzur, mencapai 70 tahun. Tentunya aku sudah di alam lain bersama Tuhan yang kupercaya.

Ternyata waktu-waktu ini amatlah singkat. Terus bergulir dari satu masa ke masa yang lain. Dari satu generasi ke generasi yang lain. Dari satu hal-ke hal yang lain. Belajar untuk bisa terus menghargai waktu-waktu dimasa ini. Belajar terus untuk bisa mengisi waktu-waktu yang berharga dimasa kini. Jangan sampai ketika sudah tua, ternyata masih banyak hal yang belum kita capai dan raih. Jangan sampai rasa penyeselan yang akan terus keluar dari mulut dan bibir kita. Dan juga hati dan pikiran kita yang terus merongrong kita, kenapa bukan sejak awal “hal itu” aku lakukan.

Tapak Tilas 2017

Sejak Agustus tahun lalu hingga Agustus tahun ini, ada begitu banyak aktivitas yang berbeda kulakukan. Masih ingat di tahun lalu, berdiri dan berbaris dengan rekan-rekan guru SD Masehi di Lapangan Pramuka Sibolangit. Menyaksikan detik-detik kemerdekaan diucapkan oleh Bapak Camat Sibolangit tercinta. Berkumpul bersama para murid dan menyaksikan aksi mereka dalam Marching Band Sekolah di ajang 17-an yang digelar setiap tahunnya. Ikut sejumlah lomba yang diselenggarakan oleh pemda setempat. Meskipun tidak juara tapi ada sukacita untuk bisa menyemangati mereka dalam berjuang habis-habisan.

Menuliskan sejumlah hal yang terjadi ditahun 2016, yang sedang hangat-hangatnya terjadi. Tepat pada masa itu aku menuliskan tentang kasus Arcandra dan Glory. Bapak Arcandra yang kini masih menjadi Wamen Kementrian ESDM bersama dengan Bapak Jonan, yang awalnya beliau didaulat untuk menjadi menteri secara langsung. Kemudian terseret kasus dwi kewarganegaraan. Kasus Glory yang tidak bisa menjadi Pasukan Pengibar Bendera di Jakarta, juga yang karena masalah kewarganegaraan, tapi akhirnya di masa penurunan bendera, akhirnya diperbolehkan untuk menjadi petugasnya.

Ditahun ini, aku tidak bergabung lagi dengan Sekolah Masehi. Tidak mengajar mereka lagi secara langsung dalam dunia pendidikan formal. Hanya bisa melihat perkembangan mereka dari jauh dan mendoakan supaya mereka tetap menjadi anak-anak yang berkarakter dan pintar.

Ditahun ini mencoba sesuatu yang beda. Disamping kegiatan rutinitasku dalam wadah sekarang, mencoba untuk memasuki dunia tulis menulis. Mencoba mewarnai dunia literasi bangsa ini dengan berbagai macam tulisan yang boleh aku torehkan dihampir setiap harinya.

Dan hasilnya, sejak Juni lalu, mencoba memasukkan karyaku di sejumlah media yang ada. Baik itu media online maupun media cetak. Mulai dari menuliskan opini di Harian Cetak, hingga ke majalah bulanan. Bersyukur karyaku bisa diterima dibeberapa media cetak tersebut. Harian Media Analisa telah menerbitkan sejumlah artikelku, tepatnya di tanggal 15 Juli, kemudian ditanggal 3 Agustus dan tanggal 15 Agustus. Meskipun dengan banyak kritikan, melalui hal itu, aku belajar untuk bisa menaati semua aturan-aturan media yang ada.

Tepat di bulan Agustus ini juga karyaku dimuat di majalah nasional Bahana. Sebagai langkah awal untuk bisa memberikan sejumlah inpirasi lainnya yang tentunya bisa menjadi berkat bagi bangsa ini. Dan sejak dua bulan yang lalu, aku juga mulai menyasar 3 media online lainnya. Mulai dari Seword, Geotimes dan Qureta. Di Kompasiana juga, yang sudah hampir 1 tahun lebih aku berkontribusi. Kalau kulihat, ternyata baru beberapa saja artikel yang bisa kuhasilkan. Baru berkisar mencapai kurang lebih 50-an artikel yang bisa kupublish-kan.  Yang dulu awalnya di kompasiana, hanya sebulan sekali, kemudian di dua bulan terakhir ini, aku mempercepat langkahku untuk bisa menghasilkan karya. Menjadi satu artikel di setiap harinya.

Berharap dan berusaha untuk bisa menaati semua komitmen itu. Tentunya tak lupa juga selalu belajar dan belajar. Melihat karya teman-teman yang tentunya sudah lebih dulu eksis  untuk berkarya dalam dunia literasi. Belajar mengapa artikel-artikel mereka, segera booming dan menjadi populer. Belajar untuk bisa melihat dan menilai mengapa mereka bisa memenangkan sejumlah lomba-lomba menuliskan artikel. Dan banyak belajar hal lainnya. Yang penting selalu berusaha, dan tidak pernah mengenal kata menyerah. Untuk bisa memberikan karya terbaik. Yang bisa menjadi sumber inpirasi bagi bangsa ini.

Ternyata, di 72 tahun Indonesia merdeka, dengan Slogan Bersama Bekerja, Bekerja Bersama, menjadi sebuah momentum dalam memajukan bangsa kita. Bersyukur buat Garuda muda yang sudah mempersembahkan hadiah yang manis bagi bangsa ini. Dengan mengalahkan Filipina 3-0 diajang Sea Games 2017 tepat dihari ini.

Juga diacara perayaan 72 tahun HUT RI, ternyata Bapak Jokowi memberikan suatu yang beda. Mengharuskan seluruh peserta yang hadir pada perayaan HUT RI tersebut di Istana,dengan mengenakan pakaian adat daerah masing-masing. Memberikan apresiasi kepada 10 orang pemenang kostum daerah terbaik dengan hadiah sepeda. Dan seluruh peserta yang mendapatkan juara, tentunya sangat senang dan antusias untuk menerima hadiah-hadiah tersebut.

Diperayaan HUT RI berikutnya, entah apa gebrakan yang akan dilakukan oleh Bapak tercinta kita ini. Semoga Bapak Jokowi bersama Bapak Jusuf Kalla tetap sehat dan kuat hingga menjelang akhir dari roda pemerintahan yang bapak pimpin. Dan ditahun 2019, Hasil dari seluruh Pembangunan yang sudah bapak lakukan bisa menjadi momentum dalam mencapai Indonesia sebagai negara maju, lebih maju dari seluruh negara-negara di Asia Tenggara, dan bahkan di Asia secara keseluruhan tentunya. Berharap Bapak juga bisa menahkodai Kapal Indonesia Raya ini, di periode mendatang 2019-2024. 

Senin, 14 Agustus 2017

Ketika Passion Kita Ada Di Lintas Gender


Didik Thowok


Tidak kebetulan diriku menonton art insight kemarin di Metro TV. Menampilkan seorang tokoh lintas gender. Dimana awalnya beliau ini adalah orang yang paling tidak saya sukai sewaktu masih kecil dulu. Tapi melihat karirnya di usiaku kini yang sudah semakin dewasa, ternyata aku baru mengerti jalan hidup yang telah dilaluinya.

Tulisan ini kubuat bukan berarti aku menjadi pendukung gerakan LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender). Melainkan hanya menjadi sebuah pemikiran saja, bahwa berkarya dibidang selain gender kita, adalah sah-sah saja untuk dikerjakan dan ditekuni.

Didik Nini Thowok adalah seorang penari dan koreografer Indonesia. Menari telah menjadi bagian dalam hidupnya dan bahkan menjadi nafas hidup hidupnya sendiri. Artinya kalau sudah ditaraf menjadi nafas berarti tingkatannya bukan lagi suatu keharusan melainkan suatu tindakan yang otomatis dikerjakannya. Itu sama artinya ketika dia berhenti bernafas, dia akan mati. Begitu juga ketika dia berhenti menari, tentunya dia juga akan mati.

Melihat sekilas biografi beliau, nama aslinya adalah Didik Hadiprayitno. Ternyata dia keturunan Tionghoa, dengan memiliki nama lahir Kwee Tjoen Lian. Lahir di Temanggung, 13 November 1954. Berarti sekarang umurnya 63 tahun. Memulai karirnya di tahun 1971, dan menghasilkan karya tari ciptaannya sendiri, yakni “Tari Persembahan”, gabungan antara tarian Bali dan Jawa.

Untuk bisa memperdalam ilmu tarinya, dia belajar di sebuah kampus di Yogyakarta, dan mendapatkan gelar SST (Sarjana Seni Tari). Kemudian dia mengasah ilmu  tariannya dengan berguru langsung ke sang maestro tarian. Mulai dari tarian Bali, tarian Sunda, tarian Jawa Klasik, hingga ke Jepang, tari klasik Noh (Hagoromo), bahkan ke Spanyol dengan tarian Flamenco.

Mengulik sekilas masa kecilnya-pergulakan konflik Batin
Ternyata sewaktu dia masih kecil, ia lebih menyukai permainan perempuan dibanding dengan permainan laki-laki. Sehingga ia cenderung menjadi seperti seorang perempuan. Permainan dimasa kecil yang sering dimainkan bersama teman-teman perempuan yang lain, adalah bermain pasar-pasaran (berjualan), masak-masakan, dan ibu-ibuan.

Aku sendiri juga pernah memiliki kasus seperti Bapak Didik di masa kecil. Lebih sering bermain dan bergaul dengan perempuan-perempuan, dan memainkan permainan mereka juga. Satu permainan yang tak pernah kulupa adalah permainan bepe-bepean. Semacam permainan keluarga-keluargaan yang terbuat dari kertas. Ada karakter Bapak, Ibu, anak-anak dan dilengkapi dengan baju-bajunya. Jadi mencoba mengekspresikan peran-peran tokoh tersebut, bermain rumah-rumahan. Mulai dari aktivitas bangun tidur, pergi ke kantor atau ke pasar, pulang ke rumah, bermain dengan anak-anak, makan-minum hingga akhirnya tidur di malam harinya.

Tapi aku bersyukur, tidak terlibat lebih jauh lagi dengan permainan seperti itu. Sebab ternyata, aku lebih menyukai aktivitas anak laki-laki. Pergi berlari-lari kesana-sini, suka jahilin orang, dan bergulat sana-sini dengan teman laki-laki yang sebaya.

Masa anak-anak adalah masa banyak belajar untuk mencoba menemukan jati diri kita yang sebenarnya. Kutemukan beberapa fakta, bahwa ada temanku yang laki-laki, ternyata pada akhirnya tidak bisa menghindari sifat kewanitaannya muncul. Sebab setiap hari selalu bergaul dengan yang namanya anak-anak perempuan dan melakukannya hingga bertahun-tahun. Dan akhirnya beranjak remaja dan dewasa, dia sudah terpola dengan sifat kebanci-bancian dan tidak bisa berubah lagi.

Jadi setiap orang punya potensi untuk mendapatkan sifat perubahan gender. Yang anak laki-laki pengen menjadi perempuan, demikian juga yang perempuan pengen menjadi anak laki-laki. Itu semua dipengaruhi oleh lingkungan kita sehari-hari. Juga ditambah dengan adanya dorongan kerelaan untuk terus melakukannya setiap hari, dan akhirnya tiba pada suatu titik akhir, bahwa dirinya yang sebenarnya adalah yang seperti ini, peran yang sering dimainkannya baik menjadi banci atau menjadi tomboy.

Mengalahkan Stigma yang Muncul dengan Prestasi

Masyarakat kita memang saat ini belum bisa menerima keberadaan mereka. Mereka yang merasa dirinya laki-laki tapi perempuan atau mereka yang merasa dirinya perempuan tapi laki-laki.  Bahkan masyarakat kita akan langsung memberikan stigma yang kurang baik disematkan ke orang-orang seperti itu.

Disamping Didik Nini Thowok, ternyata tokoh transgender Indonesia yang juga terkenal adalah Dorce. Tapi untuk kasus Dorce Gamalama, yang nama laki-lakinya adalah Dedi Yuliardi Ashadi, melakukan perubahan total jenis kelaminnya. Dan sekarang menjadi perempuan tulen yang juga berprestasi di dunia hiburan tanah air Indonesia.

Dia berhasil mengalahkan stigma negatif yang diberikan kepadanya dengan segudang prestasi yang ia torehkan dalam masa-masa hidupnya. Baik menjadi presenter, penyanyi, menjadi bintang film hingga memiliki program tersendiri dalam beberapa TV swasta yang kemunculannya di TV hampir setiap hari hingga beberapa tahun. Sempat mendapatkan rekor MURI dikarenakan peluncuran sembilan album sekaligus dalam waktu hanya lima bulan.

Kembali ke Bapak Didik, yang juga berhasil mengalahkan dan bahkan mematahkan stigma negatif yang disematkan masyarakat kepadanya. Menunjukkan segudang prestasi yang tak terbantahkan, bahkan sampai diminta show dibeberapa negara-negara di luar Indonesia untuk menampilkan kebudayaan dan kekayaan tarian dari tradisi Indonesia. Bapak Didik menjadi tokoh yang membawakan nama harum bagi bangsa kita.

Satu hal yang menjadi penilaian positif yang pantas kita sematkan kepada Bapak Didik jika dibandingkan dengan Ibu Dorce. Dengan profesinya sebagai penari, dan memang sudah menunjukkan sifat-sifat kewanitaannya sejak kecil, tapi dia tidak berniat untuk mengubah jati dirinya yang utama, yakni menjadi laki-laki.

Diakhir dari kisahnya yang diliput dalam Metro TV kemarin, bahwa dia adalah seorang Kristen yang sangat taat untuk beribadah. Sempat mengeluarkan air mata, apakah Tuhan akan berkenan kepadanya melalui pilihan hidup yang sudah ditorehkannya selama ini. Satu yang ia yakini, bahwa Tuhan akan mengangkat orang-orang yang bersungguh-sungguh hati kepadanya. Asal orang itu tetap taat dan setia, serta tekun untuk berjuang mewujudkan talenta-talenta yang telah ditaruh kepadanya.

Juga beberapa pelajaran berharga lainnya yang dikemukakannya di Metro TV kemarin dalam program Art Insight.Yang mungkin bisa kita petik dan menjadi perenungan tersendiri bagi kita.
Pertama, baginya, seorang penari itu harus bisa menjiwai setiap tarian yang ia bawakan. Sehingga ketika dilihat oleh penonton atau penikmat tarian, ada pesan yang boleh ditangkap dan dimaknai melalui ekspresi-ekspresi gerakan yang ditampilkan. Mencoba mengenali setiap karakter topeng-topeng yang akan dipakainya juga penting. Sebab menurutnya, bahwa topeng-topeng tersebut punya karakter sendiri-sendiri. Sehingga ketika sudah mengenali karakter dari masing-masing topeng tersebut, niscaya akan sendirinya bisa bergerak dan berinovasi untuk menampilkan tarian-tarian yang menginspirasi.

Kemudian jangan malu untuk terus berkarya dalam bidang passion yang sudah Tuhan taruh ke kita. Sekalipun itu sepertinya bertentangan dengan gender kita yang semula, tetaplah untuk bertahan dan menunjukkan segala potensi-potensi terdalam kita. Sebab awalnya memang akan digunjingi oleh masyarakat sekitar, tapi percayalah bahwa suatu ketika akan tiba momentnya orang-orang yang selama ini menentang kita, niscaya akan menjadi pendukung kita.

Ketika sudah mulai merasa bahwa passion kita ada di lintas gender, coba lakukan yang terbaik. Dengan belajar dari yang terbaik, latihan sungguh-sungguh, dan mempraktekkannya sehingga passion tersebut menjadi sebuah karya maestro yang tentunya bisa menginspirasi dunia dan khususnya Indonesia.

Dan satu lagi pesan terakhir, ketika sudah punya hal itu, jangan coba sekali-kali untuk mengubah diri dan status kita. Dari yang sebenarnya adalah laki-laki tapi menjadi perempuan, demikian juga sebaliknya. Tetap untuk mempertahankan jati diri kita. Sebab setiap orang punya potensi untuk menjadi transgender. Jadi berhati-hatilah.

Sabtu, 12 Agustus 2017

Tantangan Media Sosial dan Pembentukan Karakter Generasi Alpha



sumber gambar : taranatika yogyakarta


Anakku akan menjadi generasi Alpha, sebab dia lahir di tahun 2015 yang lalu. Setelah masaku yang disebut generasi Milenial atau generasi X, dan adekku yang lahir di tahun 1998 lalu adalah generasi Z, ternyata anakku akan masuk di generasi Alpha

Menurut Analisis sosial –cum demograf Mark McCrindle adalah orang pertama yang menyatakan nama generasi yang lahir di Abad 21 ini. Dengan menyebut mereka sebagai generasi Alpha. Dimana Generasi Alpha merupakan anak-anak dari Generasi Millenial, yang lahir dari tahun 2010. Menurut survei, bahwa sekitar 2,5 juta generasi Alpha lahir setiap minggunya. Dan diperkirakan pada tahun 2025 akan bengkak menjadi sekitar 2 milliar orang. Di tahun itu berarti mereka sudah menjadi remaja. Kalau anakku di tahun 2025 dipastikan sudah berumur sepuluh tahun, berada di kelas 4 SD tentunya.

 Generasi Alpha dinyatakan akan menjadi generasi yang paling terdidik karena kesempatan sekolah yang lebih banyak, akrab dengan teknologi, paling sejahtera. Alpha akan jadi generasi yang akan sangat bergantung pada teknologi, melebihi milinial dan Gen Z.

Media sosial tentunya juga akan semakin berkembang lagi. Bukan hanya tertinggalnya Friendster menjadi Facebook, media sosial seperti Instagram, Twitter, bahkan komunitas pesan dalam bentuk grup seperti Whatsaap,Line dan Telegram, juga semakin bervariasi. Kita (Generasi Baby Boomer, Gen X,Gen Z) semakin dimanjakan dengan penggunaan beberapa aplikasi tersebut. Dan pada saat ini, memang generasi Alpha belum bisa merasakan manfaat atau kegunaan dari teknologi media sosial tersebut.

Apa yang Harus Kita Lakukan Sebagai Orangtua 

Pola pendidikan dengan bermain bersama-sama dengan anakku, sudah sejak dini kulakukan kepada kedua anakku. Mengajarkannya berulang-ulang dengan mengenalkannya kepada Tuhan penciptanya, melalui nyanyian syukur setiap pagi dan doa selalu senantiasa kulakukan. Aku tidak mau hal-hal lain diluar pengenalannya akan Tuhan yang benar, yang masuk duluan ke alam bawah sadarnya. Biarlah melalui keceriaan setiap pagi, dan senang senantiasa, itu yang seharusnya bisa  mereka dapatkan selalu.

Meskipun hal tersebut, mendapatkan tantangan, karena beberapa permasalahan dalam berumahtangga juga tidak mungkin dielakkan. Dalam kehidupan berumahtangga tidak mungkin selalu berjalan mulus tanpa ada persoalan. Tapi kami sepakat, aku dan istri,  meskipun kami sedang konflik, berusaha untuk tidak menampilkannya dihadapan kedua anak kami.

Pengenalannya akan Gadget dan Media Sosial

Diriku, masih sangat menjaga yang namanya penggunaan Gadget untuk dimainkan oleh anakku. Tapi istriku, seakan-akan membolehkannya untuk memegang dan bahkan memainkan beberapa permainan didalam Gadget tersebut. Tapi akhirnya istriku lebih banyak mengalah kepadaku, untuk tidak segera memberikan alat tersebut. 

Ada perbedaan antara aku dan istriku ketika memegang gadget. Jika istriku yang memegang, pastinya anakku yang perempuan, akan berusaha untuk memohon dan mengambil gadget tersebut darinya.Tapi jikalau aku yang memegang, dia jarang bahkan tidak pernah untuk berusaha mengambilnya dari ku. Sebab istriku lebih longgar akan penggunaan Gadget kepada anak yang masih balita. 

Aku harus menjaga betul, supaya seminimal mungkin gadget tersebut tidak disentuh apalagi dimainkannya. Pas ketika aku melihat dia memegang, berusaha untuk mengambilnya tidak dengan kekerasan apalagi suara keras, melainkan dengan nada seperti mau memelas dan sekaligus memberikan pengertian kepadanya bahwa anak-anak belum boleh memegang HP atau gadget. Dia cepat mengerti dan memang selalu diberikannya kepadaku. 

Tapi memang untuk eksistensi kekinian, juga sekaligus pemuasan akan hidup untuk sekedar diberi jempol, atau dikomentari, tak jarang akhirnya mengupload foto-foto mereka ke dunia media sosial. Apalagi istriku yang paling gencar-gencarnya meng-upload foto-foto mereka. Kemudian aku hanya berusaha mengingatkannya supaya tidak memberikan foto-foto yang terlalu terbuka alias kategori yang masih wajar dan sopan.

Takutnya ketika terlalu mengekpos dirinya supaya semakin dikenal banyak orang, ternyata kita sudah memasang jerat kepadanya. Perlu menjaga dari orang-orang yang punya kelainan, seperti pedofil dan sejenisnya. Jadi sekarang untuk tidak terlalu banyak foto-foto mereka yang terupload di media sosial. Pentingnya untuk menjaga mereka dari praktek-praktek kejahatan yang mungkin bisa timbul dikemudian hari. 

Sebagai orangtua, selalu berusaha memberikan yang terbaik bagi pertumbuhan mereka. Memang sekarang mereka belum mengerti dunia maya, tapi ada baiknya untuk menetapkan bahwa di tahun kesekianlah dia baru boleh untuk memulainya. Berusaha untuk menyampaikannya dengan jelas kepada mereka, dan akhirnya bisa membuat kesepakatan yang akan mungkin bisa dikerjakan bersama-sama. Antara aku dan anakku.

Adalah bijak sebagai orang tua bisa melatih anak-anak kita , supaya tidak terlalu cepat mengenal yang namanya dunia Gadget, apalagi dunia sosial. 

Juga belajar untuk tidak terlalu mengekang kebebasan yang mereka butuhkan. Dan berusaha mengajarkan hidup bertangungjawab, meskipun dalam skope yang masih kecil.  Yakni ketika melakukan kesalahan yang tidak baik, untuk bisa segera memperbaiki kesalahannya dan akhirnya bisa meminta maaf. Artinya mereka diajar untuk bisa mengucapkan kata-kata berikut sejak dini, yakni kata maaf, tolong, dan terimakasih.

Tantangan Media Sosial pada Generasi Alpha dan Tindakan Kita berikutnya.

Generasi alpha adalah generasi yang tentunya bisa membuat banyak perbedaan. Sebab mereka ternyata adalah orang-orang yang paling melek akan teknologi dan paling terdidik. Dan pastinya media sosial ditahun-tahun mendatang, akan semakin lebih dasyat lagi perkembangannya. Juga akan semakin banyak fitur-fitur kemudahan yang akan dikembangkan, yang pada akhirnya bisa menolong manusia tersebut. 

Oleh karena itu, aku membuat komitmen,  ketika usia mereka sudah cukup matang dan dewasa untuk bisa mengenal dunia media sosial, ataupun perkembangan teknologi lainnya, aku akan berusaha untuk terus bisa mendampinginya. 

Dan hal yang paling utama kulakukan untuk bisa meminimalisir dampak negatif dari penggunaan media sosial ataupun teknologi yang ada, adalah dengan berusaha untuk mengenalkan mereka kepada Tuhan pencipta mereka siapa. Sebab ketika sudah mengenal dengan baik, akibat dari didikan dan pembiasaan sejak dini, niscaya mereka akan memiliki karakter yang tangguh dan baik dalam menghadapi seluruh godaan, seluruh masalah yang mungkin akan menimpa mereka.

Penulis adalah pemerhati sosial dan pengajar di STT Terpadu PESAT Sibolangit

4 Aspek Ancaman di Hidup Kita dan Covid 19

(Hizkia Bagian satu- Yesaya 36) Siapa yang tidak pernah mendengarkan kata-kata ancaman dalam tiap kehidupan kita? Bisa dipastika...