Jumat, 08 September 2017

Perjuangan Kenangan Berkat dan Intropreksi



Kemarin ibunda dari rekan sekaligus sahabat seperjuangan telah dipanggil untuk menghadap Tuhan. Hari ini (8/9) diadakan ibadah penghiburan di rumahnya. Sebagai wujud ekspresi untuk bisa merasakan duka yang sedang dialami. Berempati dan memberikan dorongan serta motivasi kepada sahabat ini. Salut kepada hamba-Nya ini, sebab meskipun didalam kedukaannya, beliau masih menunjukkan loyalitas dalam memberikan pelayanan kepada kami yang datang berkunjung. Jadi tak heran, melihat segala usahanya berjalan dengan baik dan bahkan semakin maju.

Dan spirit inilah yang mungkin ditularkan oleh orangtua sahabat kami ini. Terutama Ibunda yang barusan pergi menghadap Sang Empunya kehidupan. Jiwa melayani, suka berbagi, ramah, dan selalu memberikan dorongan dan motivasi kepada setiap orang yang mengenalnya. Mendatangkan kenangan yang baik bagi kita yang mendengarkan maupun melihatnya. Seperti dalam Kitab Amsal yang menyatakan bahwa kenangan kepada orang benar mendatangkan berkat.

Untuk menjadi orang benar dibutuhkan perjuangan yang tidak mudah. Ada begitu banyak tantangan dan persoalan yang datang silih berganti. Sebab ketika kita akan mendapatkan suatu kesuksesan dipastikan ada kesukaran yang harus dihadapi. Ditiap-tiap kesuksesan yang kita dapatkan dipastikan akan ada kesukaran yang sedang menanti.

Seperti ketika sukses untuk mendapatkan anak, dipastikan akan menghadapi persoalan bagaimana mencukupkan kebutuhan nutrisinya dan kebutuhan pendidikannya. Kemudian setelah menyelesaikan pendidikannya, dipertanyakan bagaimana nanti pekerjaannya. Sukses mendapatkan pekerjaan, timbul lagi pertanyaan, bagaimana nanti jodohnya; dan setelah mendapatkan jodoh, apakah nanti akan dikaruniai seorang anak, atau tidak. Dan begitu seterusnya siklus kehidupan yang akan kita hadapi.

Ada dua yang tidak bisa kita tentukan didunia ini yakni tentang lahir dan kematian kita. Yakni lahir dari orangtua yang bagaimana, dinegara mana, atau juga, mati dengan cara bagaimana dan dimana. Ada orang yang lahir di tengah keluarga yang super kaya, tapi ada juga yang di tengah keluarga yang sangat bersahaja. Ada orang yang lahir dari kalangan pejabat sampai yang lahir dari kalangan orang biasa.

Begitu juga dengan kematian. Ada orang yang mati karena kecelakaan, karena sakit dan juga bisa karena sistem yang tidak baik. Contohnya yang baru-baru ini terjadi. Membaca status Birgaldo Sinaga. Tampak begitu berhati-hati sekali dalam mengungkapkan kasus kematian seorang bayi di Jakarta. Sebab sudah banyak contoh ketika menuliskan suatu hal yang menjelekkan satu rumah sakit tertentu, hampir dipastikan orang yang men-share­ postingan itu, akan berhadapan dengan undang-undang ITE. Dengan judul pencemaran nama baik.

Birgaldo menuliskan kronologi kejadiannya dari awal hingga akhirnya si bayi malang tersebut meninggal. Dan berusaha tidak memberikan tendensi khusus kepada pihak rumah sakit, hanya mencoba mengklarifikasi hasil sharing yang ia dapatkan langsung dari si Ibu korban. Dan didapati ternyata demikian adanya.

Aku belajar banyak dari kasus kematian bayi malang ini. Belajar dan mencoba mengetahui istilah-istilah baru dalam dunia kesehatan yang selama ini kuabaikan. Seperti istilah PICU dan NICU. Hal ini wajib kuketahui, sebab aku juga punya anak, tidak mau mengalami hal yang sama.

NICU (Neonatal Intensive Care Unit) dan PICU (Pediatric Intensive Care Unit) adalah ruang perawatan intensif untuk bayi (sampai usia 28 hari) dan anak-anak yang memerlukan pengobatan dan perawatan khusus, guna mencegah dan mengobati terjadinya kegagalan organ-organ vital. NICU adalah fasilitas untuk bayi yang baru lahir yang mengalami kelahiran premature serta berat badannya yang dibawah ideal. Sedangkan PICU untuk anak-anak dimulai dari 28 hari hingga 14 tahun.

Layanan PICU sendiri merupakan pelayanan intensif untuk anak yang memerlukan pengobatan dan perawatan khusus, guna mencegah dan mengobati terjadinya kegagalan organ-organ vital. Anak yang harus dirawat di PICU adalah mereka yang mengalami : masalah pernafasan akut, kecelakaan berat, komplikasi, kelainan fungsi organ.

Untuk kasus si bayi malang tersebut adalah bahwa karena ketiadaan uang dari orang tuanya untuk bisa mendapat pertolongan intensif dengan PICU. Pihak rumah sakit membebankan biaya administrasinya sebesar Rp. 19.800.000,- agar si bayi segera mendapatkan pengobatan melalui fasilitas itu. Si orang tua sudah mengupayakan uang sebanyak lima juta dari tabungan mereka di pagi-pagi hari sekali, tapi tidak diterima pihak rumah sakit. Dan berjanji disiang harinya akan segera melunasi seluruh kekurangannya di siang harinya. Tapi pihak rumah sakit bergeming, tidak mau menerima hal itu.

Akhirnya berpindah dan mencari rumah sakit yang menyediakan layanan PICU. Ketika sudah ketemu menjelang siang, si anak sudah tidak tertolong lagi. Dan akhirnya orang tuanya semakin menangis histeris, sebab ternyata anak pertamanya juga sudah dipanggil terlebih dahulu.

Gimana dengan layanan BPJS yang sedang digencar-gencarkan pemerintah kita saat ini. Ternyata masih banyak rumah sakit yang tidak mau melibatkan BPJS dalam pembiayaan pengobatan masyarakat. Sempat kudengar bahwa pemerintah akan memberikan sanksi tegas kepada rumah sakit bahkan sampai memberikan sanksi dengan pembekuan layanannya, untuk  yang tidak menyediakan layanan BPJS di faskesnya. Tapi tampaknya hal itu masih ucapan kosong semata.

Kembali kepada point saya bahwa perjuangan orang benar, ketika bisa hidup dengan benar dalam praktek sehari-hari, dipastikan akan mendatangan kenangan yang sangat baik bagi kita yang ditinggalkan. Apalagi perjuangan hidupnya, ditambah dengan menghidupi nilai-nilai kebaikan, pantang menyerah, tekun, ulet, yang pastinya nilai-nilai itu akan tertransfer kepada orang-orang mendengarnya. Ada suatu legacy yang ditinggalkan kepada generasi penerus yang tidak akan busuk dimakan oleh waktu dan zaman.

Seperti yang pernah terjadi di Amerika, dalam sebuah survey yang dilakukan kepada dua orang tokoh, yakni Jonathan Edward dan Max Jukes. Sejak masa hidup mereka hingga kepada keturunannya, didapatkan bahwa :

Jonathan Edwards

Ia mengasihi Tuhan dengan segenap hatinya, ia hidup takut akan Tuhan. Pengkhotbah Kebangunan Rohani terkenal abad 18. Didapati bahwa  tidak ada keturunannya yang merugikan Negara, semuanya memberi keuntungan yang tidak ternilai buat negaranya.

Ia mempunyai 1000 lebih keturunan : 13 orang menjadi rector, 65 orang menjadi professor, 3 orang terpilih sebagai senator Amerika Serikat/ anggota DPR, 30 orang menjadi hakim, 100 orang menjadi pengacara, 75 orang menjadi perwira militer, 100 orang menjadi pendeta, 60 orang menjadi penulis terkenal/ penulis buku terlaris, 80 orang memegang peranan penting dalam berbagai instansi/ pemuka masyarakat, termasuk menjadi gubenur, 66 orang dokter, 135 orang editor, 1 orang penerbit, lebih dari 100 orang misionaris, 80 orang memiliki kantor public, 1 orang menjadi wakil presiden AS, 1 orang menjadi istri presiden AS, 1 orang penilik keuangan AS.

Max Jukes

Ia seorang ateis/ seorang yang tidak takut akan Tuhan, ia tidak beriman pada Tuhan, dan hidupnya tidak mempunyai prinsip, ia tidak percaya Firman Tuhan, dan tidak pernah datang ke gereja. Ia tinggal di New York. Ia menikah dengan seorang yang juga tidak takut akan Tuhan, mereka tidak pernah membawa anak-anak mereka ke gereja. 

Max memiliki sebanyak 1.200 orang keturunan, yakni : 440 orang hidup dalam pesta pora, 310 orang menjadi gelandangan dan pengemis, 190 orang menjadi pelacur, 130 orang menjadi narapidana, 100 orang menjadi pecandu minuman keras, 60 orang mempunyai kebiasaan mencuri, 55 orang menjadi korban pelecehan seks, 7 orang menjadi pembunuh. Dan ditemukan bahwa keluarganya dan keturunan bukan hanya tidak memberikan kontribusi apa-apa kepada Negara, malahan merugikan Negara akibat perbuatan dan kejahatan yang mereka lakukan.

Pesan sekaligus intropeksi yang bisa kita lakukan pada masa kita ini adalah selalu berusaha untuk hidup jujur dan berintegritas, pantang menyerah dan ulet, serta melakukan hal-hal atau tindakan yang terbaik, seperti suka menolong dan berbagi kepada banyak orang. Sebab hal itu yang bisa kita wariskan kepada anak cucu kita, bukan harta dan tahta maupun jabatan.

Kemudian, perbaikan kedepannya adalah untuk bisa menyuarakan kebenaran itu, meskipun tampaknya sulit, tapi masih lebih baik jika kita hanya berdiam diri saja dan tidak melakukan apa-apa. Ditengah kondisi bangsa dan tanah air kita yang masih carut marut, diharapkan kita bisa menjadi secercah harapan yang bisa memberikan perubahan.   

Sumber:



Kamis, 07 September 2017

Agen Hoax Me


Gubernur Lemhanas, Bapak (Purn) Agus Widjojo pernah mengeluarkan statement bahwa hampir 90 persen masyarakat kita bisa menjadi penyebar hoax atau berita bohong. Sebab masyarakat sangat jarang untuk melihat maupun membandingkan antara satu berita dengan berita lainnya.

"Penyebar berita bohong dengan niat tidak baik hanya berpengaruh 10 persen, lainnya 90 persen adalah kita yang menyebar berita bohong bila kita percaya dan menganggap bahwa jika sesuatu yang segaris dengan keinginan saya, atau bahwa saya tidak suka dengan sesuatu, itu saya sebarluaskan," kata Agus di Istana Wakil Presiden, Jakarta, Senin 28 Agustus 2017.

Sungguh angka yang sangat fantastis, sebab ternyata kita bisa terindikasi penyebar berita bohong. Bahkan masyarakat yang sudah setingkat menteri aja pun, pernah menjadi pelaku dan penyebar berita hoax. Gak tanggung-tanggung, si Bapak yang mantan pejabat di kementerian bidang Komunikasi dan Informatika lagi. Artinya beliau saja yang sudah sebegitu inteleknya dan dan pastinya sudah paham betul, masih bisa terjebak dalam penyebar berita hoax. Beliau mengaku mendapatkan foto-foto tersebut dari seorang teman yang ada di Komisi III DPR RI. Kemudian menyebarkannya dalam akun media sosialnya.

Beliau memang sepatutnya harus meminta maaf dan mengklarifikasi segala kekeliruannya. Sebab sangat beda pengaruh antara orang biasa dan seorang tokoh yang sudah sangat terkenal, jika terindikasi jadi penyebar berita konten bohong.

Kalau orang biasa, yang pastinya tidak begitu dianggap untuk bisa dijadikan bahwa itu benar adanya, tapi kalau sudah menyangkut penyebarnya adalah seorang tokoh masyarakat dipastikan data dan keakuratannya pasti tinggi.

Kembali kepada pernyataannya Bapak Gubernur Lemhanas, bahwa 90 persen penyebar hoax adalah orang-orang yang segaris keinginannya dengan berita bohong tersebut. Artinya meskipun itu tidak benar, jika itu bisa memuaskan hasrat dan keinginannya dan itu senada dengan yang ada dipikirannya, pasti dipastikan ia akan segera berbagi konten bohong tersebut.

Sebab memang pada faktanya, ketika kita bisa menyukai suatu postingan tertentu, apalagi ketika memutuskan untuk berbagi, dipastikan bahwa postingan tersebut menyentuh atau mengena hati kita. Atau senada dengan apa yang kita pikirkan. Dan kemudian supaya bisa mengungkapkan bahwa itulah ungkapan hati atau diri kita kepada publik kita akhirnya menyukai dan berbagi melalui akun media kita.

Hitung-hitungan Bisnis

Memang tidak bisa dipungkiri ketika kita sudah punya banyak follower atau fans pada akun kita,bahkan kalau mencapai angka jutaan dipastikan kita bisa menarik keuntungan dari itu. Akun tersebut bisa menjadi media iklan bagi suatu produk apapun. Sebab ketika produk atau jasa tersebut dimuat di akun media sosial yang punya pengikut banyak, dipastikan hal yang dipromosikan itu akan mendadak terkenal. Apalagi kalau produknya menjadi viral akan bisa menambah bonus-bonus dari si pengguna jasa akun tersebut.

13 Youtuber Millioner

Seperti yang terjadi pada tiga belas YouTuber pada tahun 2015 berpenghasilan paling tinggi, ketika digabungkan totalnya mencapai US$54,5 juta (sekitar Rp708 miliar). Sebab mereka mampu membuat konten-konten yang bisa memikat jutaan orang tertarik untuk terus menyaksikan tayangan dalam video mereka di Youtube. Dengan hal itu mampu mengundang banyak pihak untuk beriklan di kanal mereka dan tentunya bisa menghasilkan keuntungan finansial.

Kasus Saracen adalah salah satu. Sebuah media berita online yang dengan menyebarkan berita hoax atau bohong, mereka bisa mendapatkan pundi-pundi uang. Sebab mampu mengakomodir kepentingan dari si pengguna jasa Saracen dalam menyebarkan dan bahkan memviralkan suatu content bohong. Meskipun dengan modal puluhan juta, tidak sebanding dengan dampak yang diakibatkannya, si pengguna jasa tersebut, dipastikan bisa mengeruk keuntungan dari situ dan bahkan bisa mempengaruhi opini publik.

Yang oleh Bapak Rudiantara sendiripun mengatakan bahwa Saracen bukan hanya sekedar penyebar berita hoax, melainkan lebih dari sekedar hoax. Sebab tujuan mereka murni untuk memojokkan satu pihak dan bahkan menghasut mereka.

“Memberikan berita palsu seolah menyerang suatu kelompok dan mengadu dengan kelompok lain. Jadi ini bukan sekadar hoaks,” ujar Rudi dalam acara Satu Meja yang ditayangkan Kompas TV, Senin (28/8/2017) malam.

Juga akun Facebook Jonru Ginting, yang telah memanfaatkan akunnya untuk menjadi bisnis baginya. Dia mengaku punya follower sebanyak tujuh juta akun. Menyediakan sejumlah kontak-kontak yang bisa dihubungi untuk bisa beriklan melalui akun media sosialnya. Dan masih banyak contoh-contoh lainnya.

Berita Hoax dan Implikasinya

Pentingnya suatu berita yang menarik seperti yang terjadi di Myanmar saat ini. Untuk menjadikannya menjadi sebuah komoditas dagang yang pasti bernilai jual tinggi ketika bisa diberitakan. Mencampurkan banyak bumbu-bumbu sedap untuk bisa menarik sebanyak mungkin orang untuk bisa prihatin akan kondisi tersebut.

Ketika pemberitaannya bisa tepat dan sesuai dengan fakta, tentunya hal tersebut tidaklah menjadi suatu masalah. Tapi ketika ada unsur untuk bisa memojokkan satu kelompok, pastinya hal tersebut sudah menjadi berita hoax bahkan lebih dari sekedar hoax seperti Bapak Rudiantara katakan.

Berita Hoax wajib kita lawan secara bersama-sama. Sebab implikasi dan dampaknya sangatlah luas. Seperti yang baru-baru ini terjadi. Akibat dari pemberitaan kasus Rohingya yang berlebihan, akhirnya muncul aksi damai sejuta umat di Candi Borobudur. Dan pemerintah menentang hal itu dan tidak memberikan ijin untuk melakukan aksi damai. Sebab tidak memberikan dampak langsung apapun untuk kemajuan pelayanan kemanusiaan yang ada di Rohingya.

Ketika ada muncul sebuah berita hoax, kita sebagai masyarakat yang cerdas untuk mencari fakta dan kebenarannya lebih lanjut. Dan ketika berita tersebut sesuai dengan ekspresi hati dan keinginan terdalam kita, mari kita untuk mengkroscek ke media berita lain yang ada, sebelum akhirnya kita
 memberitakannya melalui akun media sosial kita. Sehingga kita tidak menjadi agen Hoax me.

Sumber :




Rabu, 06 September 2017

Apa Kesuksesan Utama Orang Tua


Sungguh menarik untuk membahas tentang Mata Nadjwa, yang sudah tayang lebih dari 7 tahun, dan yang sudah menghasilkan lebih dari 500 episode, menghiasi layar kaca kita. Nadjwa sendiri adalah seorang anak dari seorang cendekiawan muslim  yang terkenal sekaligus rendah hati, yakni  Muhammad Quraish Shihab.

Quraish shibab sendiri enggan menggunakan gelar Habib ataupun Kyai pada namanya. Meskipun layak untuk menyandang gelar itu, tapi tidak menggunakannya dalam deretan namanya. Gelar Habib sendiri adalah suatu gelar yang menunjukkan bahwa masih ada pertalian darah dengan Sang Nabi Muhammad sendiri. Secara harfiah, Habib sendiri berarti orang yang mencintai.

“Pengertiannya bukan hanya orang yang mencintai, tapi termasuk orang yang dicintai, alias jadi Al-Mahbub,” kata Habib Ahmad Muhammad bin Alatas, Ketua Maktab Nasab Rabithah Alawiyah --organisasi pencatat silsilah habib di Indonesia-- kepada kumparan, Rabu (11/1).

Menjadi habib bukan perkara mudah. Ada kriteria dan mekanisme yang harus dipenuhi. Mereka mesti menyerahkan daftar silsilah turunan Rasul hingga tujuh tangga keluarga ke atas. Berbagai syarat administrasi pun wajib dipenuhi. Semua itu diatur oleh Rabithah Alawiyah.

Habib, di kalangan Arab-Indonesia, lebih menjadi titel kebangsawanan orang-orang Timur Tengah kerabat Nabi Muhammad SAW --dari keturunan putri Rasulullah, Fatimah, dengan Ali bin Abi Thalib. Menjadi habib di Indonesia menjamin derajat tersendiri di tengah masyarakat. Imej sebagai keturunan Nabi masih menjadi hal istimewa di negara berpenduduk muslim terbesar ini.

Jadi beliau hanya mau dipanggil Ustad, yang berarti seorang guru. Yakni yang mampu memberikan pencerahan. Sebab ayahnya Quraish Shibab, Habib Abdurrahman, telah mengajarkan kepada anak-anaknya untuk tidak terlalu menunjukkan gelar, apalagi yang ternyata memang benar bahwa ia adalah keturunan langsung dari sang Nabi sendiri.


Papanya ataupun kakek dari Najwa Shibab, menyematkan gelar Shibab kepadanya, sebab memang benar perlakukan sang kakek yang menunjukkan cinta kasih yang besar kepada semua cucu-cucunya.
Keluarga besar Shihab pun demikian. Alwi Shihab dan Umar Shihab, kedua adik Quraish Shihab, juga memilih untuk tidak menggunakan gelar habib. Alwi mengkhawatirkan adanya fenomena kemunculan habib-habib yang tidak sesuai dengan aturan dan tidak mencerminkan akhlak seorang yang pantas dipanggil habib. Alwi menyebutnya sebagai “inflasi habib,” di mana jumlah habib yang bertambah justru menjadikan nilai mereka turun.

Kembali ke Najwa Shihab. Seorang tokok jurnalis yang sangat kritis, yang mampu membawa Mata Nadjwa menjadi program unggulan dari Metro TV. Ketika dikabarkan bahwa Mata Nadjwa akan berhenti tayang, mengakibatkan banyak warga Indonesia menjadi baper dan merasa kehilangan.

Banyak tulisan-tulisan atau artikel yang muncul akibat berakhirnya tayangan Mata Nadjwa. Mulai dari tulisan yang pro maupun yang kontra. Yang kontra mengatakan bahwa Program Mata Najwa merupakan program settingan dari yang pro pemerintah. Artinya ketika yang diwawancarai itu adalah orang yang pro pemerintah,dipastikan segala pertanyaannya tidak sekritis kepada orang yang lagi kontra ke pemerintahan. Dan banyak tudingan-tudingan miring lainnya, seperti adanya dugaan bahwa Najwa sendiri akan beralih ke politik atau pemerintahan.

Tapi semua akhirnya terjawab, ketika catatan tanpa titik minggu lalu, Kamis (31/8), ketika host yang diundang adalah Gibran Rakabuming, menanyakan setelah Mata Najwa tidak tayang, Mbak Nana mau kemana? Dan pertanyaan serupa yang disampaikan oleh Bapak Jokowi via telepon juga menanyakan hal yang sama, mau kemana setelah Mata Najwa tidak hadir lagi di media televisi. Hal ini semakin mempertegas secara kuat, bahwa berakhirnya tayangan ini, bukan karena ada pihak istana yang hendak memanggil dia terlibat dalam pemerintahan sebagai menteri.  Sebab Bapak Jokowi sendiripun ternyata bertanya kemana setelah ini.

Hal yang menjadi sorotan saya adalah bahwa yang menjadi hal yang tak pernah dilupakan oleh Najwa sendiri adalah ketika dia akan mewancarai ayahnya sendiri. Dan memang sejak awal, dia tidak mau melibatkan keluarga besarnya menjadi narasumber pada acaranya. Tapi hal itu tidak bisa lagi dihindari, sebab, ternyata papa-nya adalah orang yang paling berkompeten saat itu, untuk menyampaikan pesan-pesan penyejuk. Dikarenakan kondisi bangsa kita yang begitu gampangnya tersulut emosi dan jiwa ketika suatu hal yang sedang terjadi. Seperti saat ini yang sedang terjadi juga, masalah kemanusiaan di Myanmar.

Kira-kira apa yah, anggapan sebagai orang tua, ketika bisa melihat anaknya beraksi dan berdiri bersama sepanggung dan disaksikan oleh dunia. Meskipun bagi kita tampaknya sepele, sebab memang pada kenyataannya seorang jurnalis yah pasti bisa mengeksplorasi seluruh narasumbernya. Tapi hampir bisa dipastikan, bahwa hal itu menjadi suatu peristiwa yang menggetarkan sang anak sendiri. Sebuah moment yang sangat indah, menegangkan, tapi harus menunjukkan keprofesionalannya sekaligus.

Orang tuanya pasti mendeklarasikan, bahwa ini-loh anakku, lihat dia, berdiri bersama dengan aku. Lihat keberhasilannya, lihat prestasinya. Meskipun hal itu tidak ditampilkan secara langsung oleh sang papa sendiri. Ada rasa bangga dan haru ketika kita sebagai orang tua bisa menyaksikan secara langsung prestasi dan keunggulan anak kita. Apalagi di satu moment atau satu panggung. Peristiwa itu menjadi suatu sejarah yang pastinya tidak akan bisa kita lupakan. Dan itulah yang menjadi kebanggaannya para orang tua.

Kemudian kebanggaannya yang lain adalah ketika bisa mengerjakan amanat dari orang tua kita. Seperti yang dilakukan oleh sang kakek Najwa sendiri, untuk tidak terlalu menggagahkan segala gelar ataupun atribut kepangkatan yang ada. Meskipun kita punyai tapi tidak perlu disombongkan.

Dan terakhir ketika orangtua bisa menurunkan spirit kerohanian yang sama kepada anaknya. Bukan hanya membekali dengan segudang ilmu dan pengetahuan, tapi mengabaikan aspek jiwa dan kerohaniannya. Selalu mengajarkan untuk tinggal dalam sprit lingkungan kerohanian yang baik dan mengusahakannya itu terealisasi dalam kehidupannya. Sehingga dia akan mencintai ataupun mengasihi Tuhan-nya, mengasihi orang tuanya, mengasihi sesamanya dan lingkungannya.
    

sumber:
https://kumparan.com/tio/quraish-shihab-sekeluarga-memilih-melepas-gelar-habib#jPC4pAUmeTZywjuW.99

Selasa, 05 September 2017

My Joyful is Only in Jesus

Ucapan Selamat dari Google (Model Search Engine-ku kini)



Pujilah Dia dengan mengatakan : Tuhan adalah Raja! Biarlah bumi bersorak-sorak, biarlah banyak pulau bersukacita (Maz 97:1). Keadilan dan hukum adalah tumpuan takhta-Nya (2)

Tuhan itu Raja, maka bangsa-bangsa gemetar. Tuhan tu maha besar di Sion,dan Ia tinggi mengatasi segala bangsa. Raja yang kuat, mencintai hukum, menegakkan kebenaran; hukum dan keadilan diantara keturunan Yakub. (99:1-4)

Tinggikanlah Tuhan, Allah kita, dan sujudlah menyembah kepada tumpuan kaki-Nya! Kuduslah Ia! (5). Bersoraklah bagi Tuhan! Sembahlah (Worship) Tuhan dengan sukacita, datanglah ke hadapan-Nya dengan nyanyian sukacita (joyful song).

Dilah yang menjadikan kita dan punya Dialah kita, umat-Nya dan kawanan domba gembalaan-Nya. Sebab Tuhan itu baik, kasih setia-Nya untuk selama-lamanya, dan kesetiaan-Nya turun temurun.
 Betapa banyak perbuatan-Mu, ya Tuhan, sekaliannya kaujadikan dengan kebijaksanaan, bumi penuh dengan ciptaan-Mu. (104:24)

Aku hendak menyanyi bagi Tuhan selama aku hidup, aku hendak bermazmur bagi Allahku selagi aku ada. Biarlah renunganku manis kedengaran kepada-Nya! Aku hendak bersukacita karena Tuhan. (33-34).

Perintahnya kepadaku : Carilah Tuhan dan kekuatan-Nya,carilah wajah-Nya selalu (105:4), Hai orang-orang yang mengasihi Tuhan, bencilah kejahatan! (97:10).

Tuhan membuat umat-Nya sangat subur, dan menjadikannya lebih kuat dari  pada para lawannya; dibuah-Nya hati mereka untuk membenci umat-Nya; untuk memperdayakan hamba-hamba-Nya. (25)
Berbahagialah (blessed) orang-orang yang berpegang pada hukum yang melakukan keadilan di segala waktu.

Ini adalah Firman Tuhan dimasa-masa aku akan memasuki tahun ke-33. Gak terasa perjalanan hidup ini. Sebab Alkitab sendiripun mengatakan bahwa masa hidup manusia tujuh puluh tahun dan jika kuat, delapan puluh tahun. (90:10). Artinya masa berkarya yang masih bisa aku akan kerjakan tinggal 37 tahun lagi.

Jika dibandingkan dengan peraturan pemerintah, masa pensiun adalah 60 tahun, berarti, masa berkarirku tinggal 27 tahun lagi. Itu artinya aku masih diberi kesempatan untuk melihat dua generasi lagi yang ada di depanku, yakni generasi alpha dan betha. Berharap Tuhan masih menganugerahkan kepadaku untuk bisa melihat cucu-cucu dari anak-anakku. Supaya bisa berbagi dan menyaksikan kepada mereka anugerah Tuhan yang sudah Dia nyatakan kepadaku.

Jika melihat visi misi PESAT pencapaian yang kedua, yakni 2047, dipastikan usiaku akan menjadi 63 tahun. Akankah akan melihat visi ini terealisasi. Akankah melihat PESAT hadir bagi bangsa-bangsa yang sudah dinyatakan oleh-Nya kepada sang founder pelayanan ini. Berharap visi ini akan segera terealisasi. Sebab Tuhan sudah membuat dan menetapkan generasi penerus yang tangguh di paruh kedua ini.

Visi pelayanan dipastikan sudah berbarengan sejalan dengan visi pribadiku. Sebab bagaimana mungkin aku memantapkan langkah ini, sudah sejauh ini, mengerjakan visi pelayanan bertentangan dengan visi pribadi yang sudah Tuhan taruh selama ini. Meskipun akan selalu penuh dinamika dan berliku-liku jalan yang harus kutempuh didepan.

Hidup ini singkat, akan sangat percuma jika hanya akan diisi dengan sungut-sungut. Mari datang kepada-Nya, menyembah sujud dihadapan-Nya, mencari wajah-Nya, dengan penuh nyanyian ucapan syukur dan sorak-sorai. Dan Ia kembali mengingatkanku untuk membenci Kejahatan. Berusaha untuk mencintai Hukum, menegakkan kebenaran, dan melakukan perbuatan adil.


God loves you, dan Dia belum selesai dengan diriku yang bernama Rinto Fernando Simorangkir 

Senin, 04 September 2017

Berhati-hatilah Kita Bisa Menjadi Rohingya (Melakukan Eksodus Besar-besaran)


Benar apa yang dikatakan Buya Ahmad Syafii Marif pada Syiarnusantara.id yang menyatakan bahwa jika benteng pertahanan Muhammadiyah dan NU sampai bobol dimasuki oleh teologi kebenaran tunggal (Wahabisme) ini, maka Indonesia sebagai bangsa Muslim terbesar di muka bumi akan berubah menjadi lading pertumpahan darah, dan di ujungnya negeri ini akan masuk museum sejarah karena eksisstensinya telah dibinasakan oleh anak-anaknya sendiri yang tergiur oleh “misguided Arabism” (Arabisme yang kesasar jalan) dalam bentuk radikalisme dan terorisme.

 Apa makna dari perkataan Sang Buya ini. Yakni jangan sampai paham wahabisme yakni paham Arabisme yang kesasar jalan akan mengubah bangsa ini menjadi bangsa yang betul-betul radikal. Mengakomodir teror sebagai jalan mereka dalam mensyiarkan paham yang bertentangan dengan UUD 1945 maupun Pancasila.

Bersyukur bangsa kita ini masih memiliki benteng pertahanan seperti Muhammadiyah dan NU, yang terus getol menyuarakan bahwa bangsa kita adalah bangsa yang Pancasilais. Artinya bahwa dasar Negara kita adalah Pancasila bukan yang lain. Sebab ada begitu banyaknya usaha-usaha untuk mengubah dasar Negara kita oleh orang-orang yang memiliki paham garis keras.

Dan bersyukur juga, sebab pemerintah kita sudah berani mengeluarkan Perppu No.2 Tahun 2017, yang akan membubarkan organisasi-organisasi kemasyarakatan yang memiliki paham yang lain selain Pancasila. Dan HTI menjadi awal dari pemberlakuan dari Perppu tersebut. Sebab Negara kita tidak boleh sewenang-wenang dalam membubarkan suatu ormas jika tidak memiliki landasan hukum yang kuat.

Kasus kemanusiaan yang sedang terjadi di Rakhine State, Myanmar, menjadi seperti batu loncatan oleh sekelompok orang untuk bisa menggoyang pemerintahan Bapak Jokowi. Dan Bapak Jokowi ternyata sudah bisa mencium maksud busuk dan tujuan oleh sekelompok organisasi tersebut. Yang berarti, jika pemerintah kita tidak cepat tanggap dalam menghadapi kasus Rohingya ini, maka ini menjadi sasaran tembak oleh mereka untuk bisa terus mengecam, bahwa pemerintah kita bukan pro-kemanusiaan, apalagi pro-islam.

Hal ini senada dengan apa yang diungkapkan oleh Hasanuddin Abdurakhman pada detik.com, bahwa benarkah kepedulian kita kepada Rohingya hanya karena alasan kemanusiaan semata? Dan bukan karena adanya embel-embel bahwa hanya karena mereka menganut agama Islam, yang notabene agama terbesar kita. Serta orang yang menzalimi mereka ternyata adalah Pemerintah Myanmar sendiri, yang Budha, bukan yang Muslim.

Kenapa perhatian kita tidak sebesar perhatian kepada orang-orang yang ada di Yaman. Secara mereka adalah orang Muslim juga. Kita tidak begitu intens untuk mengecam bahkan mengutuk orang-orang yang sudah membombardir bangsa Yaman, sehingga anak-anak maupun masyarakat yang tidak mengerti apa-apa tentang bangsanya, tiba-tiba menjadi korban atas kejahatan terstruktur oleh si pelaku. Kita tidak begitu instens untuk mengecam apa yang sedang terjadi di Yaman, hanya karena yang menzolimi mereka juga adalah orang Muslim sendiri, yakni Bangsa Arab Saudi.

Selidik demi selidik kasus Rohingya sudah terjadi 70 tahun yang lalu. Hampir bersamaan kasusnya dengan konflik kemanusiaan yang ada di Palestina. Rohingya kurang mendapatkan perhatian kita pada masa itu dan lebih memfokuskan apa yang di Palestina. Ternyata medialah yang menjadi kunci akan semakin merebaknya suatu isu apapun itu. Kasus Rohingya diekploitasi dengan sedemikian rupa supaya kita memiliki paham yang sama bahwa memang pemerintah Myanmar telah melakukan kejahatan kemanusiaan. Orang Rohingya dihabisi oleh bangsa yang mayoritas bangsanya tidak sama dengan orang-orang Rohingya sendiri.

Apa Pembelajaran yang bisa kita ambil dari Kasus Rohingya ini?

Kaum minoritas sering menjadi korban oleh kebijakan yang dibuat oleh mayoritas. Kembali kepada pernyataan yang disampaikan oleh Buya Ahmad Syafii Maarif. Akan banyak terjadi pertumpahan darah, seandainya paham Wahabisme sudah menjadi paham yang dimiliki oleh bangsa kita. Artinya paham Kafillah sudah menjadi harga mati. Dan sebagai konsekuensinya adalah orang-orang yang tidak memiliki paham mereka, berseberangan dengan mereka, dipastikan akan terkena dampaknya.
Mungkin kisah pembantaian orang-orang PKI pada masa dulu, juga akan terjadi lagi pada saat ini. Hampir disetiap daerah di seluruh wilayah Indonesia terjadi pertumpahan darah. Ketika dia ketahuan loyalis dari PKI, dipastikan akan berujung kepada kematian, tanpa adanya pembelaan dari orang yang dituduhkan itu.

Juga ketika tidak kuat lagi untuk menghadapi tekanan dan penderitaan yang dialami,makanya melakukan eksodus besar-besaran. Segera mengungsi tanpa memperdulikan lagi segala harta berharga yang dimilikinya. Seperti yang sedang terjadi di Rohingya saat ini. Mendapatkan perlakuan yang tidak wajar secara kemanusiaan, bahkan tak sedikit yang akhirnya kehilangan nyawa.

Pihak militant Rohingya yang merasa mewakili etnis Rohingya, terus berjuang dan melawan tentara-tentara Myanmar. Hal ini terus memperkeruh keadaanya. Pemerintah Myanmar yang notabene ingin menghancurkan pasukan militant rohingya, sering menjadi salah serang, yang mengakibatkan orang-orang yang tidak bersalah, pihak sipil maupun masyarakatlah yang  menjadi korban.

Begitu juga ketika sudah tergenapi Paham Wahabisme ataupun ideologi kafilah ini di bangsa Indonesia, dipastikan akan adanya perlawanan oleh orang-orang yang berseberangan. Sehingga semakin tajamlah kasus kemanusiaan yang akan terjadi. Kisah-kisah yang terjadi di Suriahpun akan terjadi juga. Militant ISIS yang terus menghabisi orang-orang yang diluar mereka. Melakukan tindakan yang tidak manusiawi, seperti membakar hidup-hidup, menggorok leher hingga terputus, dan banyak perbuatan keji lainnya.

Bahkan proses eksekusi mereka ditayangkan live, supaya bisa disaksikan oleh banyak orang. Mengharapkan supaya orang-orang yang menyaksikannya bisa ketar-ketir dan tidak jadi melakukan perlawanan kepada mereka.

Memang saat ini perjuangan ISIS di Suriah akan segera berakhir, tapi, ternyata paham sadis dan radikal mereka ternyata sudah sampai di tanah air kita. Bangsa kita harus lebih berhati-hati, sebab saat ini mereka sedang hanya non aktif saja dalam kegiatan mereka. Tidak melakukan perbuatan yang mencolok. Hanya melakukan penyebaran ideologi mereka kepada anak-anak yang berada di sekeliling mereka. Seperti yang pernah terjadi di Medan kemarin. Bersyukur pelakunya sudah ditangkap, tapi apa bisa menutup kemungkinan, bahwa hal ini hanya ada di Medan. Belum tentu. Mungkin juga sudah ada di kota-kota yang lain.


Terakhir, marilah kita semakin intropeksi diri. Menolak paham-paham radikal seperti wahabisme maupun ideologi kafilah. Sehingga kita tidak perlu melakukan eksodus besar-besaran seperti yang sudah terjadi di Rohingya saat ini. 

Sabtu, 02 September 2017

Coworking, Ev Hive dan Saya

Salah satu Coworking Space, Ev Hive

Istilah Coworking  dan konsepnya sebenarnya masih baru bagiku. Tapi dengan semakin melihat dan menemukan sejumlah data-data dan fakta bahwa keberadaan Coworking  ini amatlah vital keberadaannya. Apalagi bagi seorang entrepreneur pemula yang sama sekali tidak memiliki tempat untuk memulai, yang tidak memiliki jaringan baik itu pertemanan secara professional maupun jaringan secara daring.

Walaupun baru dua hari yang lalu event lomba menulis tentang Coworking  dan Ev Hive sebagai penyedia layanan Coworking, baru kuketahui, ini menjadi sebuah tantangan tersendiri bagiku. Mencoba untuk menemukan sejumlah informasi untuk bisa kutuliskan dalam karyaku ini. Dengan menuliskan apa yang kita baca membuat kita bisa semakin belajar dalam menambah ilmu meskipun itu diluar dari bidang yang kita gelutin selama ini. Termasuk mencoba untuk membahas tentang Coworking  ini.

Coworking  mungkin menjadi sebuah jawaban bagi para pemula bisnis (startup) untuk bisa memulai bisnisnya dibidang e-commerce. Apalagi seperti diriku yang selama ini merindukan untuk bisa memulai bisnis baru. Merindukan dikemudian hari untuk bisa membuat media atau portal opini sejenis Seword, Kompasiana, Qureta,Geotimes maupun media-media sejenis lainnya.

Seperti CEO dan pendiri dari IDN Times, yakni Winston Utomo dan William Utomo, memulai startup business mereka dari Coworking . Ev Hive yang dipilih mereka untuk memulai bisnis mereka tersebut. Berencana memulai dari Surabaya, tapi karena melihat kondisi pemegang brand-brand ternama lebih banyak di Jakarta, akhirnya mereka memutuskan untuk memulai dari Jakarta. Dan akhirnya sekarang bisa berkembang dengan sangat cepat platform business mereka, yakni IDN Times. Sebuah portal berita dan opini yang lebih memuat banyak berita tentang apa kesukaan Generasi Millenial maupun generasi Z. Menjaring beberapa penulis yang bisa menjadi contributor yang bisa membahas tentang masalah generasi Y maupun Z. Mulai dari membahas gaya hidup, makanan, minuman, pakaian, kebiasaan mereka dan lain-lain, semakin beritanya trending atau viral, maka si penulis bisa mendapatkan sejumlah bayaran atas berita yang ia sampaikan.   

Sebelum membahas hal yang lebih jauh, mungkin pembaca belum memahami apa itu Coworking  dan Ev Hive. Arti kata Coworking  sendiri atau mungkin lebih tepat diksinya Coworking  space merupakan, sebuah tempat untuk bisa saling bekerja sama. Jadi asal usul katanya, yakni Co yang berarti bersama, working artinya bekerja, sedang space merupakan tempat. Sedang Ev Hive sendiri merupakan Coworking  space itu sendiri yang lokasinya semuanya ada di Jakarta. Berharap dikemudian hari bisa expand ke Medan.

Mengapa Ev Hive. Ev Hive sendiri merupakan Coworking  space yang terbaik sampai saat ini yang ada di Jakarta. Meskipun aku belum pernah kesana, mencoba menjajal segala sarana fasilitas yang ada, tapi ketika mendengar kesaksian dari CEO IDN Times, ternyata mereka adalah orang-orang yang lebih mementingkan hubungan baik dengan pelanggannya. Selalu memberikan pelayanan yang terbaik meskipun itu hari Minggu, yang notabene hari libur. Seluruh petugas Ev Hive adalah orang-orang yang all out ketika dalam bekerja dan ketika memberikan layanan yang terbaik bagi para startup businessman.

Disamping itu harga yang ditawarkan masih dalam kategori terjangkau dan murah. Seperti program Daily Pass, dibandrol dengan harga Rp.50.000 perharinya. Kita bisa mendapatkan Free Wife dengan kecepatan yang super kencang, dan minuman. Bebas seharian ada disana menikmati suasananya, asal bisa tahan lapar aja. Kemudian ada Flexi Desk, yang harganya 1 juta perbulannya. Kategori ini untuk orang-orang yang proyeknya hanya singkat saja, mungkin sebulan selesai, tanpa ada perpanjangan waktu dari proyeknya. Fasitilitas yang ditawarkan adalah Wifi berkekuatan Fiber Optik, coffee, bisa mengakses keseluruh ruangan yang ada di Ev Hive, dan pas kalau ada event yang sedang berlangsung kita bisa ikut nimbrung didalamnya.

Sedang yang ketiga adalah Dedicated Desk, yang mana tipenya hampir sama dengan Flexi Desk, cuma proyeknya kita agak lebih lama. Kita bisa meletakkan sejumlah peralatan kantor, berupa computer beserta printernya, di meja khusus, dan juga diberikan locker. Harganya sebulan sebesar dua juta. Dan keempat adalah program private office. Ini untuk orang-orang yang lebih memilih supaya lebih menikmati privasinya dan merasa tidak terganggu dengan keberadaan tim penyewa lainnya. Harganya agak lebih mahal dari kedua program sebelumnya, berkisar 4 juta perbulannya.

The Maja (Coworking Space Pertama Ev Hive)


Dan sekarang Ev Hive punya 7 gerai lokasi, yakni Ev Hive The Maja (berada di Kebayoran lama); Ev Hive D. Lab dan DIMO yang posisinya berdekatan, ada di Menteng; JSC Hive yang ada di Jalan DrProf Satrio No. 7, karet Kuningan, Jaksel; Ev Hive Tower, yang berada di gedung Internasional Finance Center; The Brezee yang berada di BSD City, Tangerang; dan terakhir Ev Hive Satellite yang berada didalam Gedung Equity Tower lantai 8.

Membangkitkan Entrepreneur Baru


Melihat dunia perkembangan bisnis yang semakin melesat maju, dan aroma persaingan yang mungkin sangat kuat, adalah perlu bagi kita untuk bisa belajar dari orang-orang yang sudah sukses duluan membangun bisnisnya. Kesempatan belajar itu bisa kita dapatkan di tempat-tempat yang tentunya sudah ada penasehat bisnis kita. Dan itu bisa difasilitasi dengan adanya Coworking  space.

Coworking sebagai tempat untuk belajar dan berbagi bersama

Dengan Coworking  Space, memungkinkan kita bisa cepat berhasil. Apalagi bagi kita para pemula yang juga ingin mengembangkan bisnis dalam bidang e-commerce maupun dalam dunia jaringan teknologi internet. Tak percuma pemerintah kita, menjadikan orang sekelas Jack Ma menjadi penasehat bisnis e-commerce kita. Ketika ada banyak Coworking Space yang ditawarkan, memungkinkan kita dalam berbagai informasi dan data akan sangat cepat, dari satu orang ke orang lain.

Apalagi Ev Hive yang berada dipusat Ibukota Jakarta, dimana segala nama perusahaan maupun brand ada disana. Menjadikan Ev Hive sebagai rekan bisnis, dipastikan usaha kita akan semakin melejit perkembangannya.

Dalam membangkitkan perekonomian bangsa kita untuk semakin berada didepan, bidang-bidang e-commerce wajib kita dalami, dan kita kembangkan dengan semaksimal mungkin. Sudah ada mentor, sudah ada tempat seperti Coworking  space untuk memulai bisnis, saya kira itu langkah awal untuk bisa membangkitkan banyak para entrepreneur yang baru. Dan juga faktor yang paling utama adalah adanya kemauan dan bertindak langsung dalam mengeksekusi proposal usaha kita tersebut. Kalau modal saya kira mungkin ada diposisi ke empat dari syarat sebelumnya.


Jadi mari para generasi millennial maupun generasi Z, untuk bisa memasuki bidang baru ini. Sebab peluangnya sudah sangat terbuka dengan lebar. Pemerintah kita juga sangat peduli akan pengembangan ini. Yang pastinya kita akan banyak mendapatkan dukungan. Jadi sekali lagi jangan sia-siakan kesempatan baik ini.

do follow http://evhive.co

Jumat, 01 September 2017

Mereka Adalah Saudaraku (Solusi Mengatasi konflik di Rohingya)


Sungguh tragis melihat banyaknya upaya untuk menghilangkan rasa kemanusiaan itu. Meskipun itu dengan alasan ekonomi, alasan politik, bahkan dengan alasan berbeda agama. Tak patut untuk melegalkan usaha menghilangkan jiwa-jiwa yang sangat berharga. Sebab kehadiran setiap jiwa-jiwa ke dunia ini pasti punya misi khusus dari Sang Khalik diatas.

Setiap jiwa-jiwa itu berharga dan sangatlah berharga. Sebab kita pasti punya keunikan khusus dan tugas khusus yang mana orang lain tidak dipercayakan untuk hal itu. Menangis melihat saudara-saudaraku yang harus menempuh lautan yang luas dan ganas di Rohingya. Maupun saudaraku yang ada di Yaman, bahkan korban ISIS yang ada di Suriah. Menangis dan berdoa supaya mereka yang mengalaminya bisa dikuatkan dalam menghadapi hari-hari yang penuh dengan kekerasan. Penuh dengan intimidasi, penuh dengan pemaksaan bahkan pemerkosaan, penuh dengan sikap yang menyakiti dan tidak ada lagi rasa toleransi diantaranya. Hilangnya kasih diantara kita.

Banyak upaya-upaya penggiringan opini demi opini dalam menyikapi kasus-kasus yang ada di Rohingya, dan beberapa tempat yang lain. Banyak menambahkan bumbu-bumbu yang tak lagi sedap untuk bisa memantik rasa ego kemanusiaan ini. Berita Hoax bertebaran dimana-mana sehingga kita sulit membedakan mana yang asli dan mana yang palsu. Penyebar berita palsu tersebut mengharapkan munculnya suatu kekacauan di negeri yang diberikan kabar tersebut. Sehingga akhirnya banyak gerakan-gerakan yang mengatasnamakan dirinya dengan sebutan hastag #SaveRohingya dan berbagai hastag #Save-save lainnya.

Banyak yang terpancing dan membuat perlawanan bahkan kalau memungkinkan melakukan pembalasan di tempat kabar Hoax tersebut disebar. Tapi untungnya bangsa kita ini masih bisa menahan dirinya tuk bisa menyikapi dengan tepat dan sewajarnya saja.

Juga akhirnya muncul banyak stereotype atau sebutan-sebutan dalam upaya untuk menggolongkan berbagai macam jenis dan pola-pola orang tersebut. Mulai dari sebutan bumi datar, sumbu pendek, pakaian cinkrang dan sekarang dengan sebutan pentul korek. Orang-orang ini mendapatkan sebutan tersebut dikarenakan sikap dan pembawaan mereka yang selalu eksplosive atau meledak-ledak jika agamanya disentil sedikit saja maupun pimpinan ormasnya diserang ataupun dikata-katai.

Sebenarnya tidak menyetujui akan pelabelan rekan-rekan atau saudara-saudara kita ini. Terkesan merendahkan harkat dan martabat mereka. Yang seharusnya kita bisa merangkul mereka dan mencoba menjelaskan bagaimana yang sepatutnya. Tapi sepertinya sulit untuk bisa merangkul,dikarenakan kondisi hati dan pikiran mereka lagi tertutup dengan pemahaman egois mereka sendiri. Suatu pemahaman yang merasa dirinya yang paling benar dan orang lain salah.

Jadi teringat, dengan status teman seorang pengajar. Ketika memulai pelajaran, sang mahasiswi berkata :”Permisi ibu, kalau boleh tahu agamanya apa?”. Dia penuh selidik untuk bisa mengetahuinya. Tapi teman ini menjawab, “kalau masalah agama itu adalah antara urusanku dengan Tuhanku, nak.” Terus dia melanjutkan dalam komentnya, “Hari gini masih ngurusin agama. Apa ketika kamu dan aku beda agama, kamu tidak ikut matakuliahku,” Terkadang jadi lucu melihat sikap-sikap mereka seperti ini. Bahkan pernah melihat sikap mereka yang tidak mau hormat kepada bendera merah putih ketika sedang upacara bendera di sekolah. Dikatakan syirik. Terlalu ekstrim memandang keagamaan mereka,sehingga ketika melihat orang lain berbeda dengannya, berusaha untuk menjauhi dan tidak mau kenal, apalagi mau bersahabat.

Pengungsi Rohingya yang sedang berlayar

Kembali ke kasus Rohingya, memang menolak segala upaya pemerintah Myanmar yang berusaha meniadakan orang-orang Rohingya yang ternyata sudah puluhan tahun tinggal di wilayahnya mereka. Tapi Negara tidak menganggap mereka sebagai bagian dari orang-orang Myanmar. Pemerintah berusaha menghilangkan status kewarganegaraan dan hak-hak orang-orang Rohingya. Sehingga akhirnya terbentuklah orang-orang ekstrim dari Rohingya untuk bisa membalas perbuatan dan sikap tidak adil dari pemerintahan Myanmar. 

Sampai peraih dari Nobel Perdamaianpun, Ang Syu Kii tidak mau ambil pusing untuk membela orang-orang Rohingya. Terkesan mengabaikan dan mendukung pemerintahan untuk tetap melanjutkan aksinya dalam mengusir orang Rohingya. Bahkan beliau berpesan kepada orang-orang yang menuduhkan tudahan miring kepadanya untuk tidak ikut-ikut campur dalam rumah tangga  Bangsa Myanmar. Sebab bangsa kita semakin massif terus menerus membully sikap dan perbuatan pemerintah Myanmar. Berharap segera menghentikan tindakan mereka dalam menghabisi orang Rohingya.

Akhirnya negara kita diminta terlibat oleh badan PBB, untuk bisa segera menangani akan masalah ini. Tapi sepertinya akan menemui jalan buntu, sebab Negara kitapun tidak boleh mengganggu urusan rumah tangga orang lain. Kita hanya bisa melakukan usaha persuasif dan dialog supaya pemerintahan Myanmar segera menghentikan aksi mereka.

Pemerintah kita juga tidak mau kebablasan dalam mengendurkan jumlah imigran dari Rohingya untuk bisa ditampung di Negara tercinta ini. Hanya beberapa dari para pengungsi yang bisa diterima oleh pemerintahan bangsa kita. Buktinya Negara lain juga sepertinya melakukan hal yang sama. Seperti Bangladesh dan beberapa Negara tetangga lainnya. Berusaha mendeportasi kembali para pengungsi yang sudah mendarat di Negara Bangladesh.

Sebab masalah imigran menjadi masalah klasik hampir disetiap Negara. Negara sulit untuk bisa berbagi dengan orang-orang luar atau pendatang-pendatang yang berusaha mencari suaka ke negaranya. Padahal usaha dan perjuangan mereka untuk bisa berangkat dan tiba dinegara tujuan terus diupayakan. Resiko terkatung-katung ditengah laut dan tak sedikit pula yang akhirnya tenggelam dan akhirnya tewas sebelum tiba ke Negara yang dituju tersebut.

Orang Rohingya, orang Yaman, orang Suriah dan lain-lain adalah semua adalah saudaraku. Aku tidak menganggap, bahwa adanya hubungan persaudaaraan hanya dikarenakan adanya hubungan darah. Juga bukan karena berbeda dengan keyakinan yang kuanut, berbeda dengan suku ku, berbeda dengan bahasa sehari-hari yang kugunakan, maka aku akhirnya abai terhadap mereka. Hal yang mungkin bisa aku lakukan bagi mereka adalah berdoa kepada mereka supaya mereka bisa dikuatkan dalam menghadapi perjuangan keras hidup ini.

Sebab Tuhan juga berpesan, untuk tidak abai kepada orang-orang seperti ini. Yakni, orang-orang janda, anak-anak yatim, dan orang-orang asing. Mereka ini wajib hukumnya untuk dilindungi dan bahkan ditolong untuk bisa keluar dari permasalahan hidup mereka. Para janda dan anak yatim, it’s okay tidak ada masalah. Tapi yang menjadi permasalahan dan terus dilupakan serta tidak perlu mendapatkan penanganan dengan segera adalah hak orang asing.

Kita cenderung mengabaikan orang-orang asing yang bahkan mungkin sedang berada diemperan-emperan kota kita. Padahal mereka sedang mencari perlindungan untuk bisa melanjutkan hidup ini. Mereka dipastikan akan mendapatkan kesulitan untuk bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari. Perlu ditolong diawal masa perjalanan hidup mereka. Tapi ketika akhirnya sudah mapan, disitulah tugas kita dinyatakan sudah selesai.

Konflik kemanusiaan di Rohingya sebetulnya tidak perlu terjadi seandainya punya pemahaman sederhana seperti ini. Mereka adalah saudaraku, meskipun mereka adalah orang asing, tapi mereka tetap adalah saudaraku. Baik ketika datangnya konflik, tidak langsung serta merta harus membesar-besarkannya. Mari mencari solusi atas setiap permasalahan yang ada tersebut. Sebab tidak ada masalah yang begitu sukar untuk bisa diselesaikan. Ketika adanya komunikasi yang terbuka diantara kedua belah pihak, dipastikan masalah itupun akan terselesaikan dengan baik.

Kemudian sikap memberi label atau stereotype  kepada orang-orang tertentu, marilah kita hindarkan. Supaya kita bisa hidup saling berdampingan satu sama lain. Kita tidak mungkin selalu sama dalam menyikapi suatu hal. Pasti ada namanya perbedaan sikap, pikiran, maupun pendapat. Tapi itu bukan menjadi pemisah persaudaraan yang sudah kita jalin selama ini.

Mari kita mengelola dengan baik setiap perbedaan-perbedaan yang ada. Apalagi bangsa kita sendiri adalah bangsa begitu kayanya akan kebudayaannya, begitu banyaknya pulau-pulau, dan begitu banyaknya bahasa, serta suku-suku bangsanya. Perbedaan dan kekayaan itu bukan menjadikan kita malah semakin terpisah dan akhirnya menjauh. Seperti yang disampaikan Bapak Jokowi pada acara Idul Adha di alun-alun kota Sukabumi (1/9). Pesan bahwa bangsa kita adalah bangsa yang besar, dan ini disampaikan beliau dimana-mana. Kemudian menegaskan dengan sangat bahwa kita adalah saudara. Saudara sebangsa dan setanah air.

Dan ketika kita sudah sukses mengolah setiap perbedaan-perbedaan yang ada di tanah air kita, kemudian kita akan bisa bersuara dengan tegas kepada bangsa-bangsa yang lain. Juga akhirnya kita bisa memberikan contoh yang baik kepada Negara-negara tetangga kita yang ada dan bahkan didunia. Ternyata Indonesia sudah sukses mengelolah bangsanya. Indonesia sudah tidak terjadi lagi pemaksaan kehendak, di Indonesia sudah tidak terjadi lagi penutupan tempat-tempat ibadah, sebab rakyatnya sudah rukun dan hidup berdampingan.


Doa Bersama Lintas Agama

4 Aspek Ancaman di Hidup Kita dan Covid 19

(Hizkia Bagian satu- Yesaya 36) Siapa yang tidak pernah mendengarkan kata-kata ancaman dalam tiap kehidupan kita? Bisa dipastika...